DUMAI, (RA) - Di balik kepulan asap industri dan deru truk pengangkut minyak sawit yang menjadi urat nadi Kota Dumai, terselip sebuah gang sempit bernama Jalan Muslim di Kelurahan Jaya Mukti. Di sana, kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan kenyataan pahit yang harus ditelan keluarga Jarno setiap harinya.
Harapan untuk melihat anak-anaknya meraih masa depan yang lebih baik nyaris padam ketika beban ekonomi memaksa putra sulungnya, Adnan Hidayat, berniat menanggalkan statusnya sebagai pelajar karena tak mau ke sekolah.
Adnan, seorang remaja yang seharusnya bangga menapakkan kaki di bangku kelas 2 SMA, justru menyimpan luka batin yang dalam setiap kali lonceng sekolah berbunyi.
Rasa malu yang menghimpit membuatnya enggan melangkah ke kelas, bukan karena malas, melainkan karena ia tidak memiliki seragam SMA. Setiap hari, ia terpaksa membungkus tubuhnya dengan seragam SMP yang sudah kekecilan dan lusuh, ditambah lagi beban tunggakan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang tak sanggup dibayar oleh orang tuanya.
Kondisi pilu ini berawal saat Jarno, sang kepala keluarga, mengalami musibah patah kaki yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk mencari nafkah. Kini, tumpuan hidup berpindah ke pundak istrinya yang bekerja serabutan sebagai tukang cuci pakaian.
Dengan penghasilan yang tak menentu dan harus menghidupi lima orang anak, urusan perut menjadi prioritas tunggal, sementara seragam dan peralatan sekolah menjadi kemewahan yang terpaksa dikorbankan demi sebungkus mi instan.
Kabar tentang perjuangan sunyi keluarga ini akhirnya sampai ke telinga Kapolres Dumai, AKBP Angga Febrian Herlambang. Tanpa menunda waktu, pada Kamis sore (5/2/2026), rombongan kepolisian langsung membelah keramaian kota menuju kediaman Jarno.
"Jadi abangnya yang SMA, Adnan, gak mau sekolah gara-gara gak punya buku LKS, udah gitu dia sekolah SMA tapi pake bajunya SMP," ujar Angga Jumat (6/2/2026).
Niat awal yang hanya ingin mengecek informasi tentang anak-anak berseragam lusuh, berubah menjadi suasana emosional saat sang Kapolres menyaksikan sendiri kenyataan di lapangan yang jauh lebih menyayat hati.
Di dalam rumah yang sederhana itu, AKBP Angga mendapati fakta bahwa Adnan benar-benar telah kehilangan kepercayaan diri untuk bersekolah. Pemandangan kian menyesakkan saat rombongan melihat keluarga tersebut hanya mampu menyajikan mi instan sebagai menu makan siang.
Tidak ada gizi yang seimbang, yang ada hanyalah upaya untuk sekadar menyambung napas di tengah himpitan biaya hidup yang kian mencekik.
"Pendidikan tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi masa depan mereka hanya karena urusan biaya," tegas AKBP Angga dengan nada bicara yang bergetar karena empati.
Ia segera menginstruksikan jajarannya untuk memutus rantai kesulitan yang membelit Adnan dan adik-adiknya. Perintahnya jelas, semua kebutuhan sekolah ketiga anak Jarno harus dipenuhi saat itu juga agar mereka tidak lagi merasa minder atau rendah diri di hadapan kawan-kawannya.
"Solusi konkret untuk Adnan, kami memesankan seragam SMA lengkap beserta baju Pramuka yang dijahit khusus agar pas di badannya, lengkap dengan sepatu dan tas baru," kata Angga.
Sementara itu, adik-adiknya, Salsabila dan Azka, juga mendapatkan paket perlengkapan sekolah dasar hingga stok buku tulis yang melimpah. Bantuan ini bukan sekadar barang, melainkan pesan kuat bahwa mereka tidak sendirian dalam berjuang menuntut ilmu.
Tak berhenti pada urusan sekolah, Kapolres juga membawa hadiah untuk dapur keluarga Jarno agar mereka tak lagi hanya bergantung pada mi instan. Beras seberat 30 kg, telur, minyak goreng, gula, hingga susu bubuk dan makanan kaleng diserahkan sebagai stok pangan yang layak.
Tak lupa, tali asih berupa uang tunai dan bantuan token listrik juga diberikan untuk memberikan ruang napas bagi Jarno agar bisa fokus memulihkan kondisi fisiknya tanpa harus memikirkan tagihan bulanan.
Kini, awan mendung yang sempat menggelayuti masa depan Adnan perlahan tersingkap. Dengan seragam baru yang rapi dan perut yang tak lagi keroncongan, Adnan dan adik-adiknya kembali memiliki keberanian untuk bermimpi besar.
"Sudah saya sampaikan ke anak-anak agar tetap sekolah, semangat belajarnya. Kalau ada yang kurang-kurang lagi, sampaikan ke saya, akan dicukupi," kata Angga.
Langkah humanis dari Polres Dumai ini menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk industri minyak, kepedulian terhadap sesama tetap menjadi energi paling murni yang mampu mengubah hidup seseorang.