Pencarian

Podcast Kelupas

Sosok Dwi Astuti, Aswas Kejati Riau yang Tegas, Humanis, dan Inspiratif di Hari Kartini

Selasa, 21 April 2026 • 14:21:50 WIB
Sosok Dwi Astuti, Aswas Kejati Riau yang Tegas, Humanis, dan Inspiratif di Hari Kartini
Asisten Pengawasan (Aswas) Kejati Riau, Dwi Astuti (paling kanan).

PEKANBARU (RA) - Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momentum refleksi peran perempuan di berbagai sektor, termasuk di dunia penegakan hukum.

Di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, sosok Asisten Pengawasan (Aswas) Dwi Astuti menjadi cerminan Kartini masa kini yang menjalankan tugas dengan tegas, humanis, dan berintegritas di tengah dominasi laki-laki.

Bagi Dwi, Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia memaknainya sebagai dorongan untuk terus menghadirkan profesionalisme dalam setiap tugas pengawasan.

"Kartini bukan sekadar simbol, tetapi inspirasi agar perempuan mampu berperan aktif, profesional, dan memberi dampak nyata dalam institusi," ujar Dwi, Selasa (21/4/2026).

Lebih dari satu abad setelah perjuangan Raden Ajeng Kartini, nilai kesetaraan dinilai masih relevan, khususnya dalam penegakan hukum. Dwi menilai, semangat Kartini kini telah bertransformasi menjadi upaya nyata menghadirkan keadilan tanpa diskriminasi.

Di lingkungan kejaksaan, peran perempuan disebut semakin signifikan. Banyak jaksa perempuan kini dipercaya menangani perkara strategis hingga menduduki jabatan penting.

"Perempuan hari ini tidak hanya hadir, tetapi berkontribusi nyata dalam pengambilan keputusan dan pelayanan publik," katanya.

Perjalanan karier Dwi tidak lepas dari tantangan. Ia pernah menjadi satu-satunya perempuan dalam jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) saat menjabat Kepala Kejaksaan Negeri di dua daerah.

Kini, di Kejati Riau, ia kembali berada dalam posisi serupa sebagai satu-satunya asisten perempuan.

Menurutnya, stereotip terhadap perempuan masih kerap muncul, termasuk anggapan bahwa pendekatan kekeluargaan identik dengan kurang tegas. Namun, Dwi justru melihat pendekatan tersebut sebagai kekuatan.

"Lingkungan kerja yang terbuka dan saling percaya akan melahirkan tim yang solid dan tetap profesional," ungkapnya.

Ia menekankan pentingnya penguasaan substansi, komunikasi efektif, dan konsistensi menjaga etika untuk membangun kredibilitas. Meski perempuan dituntut bekerja lebih keras, hal itu dianggapnya sebagai peluang membuktikan kapasitas dan integritas.

Dalam memimpin, Dwi mengedepankan keseimbangan antara pendekatan persuasif dan ketegasan. Ia membuka ruang diskusi dan mendorong penyelesaian masalah secara kolektif.

"Jika sudut pandang yang cepat dan analitis digabungkan, keputusan akan lebih komprehensif," jelasnya.

Sebagai Aswas, ia juga menegaskan pentingnya objektivitas dalam setiap pengawasan.

"Pengawasan harus bebas dari kepentingan pribadi dan tekanan internal," tegas Dwi.

Di balik posisinya sebagai pejabat strategis, Dwi juga menjalani peran sebagai ibu tunggal bagi dua anak. Ia mengakui menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga menjadi tantangan terbesar.

Meski anak-anaknya menempuh pendidikan di luar kota, komunikasi yang terjaga menjadi kunci keharmonisan keluarga.

"Kesuksesan saya harus sejalan dengan kesuksesan anak-anak saya," tuturnya.

Dwi menilai emansipasi perempuan saat ini bukan hanya soal kesetaraan, tetapi bagaimana perempuan mampu memaksimalkan potensi tanpa meninggalkan peran dalam keluarga.

Ia pun berpesan kepada generasi muda perempuan agar membangun fondasi akademik yang kuat, menjaga integritas, dan memiliki ketahanan mental.

"Percaya diri dan dukungan keluarga adalah kunci untuk bertahan dan berkembang," katanya.

Ke depan, ia berharap kesetaraan gender di lingkungan kejaksaan tidak hanya terlihat dari jumlah, tetapi juga kesempatan dalam kepemimpinan dan penanganan perkara strategis.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks