Pencarian

Podcast Kelupas

HIPMI Riau: Usai Kerja Sama Dagang dengan Jatim, Saatnya Riau Jual Produk Bernilai Tambah

Kamis, 09 Juli 2026 • 07:46:00 WIB
HIPMI Riau: Usai Kerja Sama Dagang dengan Jatim, Saatnya Riau Jual Produk Bernilai Tambah
Ketua Umum HIPMI Riau, Migo Mufartha melakukan MoU Kerjasama Misi dagang dengan Ketua Umum HIPMI Jawa Timur, Ahmad Salim Assegaf. (Foto:ist)

PEKANBARU (RA) – Kerja sama dalam Misi Dagang dan Investasi antara Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Riau dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus mendorong percepatan hilirisasi komoditas unggulan Bumi Lancang Kuning.

Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Riau menilai, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Riau sudah saatnya tidak lagi hanya dipasarkan dalam bentuk bahan baku. Komoditas unggulan daerah perlu diolah menjadi produk bernilai tambah agar mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ketua Umum BPD HIPMI Riau, Migo Mufartha, mengatakan Riau memiliki potensi besar dari sektor perkebunan, pertanian, perikanan, hingga hasil hutan. Mulai dari kelapa sawit, sagu, nanas, kelapa, kopi liberika, ikan patin, hingga madu sialang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang berdaya saing.

"Selama ini Riau dikenal sebagai daerah penghasil komoditas. Ke depan, kita harus naik kelas dengan menghadirkan produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Jangan hanya menjual bahan mentah, tetapi bagaimana komoditas itu diolah menjadi produk yang memiliki merek, kualitas, dan daya saing," ujar Migo, kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, kelapa sawit dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti minyak goreng, oleokimia, hingga produk perawatan tubuh. Sementara sagu memiliki potensi diolah menjadi mi sagu, tepung premium, biskuit, dan aneka pangan modern.

Selain itu, nanas juga memiliki peluang menjadi produk olahan seperti keripik, selai, sirup, hingga minuman siap saji. Begitu pula ikan patin yang dapat dipasarkan dalam bentuk fillet beku, abon, bakso ikan, maupun makanan siap masak.

Menurutnya, kopi liberika Riau juga memiliki prospek besar apabila didukung pengolahan pascapanen yang baik, pengemasan premium, serta penguatan identitas merek sehingga mampu menembus pasar kopi spesialti. Sementara madu sialang berpotensi menjadi produk kesehatan premium jika dikemas sesuai standar.

Migo menegaskan, kerja sama dengan Jawa Timur harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperluas jaringan distribusi, transfer pengetahuan, dan membangun kemitraan bisnis. Namun, sasaran akhirnya bukan hanya pasar Jawa Timur, melainkan pasar nasional hingga ekspor.

"Kerja sama ini jangan hanya dipandang sebagai peluang menjual produk ke Jawa Timur. Justru ini harus menjadi batu loncatan agar produk unggulan Riau mampu menembus pasar di berbagai provinsi lain, bahkan pasar ekspor. Yang kita bangun adalah daya saing produk Riau," tegasnya.

Ia menilai pengusaha muda memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya produk-produk inovatif melalui pengembangan produk, pengemasan, branding, pemasaran digital, hingga pemanfaatan teknologi. Meski demikian, inovasi tersebut perlu didukung kolaborasi dengan para pengusaha senior yang memiliki pengalaman dan jejaring bisnis yang luas.

"Pengusaha muda membawa semangat inovasi dan keberanian menciptakan terobosan. Sementara para pengusaha senior memiliki pengalaman, jaringan, dan kebijaksanaan dalam membangun usaha. Kolaborasi keduanya akan menjadi modal besar untuk melahirkan produk-produk unggulan Riau yang semakin kompetitif," katanya.

Migo berharap sinergi yang terbangun melalui Misi Dagang dan Investasi Riau–Jawa Timur tidak hanya menghasilkan transaksi bisnis jangka pendek, tetapi juga mampu memperkuat ekosistem usaha, mendorong tumbuhnya industri pengolahan, memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing ekonomi Riau di tingkat nasional maupun global.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks