Pencarian

Podcast Kelupas

APKASINDO: Ganoderma dan Anjloknya Harga TBS Jadi Ancaman Serius bagi Petani Sawit

Ahad, 31 Mei 2026 • 13:28:18 WIB
APKASINDO: Ganoderma dan Anjloknya Harga TBS Jadi Ancaman Serius bagi Petani Sawit
Ketua Umum DPP Apkasindo Dr Gulat Medali Emas Manurung.

JAKARTA (RA) – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti dua persoalan serius yang saat ini mengancam keberlanjutan perkebunan sawit rakyat, yakni meningkatnya serangan penyakit Ganoderma dan merosotnya harga tandan buah segar (TBS) petani.

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit yang digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan yang mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu dihadiri pengurus DPP dan DPW APKASINDO, petani sawit, pemerintah daerah, serta sejumlah narasumber dari pemerintah pusat.

Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, dalam sambutannya mengajak seluruh organisasi petani sawit menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan industri sawit nasional.

Menurutnya, perbedaan organisasi tidak boleh menjadi penghalang dalam memperjuangkan kepentingan petani sawit Indonesia.

"APKASINDO saat ini telah terkonsolidasi di 24 provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan sekitar 2,4 juta anggota. Karena itu sinergi organisasi petani dan pemerintah daerah sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kebun sekaligus menjaga keberlanjutan sektor sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gulat memberikan perhatian khusus terhadap penyebaran penyakit Ganoderma yang mulai mengancam perkebunan sawit rakyat di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Timur.

Menurutnya, penyakit yang menyerang akar dan batang tanaman itu jauh lebih berbahaya karena sering kali tidak disadari petani hingga tanaman mengalami kerusakan parah.

"Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin. Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat," katanya.

Ia menjelaskan, berbeda dengan serangan kumbang tanduk yang mudah dikenali, Ganoderma bekerja secara perlahan hingga akhirnya menyebabkan tanaman tidak produktif dan mati.

Selain persoalan penyakit tanaman, APKASINDO juga menyoroti anjloknya harga TBS yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Gulat menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari terganggunya mekanisme tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).

Menurutnya, ketika tender berulang kali mengalami withdrawal atau gagal bertransaksi, pasar kehilangan referensi harga yang selama ini menjadi acuan bagi pelaku usaha dan petani.

"Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS," jelasnya.

Sementara itu, petani plasma yang jumlahnya sekitar 7 persen masih memiliki perlindungan melalui mekanisme penetapan harga oleh dinas perkebunan. Namun mereka tetap terdampak karena formula harga mengacu pada tren harga CPO periode sebelumnya.

Karena itu, APKASINDO mendesak pemerintah segera mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan tender KPBN berjalan normal agar tercipta transparansi harga yang lebih adil bagi petani.

Gulat menegaskan APKASINDO terus melakukan advokasi kepada pemerintah, termasuk berkomunikasi dengan Kementerian Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian terkait perlindungan harga TBS petani.

Ia menyatakan organisasi petani mendukung langkah pemerintah untuk mengawasi secara ketat pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli TBS di bawah harga kewajaran.

"Perusahaan yang sengaja menekan harga dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus ditindak tegas. Langkah yang dapat ditempuh mulai dari pembentukan satgas hingga pencabutan izin usaha," tegasnya.

APKASINDO juga mendorong percepatan hilirisasi sawit melalui pemanfaatan minyak sawit asam tinggi sebagai bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) maupun bahan bakar penerbangan guna meningkatkan serapan domestik dan nilai tambah sawit nasional.

Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur, Ir. Betman Siahaan, mengungkapkan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang paling terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk.

"Banyak petani belum memahami gejala Ganoderma. Tidak sedikit yang mengira tanaman mati akibat tersambar petir, padahal penyebabnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang," ujarnya.

Betman juga menyoroti kondisi harga TBS di Kalimantan Timur yang disebut mengalami penurunan paling tajam di Indonesia.

Berdasarkan hasil rapat nasional APKASINDO, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat merosot hingga Rp1.200 per kilogram.

Pada tingkat harga tersebut, sebagian besar pendapatan petani habis untuk biaya panen dan transportasi yang mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram.

"Keuntungan petani tinggal sekitar Rp200 per kilogram. Banyak petani akhirnya memilih menunda panen karena tidak lagi ekonomis," katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut juga memukul pelaku usaha pengumpul atau RAM karena stok sawit menumpuk saat harga turun secara mendadak. Bahkan sejumlah pelaku usaha disebut mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah dalam waktu sepekan.

APKASINDO Kaltim menduga terdapat PKS yang membatasi pembelian melalui sistem kuota meskipun harga CPO tidak mengalami penurunan signifikan. Karena itu, organisasi tersebut mendorong penerapan satu harga TBS secara nasional serta percepatan pembentukan BUMN pengiriman CPO guna mengurangi praktik monopoli dalam tata niaga sawit.

Dalam forum tersebut juga terungkap bahwa dari delapan PKS yang beroperasi di Kabupaten Penajam Paser Utara, dua menggunakan pola inti-plasma, sedangkan enam lainnya merupakan PKS komersial.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan dalam kegiatan tersebut, sekitar 90 persen petani mendukung keberadaan PKS komersial karena dinilai berperan penting dalam menyerap hasil panen petani swadaya dan menjaga persaingan pasar.

Sementara itu, Bupati Penajam Paser Utara, H. Mudyat Noor, S.Hut., melalui sambutan yang dibacakan perwakilan pemerintah daerah, menegaskan sektor perkebunan sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara mengapresiasi inisiatif DPP APKASINDO menyelenggarakan workshop tersebut karena dinilai mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia petani sawit.

Menurutnya, serangan Ganoderma dan kumbang tanduk merupakan tantangan nyata yang dapat menurunkan produktivitas serta mengancam keberlanjutan perkebunan rakyat.

Karena itu, petani diharapkan memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Pemkab PPU juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sektor pertanian dan perkebunan melalui peningkatan kualitas SDM, penguatan kelembagaan petani, serta penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks