Pencarian

Podcast Kelupas

Jangan Sering Negative Thinking! Ini Dampaknya bagi Fungsi Otak

Kamis, 24 September 2026 • 05:49:32 WIB
Jangan Sering Negative Thinking! Ini Dampaknya bagi Fungsi Otak
Ilustrasi

RIAUAKTUAL (RA) - Kebiasaan negative thinking atau punya pikiran negatif ternyata bukan cuma bisa memengaruhi suasana hati. Pola pikir negatif yang terjadi berulang kali juga ternyata bisa mempengaruhi fungsi otak termasuk penurunan kemampuan kognitif dan memori.

Hal ini diungkap dokter Adam Prabata melalui akun X @AdamPrabata. Ia membagikan hasil sebuah penelitian yang melihat hubungan antara repetitive negative thinking (RNT) atau pola berpikir negatif yang berulang dengan penurunan fungsi kognitif serta sejumlah penanda yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.

“Sering berpikir negatif bisa berujung pada penurunan kemampuan otak,” tulis Adam dalam unggahannya.

Dokter Adam menjelaskan, penelitian itu menunjukkan orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif berulang dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan kemampuan otak. Kondisi ini juga berkaitan dengan risiko depresi dan kecemasan.

Kemampuan otak disebut dapat mengalami penurunan mencakup memori serta kemampuan kognitif secara keseluruhan.

“Jadi ada penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang cenderung memiliki pola pikir negatif itu bisa meningkatkan risiko terjadinya penurunan kemampuan otak dalam bentuk Alzheimer. Selain itu ada peningkatan risiko depresi dan kecemasan,” tulisnya.

Dokter Adam mengutip studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020 yang meneliti hubungan antara repetitive negative thinking dengan perubahan kognitif serta penanda biologis yang berkaitan dengan Alzheimer.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mengikuti 292 orang dewasa yang secara kognitif masih tergolong normal untuk melihat perubahan kemampuan kognitif dari waktu ke waktu.

Sebagian peserta juga menjalani pemindaian PET untuk melihat keberadaan amyloid dan tau di otak. Peneliti kemudian menggunakan kelompok lain yang terdiri dari 68 orang untuk mereplikasi temuan terkait amyloid.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat repetitive negative thinking yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan kognisi global, termasuk memori jangka pendek maupun memori yang tertunda.

Pola berpikir negatif berulang juga dikaitkan dengan lebih tingginya akumulasi amyloid secara global serta tau di bagian entorhinal cortex, salah satu wilayah otak yang berkaitan dengan proses awal penyakit Alzheimer.

Repetitive negative thinking sendiri mencakup pola pikiran negatif yang terus berulang, seperti rumination atau terus memikirkan kejadian buruk di masa lalu, serta kekhawatiran berulang mengenai hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan.

Meski begitu, ada bagian penting yang ditekankan Adam dalam unggahannya. Penelitian tersebut menemukan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa kebiasaan berpikir negatif secara langsung menyebabkan Alzheimer.

“Nah tapi, penelitian ini sifatnya baru mencari hubungan ya, bukan sebab-akibat,” tulis Adam.

Para peneliti menyebut masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.

Dokter Adam pun mengingatkan agar temuan ini menjadi perhatian untuk mulai mengelola kebiasaan berpikir negatif.

“Namun tetap perlu jadi alarm untuk kita agar lebih mengelola kebiasaan berpikir negatif untuk menjaga kondisi otak,” lanjutnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks