Pencarian

Podcast Kelupas

Erupsi Anak Krakatau Ternyata Berdampak untuk Ekonomi Riau, Begini Penjelasan Ekonom

Selasa, 08 September 2026 • 22:01:14 WIB
Erupsi Anak Krakatau Ternyata Berdampak untuk Ekonomi Riau, Begini Penjelasan Ekonom
Ekonom senior, Dahlan Tampubolon.

PEKANBARU (RA) – Dampak erupsi Anak Gunung Krakatau terhadap operasional Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru tak hanya mengganggu mobilitas masyarakat. Gangguan penerbangan juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi di Riau.

Pengamat Ekonomi Riau, Dahlan Tampubolon, menilai terganggunya konektivitas udara akibat abu vulkanik dapat menimbulkan efek berantai atau multiplier effect terhadap berbagai sektor ekonomi.

"Ngeri kali memang dampak alam ini. Gara-gara abu vulkanik dari erupsi Anak Gunung Krakatau, Bandara SSK II Pekanbaru langsung lumpuh, penerbangan terpaksa cancel semua," kata Dahlan, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, ketika penerbangan terganggu, rantai bisnis ikut terdampak. Mobilitas masyarakat dan pelaku usaha tertahan, distribusi barang tersendat, sementara kunjungan investor juga berpotensi terganggu.

"Bayangkanlah, kalau urusan terbang-terbang ini macet, rantai bisnis ikut masuk angin. Mobilitas orang tertahan, distribusi barang tersendat, investor jadi mikir dua kali mau datang. Otomatis urusan cuan di sektor perdagangan, pariwisata, sampai jasa langsung lesu," ujarnya.

Dahlan menjelaskan, dalam teori ekonomi kondisi tersebut dikenal sebagai transportation disruption. Gangguan konektivitas transportasi dapat meningkatkan biaya transaksi sekaligus menurunkan efisiensi ekonomi.

"Kalau infrastruktur jalan tol udara kita terganggu, biaya transaksi langsung melonjak tajam dan efisiensi hancur lebur," jelasnya.

Bagi Riau yang memiliki aktivitas ekonomi kuat di sektor perdagangan, industri, dan perkebunan, gangguan penerbangan dapat menghambat berbagai aktivitas bisnis. Mulai dari perjalanan pelaku usaha, kedatangan investor, hingga mobilitas untuk kebutuhan logistik penting.

Dahlan menyebut berdasarkan kondisi pada 7 September 2026, sekitar 30 penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru terpaksa dibatalkan.

Jika setiap pesawat rata-rata mengangkut 100 hingga 150 penumpang, maka sekitar 3.000 hingga 4.500 perjalanan orang terdampak dalam dua hari.

"Kalau satu kapal terbang itu bawa 100 sampai 150 orang, berarti ada 3.000 sampai 4.500 perjalanan orang yang mendadak batal dalam waktu dua hari saja," katanya.

Dampak tersebut, lanjut Dahlan, tidak hanya dirasakan maskapai. Pembatalan penerbangan turut memengaruhi hotel, restoran, perdagangan, pariwisata hingga jasa transportasi.

Perjalanan bisnis, urusan pemerintahan maupun mobilitas pekerja juga ikut terganggu akibat terputusnya konektivitas udara.

Kondisi itu kemudian meningkatkan transaction cost atau biaya ekonomi yang harus ditanggung masyarakat maupun pelaku usaha.

"Pelaku usaha terpaksa keluar duit tambahan buat atur ulang jadwal, bayar hotel dadakan, belum lagi kalau peluang cuan jutaan rupiah melayang begitu saja gara-gara telat datang meeting," ujarnya.

Sektor perdagangan antardaerah, perusahaan jasa, serta pelaku usaha di bidang migas dan sawit dinilai menjadi bagian yang cukup rentan terdampak karena membutuhkan mobilitas cepat.

Pelaku usaha kecil di sekitar bandara juga ikut merasakan imbasnya. Pengemudi taksi, ojek hingga kedai kopi berpotensi kehilangan pendapatan ketika jumlah penumpang turun.

"Bandara itu ibarat jantungnya mobilitas. Kalau jantungnya masuk angin gegara penerbangan dibatalin, aliran duit di darat langsung ikut macet total," kata Dahlan.

Menurutnya, ribuan penumpang yang gagal melakukan perjalanan otomatis membuat permintaan terhadap berbagai layanan ikut berkurang.

Taksi bandara kehilangan penumpang, hotel berpotensi kehilangan tamu, sementara restoran dan usaha kuliner kehilangan konsumen.

Kondisi serupa, kata Dahlan, pernah dirasakan Riau ketika kabut asap mengganggu aktivitas penerbangan. Saat akses udara terganggu, aktivitas ekonomi daerah turut mengalami perlambatan.

"Jadi, biarpun lumpuhnya cuma sebentar, efek dominonya ke urusan cuan daerah kita ini terasa kali la sakitnya," ujarnya.

Potensi Transaksi Rp5 Miliar Melayang

Berdasarkan data yang dihimpun media, sekitar 30 penerbangan dibatalkan dengan hampir 5.000 penumpang terdampak.

Dahlan menggunakan pendekatan economic loss secara kasar untuk menghitung potensi transaksi yang tidak terjadi akibat gangguan tersebut. Nilainya diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp5 miliar.

Perhitungan itu menggunakan asumsi setiap penumpang biasanya membelanjakan sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta untuk kebutuhan makan, hotel dan transportasi lokal selama berada di Pekanbaru.

"Artinya ada potensi uang segar sekitar Rp2,5 miliar sampai Rp5 miliar yang melayang begitu saja dalam dua sampai tiga hari. Itu baru dari dompet penumpangnya," katanya.

Namun, angka tersebut belum mencakup potensi kerugian berlapis dari maskapai, penurunan omzet hotel, serta aktivitas bisnis dan pertemuan investor yang tertunda atau bahkan batal.

Berpotensi Tekan Pertumbuhan Ekonomi

Dahlan menilai gangguan penerbangan juga berpotensi memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi Riau, terutama pada sektor jasa dan perdagangan.

Meski dampaknya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Riau tidak serta-merta membuat perekonomian daerah ambruk dalam jangka pendek, perlambatan transaksi dan produktivitas tetap perlu diwaspadai.

"Jelas kali la berpotensi menekan. Walaupun secara makro PDRB Riau mungkin nggak langsung ambruk total dalam jangka pendek, laju pertumbuhan sektor jasa dan perdagangan kita jelas bonyok karena ribuan potensi transaksi senilai Rp2,5 miliar sampai Rp5 miliar melayang begitu saja dalam hitungan hari," ujarnya.

Selain kerugian transaksi langsung, terdapat pula dampak tidak langsung berupa terganggunya aktivitas bisnis dan menurunnya produktivitas akibat mobilitas masyarakat yang terhambat.

Karena itu, Dahlan menilai kejadian tersebut harus menjadi pelajaran bagi pemerintah dan pihak terkait untuk memperkuat mitigasi risiko transportasi serta membangun sistem logistik yang lebih tahan terhadap gangguan.

"Kejadian Krakatau ini jadi tamparan keras buat kita, kalau ternyata ekonomi Riau masih gampang goyah cuma gara-gara gangguan eksternal di udara," katanya.

Dahlan mendorong pemerintah dan pihak terkait menyiapkan strategi mitigasi risiko transportasi yang lebih matang, termasuk menyiapkan jalur alternatif dan sistem logistik yang lebih tahan banting.

"Ke depan pemerintah dan pihak terkait jangan cuma diam. Kita butuh strategi mitigasi risiko transportasi yang matang dan bikin sistem logistik yang lebih tahan banting," pungkasnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks