Pencarian

Podcast Kelupas

Kecanduan Junk Food Sejak Kecil, Remaja Usia 17 Alami Buta Permanen

Jumat, 17 Juli 2026 • 07:18:20 WIB
Kecanduan Junk Food Sejak Kecil, Remaja Usia 17 Alami Buta Permanen
Junk food.

RIAUAKTUAL (RA) - Nasib malang menimpa seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun di Inggris Raya. Akibat kebiasaan buruknya yang hanya mau mengonsumsi makanan cepat saji atau junk food sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia mengalami kebutaan permanen.

Kisah ini bermula saat ia berusia 14 tahun dibawa ke dokter dengan keluhan kelelahan yang luar biasa. Dokter mencatat pasien sebagai sosok yang sangat pemilih makanan atau picky eater.

Hasil tes darah awal menunjukkan ia menderita anemia ringan dan kekurangan kadar vitamin B12 akut. Vitamin tersebut merupakan nutrisi penting yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh dan harus didapatkan dari asupan makanan.

Dikutip dari Live Science, dokter sempat meresepkan suntikan suplemen B12 dan memberikan saran diet. Tetapi, malapetaka dimulai saat pasien menginjak usia 15 tahun.

Saat itu, ia mulai mengeluhkan gangguan penglihatan yang terus memburuk dari waktu ke waktu. Ironisnya, pemeriksaan mata awal sama sekali tidak mendeteksi adanya kelainan struktural.

Baru pada usia 17 tahun, ia dirujuk ke ahli neuro-oftalmologi. Hasil tes ketajaman visualnya sangat mengejutkan, yakni berada di angka 20/200 pada kedua mata.

Berdasarkan parameter medis, kondisi ini sudah masuk dalam kategori kebutaan legal atau legally blind. Itu terjadi saat seseorang hanya bisa melihat objek dengan jelas dari jarak maksimal 20 kaki, yang normalnya bisa dilihat orang lain dari jarak 200 kaki.

Dokter sempat bingung karena pasien bersih dari narkoba, alkohol, maupun rokok. Hasil pemeriksaan saraf dan fisik matanya pun tidak menunjukkan adanya bekas luka atau cedera.

Semua terjawab lewat hasil laboratorium lanjutan. Pemeriksaan itu menunjukkan sel darah merah remaja tersebut membesar akibat defisit vitamin parah.

Kadar Cuprum (tembaga) dan vitamin D dalam darahnya anjlok, diperparah dengan melonjaknya zat homosistein akibat tubuh kekurangan pasokan B12. Ini terjadi karena pasien diam-diam berhenti mengonsumsi suntikan suplemen yang diresepkan.

Ketika ditanya soal pola makannya, ia mengaku tidak bisa menoleransi tekstur makanan tertentu. Selama bertahun-tahun, menu harian yang masuk ke tubuhnya hanyalah kentang goreng cepat saji, roti putih, keripik kentang, sosis, dan ham olahan.

Akibat minimnya asupan nutrisi esensial, ia didiagnosis mengidap nutritional optic neuropathy atau neuropati optik nutrisi. Kombinasi langka antara defisit B12 dan tembaga ini memicu atrofi saraf optik, sebuah kondisi di mana kabel saraf yang mengirimkan informasi visual dari mata ke otak menyusut dan mati total.

Dokter segera mengambil tindakan dengan meresepkan suplemen nutrisi dosis tinggi dan merujuk remaja tersebut ke layanan kesehatan mental. Rasa tidak ingin yang ekstrem terhadap tekstur makanan yang diidapnya secara resmi diidentifikasi dokter sebagai bentuk gangguan makan (eating disorder).

Sayangnya, penanganan ini terbilang terlambat. Meski setelah diobati kondisi penglihatannya tidak memburuk lebih lanjut, tidak ada sedikit pun perbaikan pada matanya.

Para dokter dalam laporan kasus tersebut menegaskan bahwa neuropati optik nutrisi sebenarnya bisa disembuhkan total jika dideteksi lebih awal.

Namun, apabila jaringan saraf optik sudah terlanjur mati dan mengalami atrofi seperti yang dialami remaja ini, maka kehilangan penglihatan tersebut bersifat permanen dan tidak akan pernah bisa disembuhkan lagi.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks