Pencarian

Podcast Kelupas

Bocah di Pelalawan Tewas Diduga Diterkam Harimau, Ini Penjelasan BBKSDA Riau

Jumat, 10 Juli 2026 • 12:37:42 WIB
Bocah di Pelalawan Tewas Diduga Diterkam Harimau, Ini Penjelasan BBKSDA Riau
Tim BBKSDA Riau melakukan oleh tkp di lokasi kejadian.

PEKANBARU (RA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau terus melakukan upaya mitigasi menyusul konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, yang mengakibatkan seorang anak berusia 12 tahun meninggal dunia.

Korban bernama Jerlin Zalukhu diduga diterkam Harimau Sumatera pada Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 04.30 WIB di kawasan camp pekerja sebuah perusahaan.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan tim langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan observasi lapangan, mengumpulkan data, mengidentifikasi keberadaan satwa, serta berkoordinasi dengan pihak perusahaan.

"Tim berkoordinasi dengan manajemen perusahaan untuk menyusun rencana observasi lapangan, pengumpulan data, serta olah tempat kejadian perkara (TKP)," ujar Supartono, Jumat (10/7/2026).

Berdasarkan hasil investigasi awal, korban saat itu sedang menemani kakaknya mencuci piring di area camp pekerja.

Tidak lama kemudian terdengar teriakan korban sehingga sang kakak keluar dan mendapati adiknya sedang diserang seekor Harimau Sumatera.

Korban kemudian ditemukan sekitar 10 meter di belakang camp pekerja dengan luka serius di bagian leher.

"Saat kejadian, korban berada di luar kamar mandi, sementara pagar pelindung di bagian belakang camp dalam kondisi terbuka akibat mengalami kerusakan. Korban ditemukan sekitar 10 meter di belakang camp dengan luka pada bagian leher," jelas Supartono.

Menurutnya, lokasi kejadian berada sekitar 5,3 kilometer dari kawasan Taman Nasional Zamrud dan sekitar 5,7 kilometer dari kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Secara administratif, lokasi tersebut berada di wilayah Desa Sungai Ara dan Desa Pangkalan Terap, serta termasuk dalam bentang alam Semenanjung Kampar, yang merupakan habitat alami Harimau Sumatera.

"Wilayah konflik itu berada di landscape Semenanjung Kampar," katanya.

Dalam olah tempat kejadian perkara, tim BBKSDA menemukan jejak kaki yang diduga milik Harimau Sumatera dengan ukuran sekitar 16 sentimeter x 15 sentimeter.

Jarak langkah terjauh antara kaki depan dan belakang diperkirakan mencapai 120 sentimeter.

Hingga Kamis malam, tim BBKSDA Riau masih berada di lokasi untuk melakukan pemantauan intensif guna mengantisipasi potensi konflik lanjutan.

Supartono mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan menggunakan drone berkamera termal, Harimau Sumatera tersebut masih berada di sekitar area camp pekerja.

"Dari hasil drone thermal terlihat Harimau Sumatera masih berada di sekitar lokasi kejadian," pungkasnya.

BBKSDA Riau mengimbau masyarakat dan para pekerja di sekitar lokasi agar meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan petugas, serta tidak melakukan aktivitas seorang diri di sekitar kawasan yang diduga masih menjadi lintasan Harimau Sumatera selama proses mitigasi berlangsung.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks