RIAUAKTUAL (RA) - Generasi Z memang ada saja gebrakannya. Kali ini, sebagian di antaranya yang melabeli diri sebagai 'remaja jompo' diketahui sering mengonsumsi obat-obat pereda nyeri, yang sayangnya tanpa konsultasi lebih dulu dengan dokter.
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) Dr dr Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH mengatakan konsumsi pereda nyeri tanpa pengawasan bisa merusak ginjal.
"Itu banyak di sini, ibuprofen, piroxicam. Nah itu kalau minum dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan ginjal," kata dr Pringgo dikutip dari detikcom.
dr Pringgo menambahkan biasanya obat nyeri yang paling banyak dikonsumsi masyarakat tanpa pengawasan adalah yang masuk golongan Obat Antiinflamasi Nonsteroid (AINS) atau Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAID).
Ini merupakan kelompok obat yang umum digunakan untuk meredakan nyeri (analgesik), menurunkan demam (antipiretik), dan mengurangi peradangan (antiinflamasi).
Bagaimana NSAID Merusak Ginjal?
Dikutip dari Cleveland Clinic, salah satu obat golongan NSAID yaitu ibuprofen yang dikonsumsi dalam jangka waktu lama dan tanpa pengawasan, dapat menyebabkan masalah ringan hingga berat.
Masalah yang relatif ringan seperti diare, mual, atau sakit perut, hingga masalah kesehatan yang lebih serius. Ginjal adalah organ yang paling mungkin rusak akibat penggunaan ibuprofen yang berlebihan.
Diperkirakan bahwa NSAID yang digunakan untuk mengobati nyeri dan peradangan berkontribusi terhadap lebih dari 100.000 rawat inap dan 16.000 kematian setiap tahun di AS.
Selain merusak ginjal, berikut dampak konsumsi obat golongan NSAID yang tidak sesuai:
- Masalah saluran pencernaan, termasuk pendarahan.
- Serangan jantung
- Gagal jantung
- Tekanan darah tinggi
- Toksisitas hati
- Kadar natrium rendah
- Stroke
- Ulkus