Ingin Keluarga Sakinah, Ikuti Teladan Rasulullah

Ingin Keluarga Sakinah, Ikuti Teladan Rasulullah
illustrasi (int)

SEBAIK-baik teladan adalah Rasulullah SAW. Ini seperti ditegaskan dalam surah al-Ahzab ayat 21. Dosen Universitas Djuanda (Unida) Bogor Ustaz Hasan Basri Tanjung MA mengatakan, keteladanan itu bersifat integral dan menyeluruh, mencakup segala dimensi kehidupan, tak terkecuali rumah tangga. Rasul adalah suami sekaligus ayah yang sukses.

Dalam berumah tangga, kata Hasan, betapa Rasulullah sangat menghargai dan memuliakan istrinya. “Sebaik-baiknya kamu adalah yang terbaik kepada istrimu. Ungkapan ini menunjukkan betapa besarnya penghargaan Rasulullah kepada istrinya.”

Meskipun berposisi sebagai kepala rumah tangga, Rasulullah tidak pernah merepotkan istri dan anak-anaknya. Rasul, tidak malu menjahit sendiri pakaiannya yang robek, membetulkan sandalnya yang rusak, dan mengerjakan pekerjaannya sendiri tanpa menyusahkan istrinya. Bahkan, menurut riwayat, Rasulullah tidak segan membantu keperluan istrinya.

Sebagai suami, Muhammad dikenal sangat sayang kepada anak-anaknya. Dalam keadaan shalat, Rasulullah memperlambat sujudnya. Ini karena kedua cucunya sedang asyik bermain naik di punggungnya. “Ini adab yang ditanamkan Rasulullah kepada anak-anak dan cucunya. Rasulullah pun selalu memeluk dan mencium anak-anak dan cucunya,” ujar Hasan.

Sebagai manusia biasa, bukan berarti rumah tangga Rasulullah tanpa goncangan. Musibah datang ketika istrinya Aisyah difitnah berselingkuh dengan sahabatnya. Langkah yang dilakukan Nabi, memohon petunjuk kepada Allah dan klarifikasi (tabayyun). Turunlah wahyu yang membersihkan nama baik Aisyah. Rasulullah berhasil menyelesaikan urusan rumah tangga sendiri tanpa harus melibatkan banyak pihak. “Hal ini harusnya menjadi contoh bagi umat islam, ketika ada konflik keluarga selesaikan seperti yang dilakukan Rasulullah,” paparnya.

Momentum Maulid Nabi sepatutnya, kata Hasan, bukan sekadar seremonial, tetapi yang utama merenungi dan memaknai nilai-nilai kepribadian Rasulullah. Karena, hal tersebut kini dirasakan semakin jauh dilakukan umat Islam.

Langkah kecil yang bisa dilakukan, kata Hasan, dengan rajin membaca Sirah Nabi. Apa pun berkenaan Nabi, termuat di buku tersebut dan bisa dijadikan suri teladan. Siapa pun yang mengharapkan ridha Allah, jadikan Rasulullah sebagai suri teladannya.

Oleh karenanya, setiap tindakan, perilaku, dan perbuatan harus mengacu kepada apa yang dilakukan Rasulullah. “Seperti ditegaskan ayat 21 surah al-Ahzab,” kata pimpinan Yayasan Pendidikan Islam Dinamika Umat Kemang Bogor, Jawa Barat, ini.

Rasulullah, kata Ustaz Ahmad Ahidin, memiliki sikap yang luar biasa terhadap keluarga. Rasul tidak diktator, sangat memahami istrinya, sayang terhadap anak-anak dan keluarga. Makanya, cucu-cucu Rasululah SAW sangat betah berada dipangkuan kakeknya yang sangat menyayanginya.

Ahmad bertutur, Rasulullah pernah pulang dari masjid dan istrinya Aisyah sedang tidur terlelap. Rasulullah tidak marah-marah, menggedor-gedor pintu agar istrinya bangun. Dengan bijak, Rasulullah membiarkan istrinya istirahat dan Nabi memutuskan tidur di luar.

Riwayat lain mengisahkan, ketika Aisyah masak terlalu asin, Rasulullah tidak marah dan tetap menyanjung makanan buatan istrinya. Rasul tak berkomentar apa pun, ia tak menghabiskan makanan itu. Ini agar Aisyah merasakan makanan tersebut. Aisyah menyadari masakannya terlewat asin ketika mencoba sendiri. Begitu sopan santun Rasulullah menyampaikan kesalahan yang dilakukan istrinya.

Sebagai kepala keluarga, Rasulullah tidak banyak protes kepada istrinya. Segala hal dilakukan sendiri tanpa merepotkan sang istri karena Nabi Muhammad selalu menghargai perempuan, termasuk istri-istrinya. Rasulullah mampu mengendalikan kecemburuan Aisyah. Ini ketika suaminya tersebut menyanjung sosok Khadijah. “Kecemburuan itu berbalik menjadi cinta kasih,” kata lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ahmad Ahidin menilai, saat ini secara global umat Islam tidak lagi menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan keluarga. Contoh nyata, banyak pernikahan yang tak bertahan lama. Ini, antara lain, akibat motivasi menikah bukan lagi agama, tetapi lebih karena budaya. Jika Alquran dan hadis pedomannya, keluarga akan langgeng. “Karena tiap masalah pasti ada solusinya,” katanya.

Sebagai solusi, ungkapnya, kini mulai marak diadakan kajian, seminar berkaitan dengan ilmu parenting Islami. Dalam kajian tersebut, rumah tangga Rasulullah yang dijadikan suri teladan. Ia menilai, kegiatan tersebut positif dan bermanfaat. “Ada perubahan signifikan bagi suami-istri yang mengikuti kajian ini secara intensif,” tambah Ahidin yang aktif di RGI Al Azhar Peduli Ummah itu.

Sumber: Republika
Editor: Riki

Berita Lainnya

View All