OPINI

Cikal Bakal Negeri Ini Bakal Dicekal

Cikal Bakal Negeri Ini Bakal Dicekal
Riki Rahmat, S I Kom

Oleh : Riki Rahmat S I Kom

Melihat trend remaja masa kini yang lebih dominan bangga dengan aksi yang tidak layak dan gengsi dengan satusnya sebagai orang yang dimuliakan kaumnya, maka dipastikan generasi yang akan menjadi cikal bakal masa mendatang rentan bakal dicekal> Maksudnya adalah, generasi penerus Bangsa Indonesia tercinta ini kelak akan di cekal (cegah dan kawal), sebab, cikal bakal negeri kita sudah sangat untuk dipercaya.

Hal itu tentunya karena trend yang telah mendarah daging di tubuhnya, melakukan aksi anarkis kalau suatu kebijakan merugikan diri. Padahal, generasi pemimpin itu adalah generasi yang bijak sana dan berkepribadian luhur, serta sopan santun dalam ucapan. Kalau kita merujuk kepada aksi yang dilakukan para mahasiswa sebagai kaum intelektual negeri ini, apakah cikal bakal kita ini mempunyai potensi menjadi pemimpin di masa mendatang?

Jawabannya tentu tidak, bagaimana mungkin jiwa anarkis, premanisme, dan identik melontarkan carut marut propokatif, tentu hal ini menjadi kajian lagi, pasti cikal bakal ini bakal cekal jika maju menjadi pemimpin di negeri. Lalu, kalau tidak dengan berkoar-koar begitu, bagaimana mencari simpatik? Jawabannya ada pada tulisan diatas tadi, tidak perlu anarksi dan berkoar-koar saling menghasut, menjelek-jelekan orang lain, sesama manusia. Karena dalam ajaran setiap agama pasti menghujat orang lain itu tidak dibenarkan.

Jika kita bisa melebih lebih tenang dan mempunyai bijaksana, selanjutnya membicarakannya dengan pemilik kebijakan dalam sebuah rapat musyawarah untuk mencapai mufakat, tidak akan ada yang rugi pastinya. Fasilitas negeri tidak ada yang rusak, tidak ada yang tersakiti, apa lagi sampai terlibat baku hantam antara aparat sipil dengan mahasiswa dan pelajar. Ini bukan cotoh yang baik, jika kita bisa berpikir jauh ke depan, sadarkah kita, perang antara negeri luar dengan Indonesia masih berlanjut?.

Perang sekarang ini memang tidak seperti dulu lagi, dahulu perang menggunakan senjata untuk menyerang bangsa Indonesia, tapi perang dimasa sekarang dengan menggunakan rakyat Indonesia saja, mereka memerangi kita melalui budaya mereka, cara hidup mereka, sehingga Indonesia terjebak untuk ikut-ikutan. Padahal nurani bangsa luar itu sangat mengagumi Indonesia yang akur dan rukun dalam Bhineka Tunggal Ika sebagai simboyan persatuan.

Beralih kepada pembicaraan perperangan, anak bangsa ini selalu lebih memfokuskan perhatian kepada trend negeri luar, mulai dari cara hidup bermasyarakat, berkelompok, sampai kepada tindakan anarkis yang kita bicarakan tadi, bukan tidak ada pengaruhnya dengan trend orang luar itu, sehingga mahaiswa kita bersikap anarkis. Melihat negeri orang bentrok lempar batu dibalas meriam, maka remaja kita juga menerapkannya dalam negeri yang harmonis ini. Al hasil, kekacauan pun terjadi dan cikal bakal negeri juga masuk dalam perangkap negara lawan.

Lalu, apa lagi yang bisa dilakukan jika cikal bakal negeri ini bakal dicekal? Berbagai macam upaya pelanggaran, pelecehan, serta kemunafikan terhadap bangsa tercinta ini menjadi seperti tak terbedung lagi. Pemimpin dan rakyat bersikukuh pada prinsip masing-masing, pembangkangan terhadap kebijakan selalu terjadi, sehingga hukum juga diinterpensi kelompok dan golongan tertentu. Sekarang kita bertanya, kalau induknya ayam, tak mungkin anaknya itik. Makanya, kalau pemimpin kita saja sudah tak layak, bagaimana dengan rakyat. Jika memang ingin memperbaiki negeri, masih adakah keberanian kita seperti lagu kepahlawanan dulu, maju tak gentar membela yang benar, rela korbankan nyawa demi negeri tercinta? Saya rasa tidak, lagu sekrang judulnya 'wani piro', ada uang ada pelayanan, tak ada uang kita tak kenal. Entah lah.

Diparagraf terakhir ini sekiranya kita coba meragkai lagi peristiwa aneh, keterpurukkan moral bangsa, dan tindakan anak negri yang akan menjadi generasi penerus sudah brutal. Tentu tidak terlepas dari cikal bakal pemipin yang dulunya sempat dicekal, tidak dipercayai, dan menyimpan sejuta rahasia yang tersembunyi di balik kenyamanannya. Pandangannya penuh makna, siapa yang tahu kalau dia menyimpan sebuah bahasa 'jangan sampai ada yang tahu, mana jatah aku'. Kalau ingin memajukan bangsa ini, siapa yang berani memutuskan tali rantai bobroknya moral selama ini?, siapa yang mau berjuang untuk rakyat?, rakyat mana yang bisa percaya kepada pemimpin, dan negara apa yang percaya diri terhadap negaranya sendiri?, mendukung kebijakan tanpa membuat onar?. Mungkin jawaban dari pertanyaan itu adalah sedikit saran dari rakyat yang menonton kebobrokan yang terjadi di wilayah pancasila ini, semoga yang lain diam saja tak banyak bicara, karena bisa mengangkat kebobrokan cikal bakal lebih ke atas lagi dan bakal dicekal.***

Penulis adalah Jurnalis media masa di Pekanbaru, Riau

Berita Lainnya

View All