Pencarian

Podcast Kelupas

Merasa Sehat, Tapi Irama Jantung Tak Beres? Dokter Abdiyat Ungkap Faktanya di Podcast Riauaktual

Selasa, 29 September 2026 • 08:20:00 WIB
Merasa Sehat, Tapi Irama Jantung Tak Beres? Dokter Abdiyat Ungkap Faktanya di Podcast Riauaktual
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA dalam acara Podcast KELUPAS Riauaktual.com

PEKANBARU (RA) - Gangguan irama jantung atau atrial fibrilasi (AF) perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, kondisi ini kerap tidak disadari penderitanya, tetapi dapat meningkatkan resiko terjadinya stroke.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Abdiyat Sakrie, Sp.JP, FIHA, menjelaskan atrial fibrilasi merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung yang ditandai dengan detak jantung tidak beraturan.

Hal itu disampaikannya dalam Podcast KELUPAS Riauaktual.com dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.

Menurut Abdiyat, atrial fibrilasi berbeda dengan hipertensi maupun stroke. Istilah tersebut memang terdengar asing bagi masyarakat karena menggunakan terminologi medis. Sederhananya, atrial fibrilasi merupakan gangguan pada irama jantung.

"Kalau dibilang hipertensi, masyarakat pasti sudah ingat, itu darah tinggi. Kalau stroke berarti ada masalah penyumbatan atau pecah pembuluh darah di kepala. Nah, kalau atrial fibrilasi ini bahasa awamnya gangguan irama jantung," jelas dr Abdiyat.

Ia mengatakan atrial fibrilasi menjadi perhatian khusus bukan karena memiliki tingkatan tertentu dibanding penyakit lain, melainkan karena dampak yang dapat ditimbulkannya.

Menurutnya, gangguan irama jantung ini bahkan dibahas secara khusus dalam tata laksana penyakit jantung karena dampaknya cukup besar terhadap kondisi kesehatan pasien.

Abdiyat menjelaskan, atrial fibrilasi terjadi ketika salah satu ruang jantung, yakni atrium, mengalami gangguan aktivitas listrik.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti listrik yang mengalami korsleting. Akibatnya, atrium tidak lagi berdetak secara teratur, melainkan mengalami fibrilasi atau bergetar.

"Ada listrik di jantung, listriknya korslet. Sehingga ruangan jantung itu tidak berdetak reguler sebagaimana mestinya. Dia malah terjadi fibrilasi, bergetar terus," katanya.

Kondisi tersebut kemudian dapat dirasakan dari denyut jantung yang tidak beraturan. Jika dalam kondisi normal detak jantung terasa teratur seperti "dup, dup, dup", pada atrial fibrilasi iramanya dapat berubah menjadi tidak beraturan dan tidak sesuai tempo.

Namun, masyarakat tidak bisa langsung menyimpulkan mengalami atrial fibrilasi hanya karena merasakan jantung berdebar, misalnya setelah berolahraga.

Untuk memastikan kondisi tersebut, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

Meski demikian, Abdiyat menyebut masyarakat dapat melakukan deteksi awal secara sederhana dengan metode yang disebut MENARI, yakni Meraba Nadi sendiri.

Cara ini dilakukan dengan meraba denyut nadi di pergelangan tangan. Masyarakat dianjurkan menggunakan tiga jari, yakni jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.

Setelah denyut nadi ditemukan, perhatikan iramanya selama sekitar 30 detik.

"Kalau sudah teraba nadinya, kita tinggal memastikan dalam waktu 30 detik apakah detaknya reguler? Dup, dup, dup. Kalau tidak reguler, kita akan merasakan ketukannya tidak sesuai tempo," ujarnya.

Jika denyut terasa tidak teratur, kondisi tersebut menjadi indikasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter.

Abdiyat mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan ibu jari ketika meraba denyut nadi karena ibu jari juga memiliki denyut yang dapat membuat pemeriksaan menjadi kurang tepat.

Abdiyat menyebut sejumlah kelompok memiliki resiko lebih tinggi mengalami atrial fibrilasi. Salah satunya adalah orang lanjut usia.

Atrial fibrilasi dapat terjadi pada usia di atas 55 atau 60 tahun, bahkan tanpa disertai penyakit lain dan dapat berkaitan dengan proses penuaan.

Selain itu, risikonya juga meningkat pada orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung, seperti hipertensi, diabetes melitus dan penyakit jantung koroner.

"Yang kedua tentunya mereka yang mempunyai faktor risiko jantung, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner," katanya.

Kebiasaan merokok juga menjadi salah satu faktor risiko atrial fibrilasi. Menurut Abdiyat, rokok telah terbukti meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama jantung tersebut.

Obesitas atau kegemukan juga menjadi faktor risiko. Begitu pula dengan gangguan tidur berupa sleep apnea, yang salah satunya dapat ditandai dengan kebiasaan mendengkur dan gangguan pernapasan saat tidur.

"Kalau sampai mengganggu tidur dan pernapasan, itu ada impact-nya ke jantung," jelasnya.

Ia menambahkan, berbagai penyakit jantung juga dapat berkomplikasi menjadi gangguan irama jantung, termasuk atrial fibrilasi.

Di antaranya penyakit jantung koroner, serangan jantung, penyakit katup jantung, penyakit jantung akibat hipertensi hingga penyakit jantung bawaan.

Menariknya, pembahasan mengenai atrial fibrilasi saat ini juga berkembang pada kelompok yang rutin melakukan olahraga kardio, seperti lari, bersepeda maupun renang.

Abdiyat mengatakan sejumlah penelitian mulai melihat adanya atrial fibrilasi pada atlet yang rutin melakukan olahraga kardio, termasuk mereka yang mengikuti running, half marathon maupun full marathon.

Menurutnya, olahraga rutin dapat menyebabkan perubahan struktur jantung yang dikenal sebagai athlete's heart. Perubahan tersebut pada sebagian kondisi dapat berkaitan dengan resiko atrial fibrilasi.

"Belum bisa meyakinkan hubungan secara sebab akibat, tapi ditemukan beberapa atlet mengalami atrial fibrilasi, khususnya atlet-atlet yang melakukan olahraga kardio seperti running dan swimming," ujarnya.

Hal yang membuat atrial fibrilasi perlu mendapat perhatian khusus adalah kaitannya dengan resiko stroke.

Abdiyat menjelaskan, ketika seseorang diketahui mengalami atrial fibrilasi, dokter akan melakukan penilaian resiko untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan pasien mengalami stroke.

Jika resikonya tinggi, langkah pencegahan dapat segera dilakukan.

"Pada saat itulah nanti dokter akan memulai penilaian resiko. Resiko terjadinya stroke. Seandainya masyarakat aware kemudian memeriksakan pada saat awal mula terjadi atrial fibrilasi, maka kita bisa cegah dia dari stroke," katanya.

Ia mengungkapkan salah satu persoalan terbesar adalah banyak penderita atrial fibrilasi tidak merasakan adanya gangguan pada irama jantungnya.

Menurutnya, sekitar 60 persen orang yang mengalami atrial fibrilasi tidak merasakan kondisi tersebut.

Akibatnya, seseorang baru mengetahui dirinya mengalami atrial fibrilasi setelah muncul keluhan atau bahkan ketika sudah mengalami stroke.

"Yang paling kita khawatirkan, keluhan itu ditandai dengan adanya stroke. Sudah sampai stroke, baru tahu," katanya.

Karena itu, deteksi dini menjadi penting. Jika atrial fibrilasi diketahui lebih awal, dokter dapat melakukan penilaian risiko dan menentukan langkah pencegahan untuk menurunkan risiko stroke.

Untuk memastikan seseorang mengalami atrial fibrilasi, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

Pemeriksaan awal dapat dilakukan menggunakan elektrokardiografi atau EKG untuk merekam aktivitas listrik jantung.

Jika atrial fibrilasi tidak ditemukan saat pemeriksaan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan alat perekam jantung dalam waktu lebih panjang, yang disebut Holter.

Hal ini diperlukan karena atrial fibrilasi tidak selalu berlangsung secara permanen. Pada sebagian orang, gangguan irama tersebut dapat muncul pada waktu tertentu dan kemudian kembali ke irama jantung normal.

Abdiyat juga meluruskan anggapan bahwa seluruh kejadian terkait jantung maupun stroke selalu datang secara tiba-tiba.

Menurutnya, penyakit jantung merupakan kelompok penyakit yang luas. Ada kondisi yang dapat muncul mendadak, tetapi ada pula gangguan yang sebenarnya dapat dideteksi dan dicegah lebih awal.

Khusus atrial fibrilasi, deteksi dan penanganan lebih awal dapat membantu menurunkan risiko stroke.

Sementara untuk kasus seseorang yang meninggal ketika sedang tidur, penyebabnya tidak bisa langsung disimpulkan sebagai serangan jantung, stroke maupun atrial fibrilasi tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Ia menyebut penyebab kematian mendadak dapat beragam. Pada kondisi tertentu terdapat gangguan listrik jantung seperti Brugada yang dapat terjadi ketika seseorang sedang beristirahat atau tidur. Namun, penyebab kematian seseorang yang ditemukan telah meninggal saat tidur sulit dipastikan tanpa pemeriksaan, termasuk autopsi.

Untuk serangan jantung, keluhan juga umumnya dapat muncul terlebih dahulu. Salah satunya nyeri dada yang terasa berat atau seperti terhimpit dan dapat menjalar hingga ke punggung.

Abdiyat juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengandalkan kebiasaan mengerok tubuh ketika mengalami keluhan yang diduga berkaitan dengan serangan jantung.

Menurutnya, mengerok tubuh tidak menghilangkan penyebab nyeri dan justru dapat menambah beban kerja jantung apabila seseorang memang sedang mengalami serangan jantung.

Pada akhirnya, pencegahan atrial fibrilasi tidak terlepas dari upaya menjaga kesehatan jantung secara umum.

Abdiyat menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat karena mayoritas penyakit jantung memiliki kaitan dengan gaya hidup.

"Jadi sama seperti pencegahan penyakit-penyakit jantung pada umumnya. Tidak lepas dari pola hidup sehat," tegasnya.

Dengan mengenali faktor resiko, memperhatikan irama denyut nadi dan melakukan pemeriksaan apabila terdapat kelainan, masyarakat diharapkan dapat mendeteksi gangguan jantung lebih dini.

Terlebih, atrial fibrilasi tidak selalu menimbulkan gejala. Kesadaran untuk melakukan deteksi dini menjadi penting agar resiko komplikasi, terutama stroke, dapat ditekan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks