Persiapan Siapa Pendamping Anies Baswedan Mendekati Final

Persiapan Siapa Pendamping Anies Baswedan Mendekati Final
Anies Baswedan Capres Nasdem (ist)

Riauaaktual.com - Pengamat politik Jamiluddin Ritonga menyebut persiapan yang ditangani tim kecil antara PKS, Demokrat dan Nasdem, sudah mendekati final.

Persiapan deklarasi koalisi dinilai sudah matang. Dan salah satunya soal siapa pendamping Anies Baswedan sebagai cawapres dari koalisi ini.

Menurut Ritonga, koalisi perubahan yang diinisiasi Partai Nasdem, Demokrat, dan PKS, akan sulit dibubarkan.

Prediksi koalisi itu tetap kuat meski hingga saat ini belum mendeklarasikan koalisi secara permanen.

Jamiluddin Ritonga mengatakan, sejauh ini tim kecil dari tiga partai terus berkomunikasi untuk mematangkan pembentukan koalisi perubahan.

Bahkan, ia menerima informasi tentang persiapan yang ditangani tim kecil sudah mendekati final.

Diungkapkan Jamiluddin, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri, dan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, sudah siap untuk bertemu.

“Pertemuan tiga petinggi partai itu hanya menunggu kepulangan Surya Paloh dari Eropa,” ucap Pengamat Politik Universitas Esa Unggul ini, Minggu (15/1).

Jadi, kata Jamiluddin, kalau tiga petinggi partai sudah mau untuk bertemu, artinya persiapan deklarasi koalisi dinilai sudah matang.

“Apalagi SBY, sosok sangat hati-hati dan penuh pertimbangan, tidak akan mau bertemu dengan petinggi Nasdem dan PKS bila belum ada kesepakatan dan kepastian terbentuknya koalisi,” jelasnya sebagaimana dikutip dari Pojoksatu.id.

Sementara itu Ikhwan Arif mengatakan, ada kalkulasi politik di balik penentuan nama tokoh pendamping Anies Baswedan yang akan diplot sebagai cawapres dari koalisi ini.

“Poros perubahan sudah membentuk tim khusus setelah Nasdem mendeklarasikan nama Anies sebagai bakal capres. Ini merupakan keseriusan ketiga partai dalam membentuk poros koalisi,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Power, Ikhwan Arif, Jumat (13/1).

Ada kalkulasi politik di balik penentuan nama tokoh pendamping Anies, sehingga menjadi titik tumpu ketiga partai membangun poros koalisi.

Ketiga partai dinilai sulit berpisah lantaran Demokrat dan PKS akan mendapatkan efek elektoral ketika mendukung Anies sebagai capres, dibandingkan mendukung tokoh lain di luar poros perubahan.

Apalagi PKS dan Demokrat dinilai sebagai partai yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintah sehingga sulit bagi kedua partai untuk hengkang dan bergabung ke koalisi lain.

“Citra partai politik akan dipertaruhkan dalam memilih figur pendamping Anies. Jika yang dipilih dari nonpartai, citra partai akan meredup. Dampaknya akan mengurangi suara partai di Pemilu 2024,” tegasnya.

Berita Lainnya

index