Ilustrasi mata uang Ether. Pexel, CC BY-SA

Berikut Faktor Ethereum Bisa Menjadi Pilihan Investasi yang Lebih Baik Dibanding Bitcoin

Sabtu, 15 Mei 2021 - 21:00:39 WIB Di Baca : 1507 Kali


Riauaktual.com - Bagi yang ingin berinvestasi kini selain instrumen konvensional seperti saham dan emas, investasi melalui crypocurrency atau mata uang digital juga tengah naik daun.

Anak muda saat ini sedang melirik investasi yang lebih “likuid” atau mudah diperjualbelikan. Selain saham, mereka juga akan cocok berinvestasi di sektor mata uang kripto.

Sudah banyak aplikasi seperti Pluang dan Pintu yang mendukung investasi di sektor mata uang kripto. Anda bisa memaksimalkannya sebagai tambahan investasi yang menjadi peluang saat ini dan masa depan.

Untuk mata uang kripto, dua jenis investasi yang populer adalah Bitcoin dan Ether atau sering disingkat ETH. Ether, uang digital terbesar kedua setelah Bitcoin telah mengalami kenaikan dari Rp 45.000 per keping pada 2015 ke saat ini yang mencapai lebih dari Rp 60 juta per kepingnya atau telah naik 133.233%.

Ether merupakan mata uang di platform open source atau sumber terbuka. Ethereum memiliki beberapa keunggulan seperti smart contract dan akan berevolusi ke Ethereum 2.0 yang membuatnya bisa menjadi pilihan investasi kripto yang lebih baik dibandingkan Bitcoin.

Ilustrasi harga Ethereum. Pexel, CC BY

Ethereum memiliki fitur lebih dan belum sejenuh Bitcoin

Seorang programmer atau pembuat aplikasi asal Rusia-Kanada Vitalik Buterin menciptakan Ethereum pada 2013 ketika masih berusia 19 tahun dan akhirnya diluncurkan tahun 2015.

Tujuan Vitalik menciptakan Ethereum adalah agar ada lingkungan demokratis di mana-mana. Mulai dari bisnis, organisasi, hingga mata uang, tak ada satu pihak pun yang benar-benar mengendalikan semuanya.

Sama seperti Bitcoin, Ethereum menggunakan teknologi Blockchain, yaitu sebuah sistem pencatatan di buku besar digital yang tidak dapat diubah maupun dihapus keaslian catatannya.

Namun Ethereum memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan Bitcoin.

Ethereum lebih menjanjikan karena memiliki kelebihan-kelebihan yang pada masa depan diperkirakan akan mampu mengimbangi pesatnya Bitcoin – khususnya ketika orang-orang mulai jenuh dengan Bitcoin.

Ethereum memiliki fitur hampir sama dengan Bitcoin, yaitu kemampuan menciptakan mata uang kripto dalam bentuk “token”, sehingga bisa digunakan untuk melakukan transaksi dengan batasan-batasan tertentu.

Bedanya Ethereum memiliki fitur yang bernama “smart contracts” yang bisa dijalankan secara otomatis.

Smart contract adalah pengaplikasian kode di Blockchain yang bertujuan untuk mengikat perjanjian atau kesepakatan antara beberapa pihak.

Ketika seseorang telah membuat kontrak maka ia tidak bisa diubah lagi. Pembuat kontrak hanya bisa membiarkan atau menjalankannya sesuai ketentuan yang ada. Sehingga pembeli atau penjual mendapatkan sebuah transaksi yang lebih aman.

Dengan smart contract, Ethereum dapat digunakan tidak hanya di lingkungan mata uang kripto namun bisa diterapkan di sektor lain. Sebagai contoh, Ethereum sangat cocok dan sudah mulai diaplikasikan di perusahaan-perusahaan terutama yang bergerak manajemen rantai pasok.

Ethereum juga akan segera mengalami evolusi ke Ethereum 2.0 yang membuatnya lebih efisien dan memiliki kapasitas untuk transaksi yang lebih besar yang mencapai lebih dari ribuan transaksi per detik.

Pada evolusi ini Ethereum 2.0 akan menggunakan teknologi decentralized finance atau DeFi, sistem keuangan terbuka yang para pengembang bisa memasukkan logika keuangan ke dalam Blockchain. DeFi dirancang untuk memecahkan masalah industri keuangan konvensional yang tertutup dan sangat tersentralisasi.

Selain itu Ethereum 2.0 juga akan mempunyai jaringan yang cepat dan biaya yang lebih murah. Ethereum 2.0 bisa lebih murah karena mengubah algoritme pembuatan uang digitalnya dari proof of work (menambang) menjadi proof of stake (menjaminkan).

Proses Proof of Work atau menambang di Bitcoin dan juga Ethereum berfungsi untuk memastikan keabsahan suatu transaksi atau menghindari sesuatu yang disebut pengeluaran ganda. Ketika berhasil, maka si penambang akan diberi imbalan oleh sistem berupa uang kripto yang baru.

Untuk proses ini seorang penambang membutuhkan komputer yang sangat kuat yang bisa mencapai harga Rp 150 juta, karena aktivitas menambang membutuhkan daya komputasi yang besar. Proses ini pun memakan sumber daya listrik yang besar karena komputer harus bekerja 24 jam, sehingga menciptakan tagihan listrik yang besar dan tentunya tidak ramah lingkungan.

Sedangkan dalam proses proof of stake, seseorang bisa hanya menggunakan smartphone dan koneksi internet cepat untuk menjaminkan mata uang kriptonya untuk memeriksa sebuah transaksi dan mendapatkan imbalan jika berhasil. Sebaliknya jika ia mengesahkan transaksi yang tidak sah, maka ia akan kehilangan aset yang ia jaminkan. Proses ini tidak membutuhkan komputer yang kuat dan mahal.

Saat ini Ethereum masih melalui tahapan-tahapan untuk mencapai evolusi tersebut, dengan tahapan pertama yang telah dimulai pada Desember tahun lalu.

Bagaimana kita bisa mulai berinvestasi

Saat ini, Bitcoin dan Ethereum memiliki persaingan harga yang cukup ketat. Hal ini akan berpengaruh kepada investor yang harus memilih yang mana yang paling baik.

Mata uang kripto secara umum adalah investasi yang berisiko tinggi karena sangat fluktuatif.

Karena itu, investor perlu mempelajari secara cermat jenis investasi yang akan dipilih.

Di samping itu, investasi di pasar Ethereum masih termasuk kategori “virtual” sehingga nilai aset akan sangat tergantung dengan sentimen pasar. Ini sedikit berbeda dengan investasi dalam bentuk fisik (saham atau emas) karena kita dapat melihat dengan bentuk fisik nilai aset tersebut.

Karena itu, investor harus jeli mengamati pergerakan mata uang kripto tersebut, segera ubah atau jual kembali jika terdapat indikasi akan terjadi penurunan nilainya.

Pengendalian investasi ada pada individu, maka memahami dengan baik investasi yang dipilih menjadi syarat investasi itu akan berhasil atau tidak.

Bagi generasi muda yang akan berinvestasi, mulailah dengan investasi dengan nilai terendah. Lakukan secara bertahap hingga mencapai titik yang diinginkan guna mengurangi risiko yang akan terjadi.

Dan perlu diingat juga bahwa kita sebaiknya berinvestasi di perusahaan yang tercatat di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti), agar mempermudah investor karena akan didampingi jika mengalami masalah atau kerugian.

 

 

Sumber: theconversation.com





Tulis KomentarIndex
Follow Kami Index
FOLLOW Twitter @riauaktual dan LIKE Halaman Facebook: RiauAktual.com