Akibat Ulah Omicron, Salat Depan Ka’bah Renggang Lagi

Akibat Ulah Omicron, Salat Depan Ka’bah Renggang Lagi
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menerapkan kembali aturan pembatasan sosial saat salat. (Foto: AFP)

Riauaktual.com - Gara-gara varian Omicron, kasus Covid-19 di Arab Saudi kembali melesat. Kerajaan Saudi pun kembali mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial. Salah satu kebijakan yang bikin sedih, salat di depan Ka’bah kini harus renggang lagi.

Sepekan terakhir, kasus Corona di Saudi tercatat meningkat dua kali lipat. Awal pekan lalu, baru ada penambahan kasus baru sebanyak 389. Sementara 24 jam terakhir, dilaporkan ada 744 kasus infeksi baru dan 1 kasus kematian.

Jumlah itu menjadi rekor tertinggi sejak beberapa bulan terakhir. Sebab, sejak September lalu, Saudi berhasil mengendalikan infeksi Corona dengan mencatat infeksi harian di bawah 100 kasus hingga pertengahan Desember.

Menanggapi perkembangan tersebut, pihak kerajaan menerapkan kembali aturan pembatasan sosial. Seperti dikutip Saudi Gazette, Pengurus Dua Masjid Suci mengumumkan kewajiban menggunakan masker dan menjaga jarak fisik di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Aturan tersebut mulai berlaku pada Kamis (30/12) pukul 07:00. Dengan aturan ini, salat di Masjidil Haram kembali renggang. Tak hanya untuk salat, aturan jaga jarak juga berlaku saat melakukan tawaf atau mengelilingi Ka’bah.

“Jemaah diharapkan mematuhi waktu masuk berdasarkan jadwal yang telah ditentukan, baik untuk salat maupun umrah, yang tertera di aplikasi Eatmarna dan Tawakkalna,” begitu keterangan dari Otoritas Dua Masjid Suci, kemarin sebagaimana dilansir dari RM.id.

Selain di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Saudi juga menerapkan pengetatan protokol kesehatan ini di seluruh wilayah kerajaan, baik tempat terbuka maupun tertutup.

Menteri Kesehatan Arab Saudi, Fahd Al-Jalajil menyerukan, kepada seluruh warga untuk segera menerima dosis booster vaksin Corona untuk mengurangi risiko terinfeksi Covid-19, terutama varian Omicron. “Untuk menghadapi fase pandemi ini, kita sangat bergantung pada kesadaran masyarakat,” kata Al-Jalajil.

Kabar ini tentu bikin sedih para jemaah. Soalnya, pada pertengahan Oktober lalu, Kerajaan telah mencabut larangan pembatasan sosial. Dengan kebijakan itu, salat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sudah bisa merapatkan saf. Bersamaan dengan pengumuman itu, video petugas mencabut sticker menjaga jarak yang menempel di lantai masjid dilepas oleh petugas.

Lalu bagaimana kabar umrah? Arab Saudi sebenarnya sudah membolehkan jemaah asal Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah. Namun, pemerintah memutuskan untuk menunda keberangkatan jemaah di akhir tahun karena merebaknya varian Omicron di sejumlah negara.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy sebelumnya mengatakan, tak akan menyia-nyiakan kesempatan umrah yang diberikan oleh Arab Saudi. Apalagi, banyak warga Indonesia yang menginginkan kesempatan ini. Untuk itu, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) agar calon jemaah bisa segera berangkat awal tahun depan.

Ketua Komisi VIII DPR, Yandri Susanto mengungkapkan, Kemenag berencana memberangkatkan jemaah umrah pada Januari 2022. Salah satu syarat yang harus dipenuhi ialah aplikasi PeduliLindungi dan Tawakkalna harus sudah tersinkronisasi. Selain itu, manasiknya sudah disesuaikan dengan manasik di zaman pandemi.

Nah, kata dia, persoalannya, aplikasi PeduliLindungi itu belum terkoneksi dengan aplikasi milik Saudi. Karena itu, Yandri minta Kementerian Kesehatan segera menuntaskan pekerjaan rumah tersebut.

“Kita minta ke Menkes, kalau benar-benar tuntas ya perlu di-launching, perlu dipublikasikan dan perlu disampaikan ke jemaah umrah maupun ke masyarakat secara umum,” kata Yandri.

Sementara itu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut mengatakan, akan menyusun aturan terkait umrah di tengah peningkatan kasus Omicron.

Yaqut mengatakan, protokol kesehatan akan tetap diberlakukan dengan ketat. Selain itu, tidak ada dispensasi penerapan protokol bagi para jemaah umrah.

“Kami persiapkan peraturan di Tanah Air dan Saudi. Kami akan sesuaikan,” kata Yaqut, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin.

Kementerian Agama juga telah menggelar rapat dengan Asosiasi Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Asosiasi PPIU mendukung imbauan pemerintah untuk menunda keberangkatan ke luar negeri.

Berita Lainnya

View All