Jaksa KPK Eksekusi GM PT Adimulya Agrolestari

Jaksa KPK Eksekusi GM PT Adimulya Agrolestari
Ilustrasi petugas KPK (int)

Riauaktual.com - Sudarso telah dieksekusi Komisi Pemberantasan Korupsi ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Sukamiskin, Bandung. Eksekusi ini dilakukan lantaran putusan General Manager PT Adimulya Agrolestasi telah inkrah atau memiliki kekuatan hukum tetap.

Sudarso merupakan terpidana pemberian suap Rp500 juta kepada Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) nonaktif Andi Putra. Uang itu sebagai pelicin pengurusan Hak Guna Usaha (HGU) lahan sawit milik PT AA di Kota Jalur.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbar diketuai Dahlan memvonis Sudarso dengan hukuman 2 tahun penjara pada, Senin (28/3). Atas hukuman itu diterima Sudarso.

Pelaksana tugas (Plt) Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan eksekusi dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum KPK, Eva Yustisiana. Sudarso dibawa dari Rutan KPK pada Pomdam Jaya Guntur ke Lapas Sukamiskin Kelas I pada Rabu (13/4/).

"Jaksa eksekutor telah melaksanakan putusan  Pengadilan Tipikor pada PN Pekanbaru Nomor : 1/Pid.Sus-TPK/2022/PN.Pbr tanggal 28 Maret 2022 dengan terpidana Sudarso yang berkekuatan hukum tetap," ujar Ali Fikri, Jumat (15/4).

Selain penjara, majelis hakim juga menghukum Sudarso membayar denda  sebesar Rp200 juta. Dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan maka diganti dengan pidana kurungan badan selama 4 bulan. "Menjalankan hukuman 2 tahun, dipotong masa tahanan yang sudah jalani," kata Ali Fikri.

Sebelumnya, JPU Meyer Volmar Simanjuntak menuntut Sudarso dengan hukuman penjara selama 3 tahun. Sudarso  juga dituntut membayar denda Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan badan 

Sudarso terbukti bersalah melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Untuk diketahui, JPU KPK dalam dakwaannya menyebutkan, perbuatan terdakwa memberikan suap kepada Bupati Kuansing Andi Putra terjadi medio September-Oktober 2021 lalu. Berawal ketika itu, izin HGU kebun sawit PT Adimulia akan berakhir tahun 2024 mendatang. Ada tiga sertifikat PT AA yang akan berakhir. Tiga sertifikat itu berada di Desa Sukamaju Kecamatan Singingi Hilir.

Frank Wijaya selaku Komisaris PT AA sekaligus pemilik (beneficial owner) meminta Sudarsoi untuk mengurus perpanjangannya. Atas permintaan tersebut, kemudian Sudarso memulai proses pengurusan perpanjangan Sertifikat HGU PT AA.

Sudarso yang sudah lama mengenal Andi Putra sejak masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Kuantan Singingi, lalu melakukan pendekatan. Dari pertemuan antara terdakwa dengan Andi Putra, disepakati Bupati Kuansing itu akan menerbitkan surat rekomendasi persetujuan.

Namun syaratnya, PT Adimulia Agrolestari diminta memberikan uang kepada Andi Putra. Atas laporan terdakwa tersebut, Frank Wijaya menyetujui untuk memberikan uang kepada Andi Putra agar surat rekomendasi dapat segera keluar.

Masih dalam bulan September 2021, Andi Putra meminta uang kepada terdakwa sebesar Rp1,5 miliar, dalam rangka pengurusan surat rekomendasi pesetujuan tentang penempatan lokasi kebun 
kemitraan/plasma di Kabupaten Kampar. Atas permintaan Andi itu, terdakwa melaporkan kepada Frank Wijaya.

Kemudian Frank Wijaya menyetujui dan menyepakati untuk memberikan uang secara bertahap. Saat itu Frank menyetujui untuk memberikan uang sebesar Rp500 juta.

Selanjutnya, pada tanggal 27 September 2021 Sudarso meminta Syahlevi Andra membawa uang Rp500 juta yang telah disiapkan ke rumah terdakwa di Jalan Kartama Gang Nurmalis No 2 RT.002 RW 021 Kelurahan Maharatu, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru. Uang tersebut diberikankepada Andi Putra melalui supirnya Deli Iswanto.

Lalu, pada tanggal 18 Oktober 2021, Sudarso meminta Syahlevi selaku kepala kantor PT Adimulia Agrolestari untuk mencairkan uang sebesar Rp250 juta sebagaimana permintaan Andi Putra.  Ketika itu, Andi Putra meminta terdakwa mengantarkan uang itu ke rumahnya di Jalan Sisingamangaraja Nomor 9 Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi.

Sudarso bersama Paino dan Yuda Andika berangkat menuju ke rumah Andi Putra, dengan menggunakan mobil Toyota Hilux warna putih dengan Nopol BK 8900 AAL. Namun setelah pertemuan dengan Andi Putra itu, terdakwa Sudarso ditangkap oleh petugas KPK.

Karena Sudarso diamankan oleh Petugas KPK, selanjutnya Frank Wijaya memerintahkan Syahlevi untuk menyetorkan kembali uang kepada Andi Putra sebesar Rp250 juta. Uang itu dari rekening PT AA.

Berita Lainnya

View All