Pencarian

Podcast Kelupas

Milenial-Gen Z di Singapura Ramai-ramai Tunda Nikah hingga Punya Anak

Sabtu, 25 April 2026 • 06:09:00 WIB
Milenial-Gen Z di Singapura Ramai-ramai Tunda Nikah hingga Punya Anak
Ilustrasi menunda pernikahan.

RIAUAKTUAL (RA) - Tren menunda pernikahan dan memiliki anak tidak hanya terjadi di Jepang, Singapura juga menghadapi kondisi serupa. Semakin banyak generasi muda yang bahkan memilih melajang dalam waktu lama, alih-alih mulai berkencan dan merencanakan hubungan masa depan.

Bhavin Punjabi salah satunya, dahulu ia sempat berpikir di usia 32 tahun sudah berkeluarga, tetapi hari-harinya kini diisi dengan prioritas lain, membangun karier, menjaga kebugaran, jalan-jalan, juga merawat kakeknya yang sudah berusia 95 tahun.

Seperti banyak warga Singapura seusianya, pernikahan tidak lagi prioritas.

"Saya ingin punya pekerjaan stabil dan mencapai pendapatan tertentu sebelum membina rumah tangga," beber manajer operasional di Zenko Superfoods seperti dilansir melalui detikcom.

Bhavin merasa puas dengan rutinitasnya dan tidak ada masalah dengan status lajang. Menurutnya, kencan di masa sekarang disertai ekspektasi tinggi yang dipengaruhi pertimbangan praktis seperti keuangan, hunian, dan karier.

Ia menambahkan, generasinya banyak yang mencoba menjadi 'versi terbaik dari diri sendiri' sebelum memilih berkencan.

"Cinta, di generasi sekarang, mungkin menjadi prioritas sekunder."

Pengalaman Bhavin mencerminkan pergeseran luas di Singapura. Angka Kelahiran mencapai rekor terendah di angka 0,87 pada tahun 2025. Begitu juga pernikahan yang merosot 7 persen pada tahun 2024, dengan penurunan tertajam pada usia 25 hingga 34 tahun.

Usia menikah kini rata-rata meningkat menjadi 31 tahun untuk pria dan 30 tahun untuk wanita.

Tantangan Kencan Modern: Terasa Seperti Bekerja

Dr Kalpana Vignehsa dari Institute of Policy Studies mencatat bahwa anak muda sekarang melihat kencan sebagai masalah manajemen waktu.

"Berbeda dengan dulu yang dianggap menyenangkan, kini kencan terasa seperti satu lagi daftar tugas (to-do list) di tengah jadwal yang padat," sorot dia, dikutip dari CNA.

Tekanan juga datang dari dunia digital yang mengharuskan orang untuk selalu aktif" Selain itu, banyak yang menunda kencan saat masih sekolah, padahal mencari pasangan justru lebih sulit setelah mulai bekerja.

Profesor Paulin Straughan dari SMU menjelaskan bahwa tanda kedewasaan di Singapura telah bergeser.

"Dulu, menikah dan punya anak adalah tanda dewasa. Sekarang, kemandirian finansial dan stabilitas karier profesional-lah yang dianggap sebagai pencapaian kedewasaan."

Meski tren menunda hubungan terus meningkat, keinginan untuk memiliki koneksi tetap ada. Bhavin Punjabi, misalnya, tidak menutup kemungkinan untuk menikah suatu saat nanti. "Saya hanya menikmati momen yang ada sekarang," pungkasnya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks