Menonton TV atau Bekerja di Depan Komputer, Mana yang Lebih Baik untuk Otak?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:59:58 WIB
Ilustrasi menonton tv.

RIAUAKTUAL (RA) - Menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi mungkin terasa seperti cara sederhana untuk melepas penat. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut berpotensi berkaitan dengan kondisi kesehatan otak, terutama pada usia lanjut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia itu menemukan bahwa jenis aktivitas yang dilakukan saat duduk dapat berkaitan dengan kesehatan otak. Aktivitas pasif, seperti menonton televisi, menunjukkan hubungan yang berbeda dibandingkan aktivitas yang melibatkan keterlibatan mental, seperti bekerja menggunakan komputer.

Penelitian tersebut melibatkan sekitar 1.700 orang dewasa lanjut usia yang dipantau selama kurang lebih 22 tahun. Para peneliti kemudian menganalisis hubungan antara dua jenis aktivitas sedentari atau aktivitas yang dilakukan sambil duduk, yakni menonton televisi dan bekerja menggunakan komputer, dengan kondisi otak peserta pada tahap kehidupan berikutnya.

Salah satu peneliti, Natan Feter, PhD, peneliti pascadoktoral di Departemen Ilmu Biologi University of Southern California, menjelaskan bahwa kebiasaan menonton televisi berkaitan dengan volume otak yang lebih kecil pada sejumlah area yang rentan terhadap penuaan dan penyakit Alzheimer.

“Kami menemukan bahwa durasi menonton televisi yang lebih lama berkaitan dengan volume otak yang lebih kecil di area-area yang sangat rentan terhadap penuaan dan penyakit Alzheimer, serta performa kognitif yang lebih buruk,” kata Feter.

“Sebaliknya, perilaku sedentari lainnya, seperti duduk saat bekerja, menunjukkan pola hubungan yang berlawanan,” lanjutnya.

Menonton TV dan Bekerja di Depan Komputer Punya Dampak Berbeda

Dalam penelitian tersebut, kebiasaan menonton televisi juga dikaitkan dengan kerusakan materi putih atau white matter yang lebih besar pada otak. Materi putih merupakan jaringan saraf yang berperan dalam menghubungkan berbagai bagian otak agar dapat berkomunikasi secara efektif.

Kerusakan pada materi putih dapat menjadi salah satu penanda gangguan pada pembuluh darah kecil di otak. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, meskipun hasil penelitian ini tidak membuktikan bahwa menonton televisi secara langsung menyebabkan kerusakan tersebut.

Sebaliknya, aktivitas duduk saat bekerja menggunakan komputer berkaitan dengan volume yang lebih besar pada beberapa area otak dan kerusakan materi putih yang lebih sedikit.

Temuan ini mengindikasikan bahwa kesehatan otak tidak hanya berkaitan dengan lamanya seseorang duduk, tetapi juga jenis aktivitas yang dilakukan selama waktu tersebut.

Feter menjelaskan bahwa menonton televisi umumnya merupakan aktivitas pasif yang hanya membutuhkan sedikit upaya kognitif. Sementara itu, pekerjaan di depan komputer dapat melibatkan konsentrasi, perencanaan, analisis, dan pemecahan masalah.

Peneliti juga menemukan hubungan yang lebih kuat pada peserta laki-laki. Namun, alasan di balik perbedaan tersebut belum dapat dipastikan.

“Hal ini bisa mencerminkan perbedaan biologis, perbedaan kebiasaan menonton televisi, faktor gaya hidup lainnya, atau sekadar kebetulan,” ujar Feter.

“Penelitian kami tidak dirancang untuk menentukan mekanisme di balik perbedaan jenis kelamin tersebut. Karena itu, hal ini perlu diteliti lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan yang pasti,” tambahnya.

Aktivitas yang Melibatkan Otak Dinilai Lebih Menguntungkan

Temuan tersebut sejalan dengan pandangan bahwa tidak semua aktivitas duduk memiliki hubungan yang sama dengan kesehatan otak.

Rehan Aziz, MD, DFAPA, profesor madya psikiatri dan neurologi di Hackensack Meridian School of Medicine serta Jersey Shore University Medical Center, menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan di depan meja sering kali menuntut seseorang untuk berpikir, menyusun rencana, dan memecahkan masalah.

“Pekerjaan di meja sering kali melibatkan aktivitas berpikir, perencanaan, dan pemecahan masalah, serta penggunaan komputer. Aktivitas tersebut berpotensi membantu mempertahankan area otak yang berkaitan dengan tugas-tugas tersebut,” kata Aziz.

Selain itu, kebiasaan menonton televisi juga dapat berlangsung bersamaan dengan aktivitas lain yang berpotensi memengaruhi kesehatan, seperti duduk terlalu lama tanpa jeda atau mengonsumsi camilan secara berlebihan.

Meski demikian, Feter mengingatkan bahwa penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, peneliti mengamati hubungan antara kebiasaan dan kondisi kesehatan peserta tanpa membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

“Perlu diingat, penelitian kami bersifat observasional sehingga kami tidak dapat menyimpulkan bahwa televisi itu sendiri menyebabkan perubahan pada otak. Sebaliknya, temuan ini menunjukkan bahwa menonton televisi dapat menjadi penanda pola gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan otak yang lebih buruk,” jelasnya.

Menonton Film di Bioskop Juga Bisa Menjadi Aktivitas yang Berbeda

Menariknya, tidak semua aktivitas menonton memiliki karakteristik yang sama. Penelitian lain menunjukkan bahwa pergi ke bioskop berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan otak.

Menurut Aziz, pengalaman menonton film di bioskop berbeda dari menonton televisi di rumah. Aktivitas tersebut dapat melibatkan perjalanan keluar rumah, interaksi dengan lingkungan, perhatian terhadap alur film, hingga kesempatan bersosialisasi dan mendiskusikan film bersama orang lain.

Interaksi sosial menjadi salah satu aspek penting yang dikaitkan dengan kesehatan otak. Keterlibatan sosial dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan berpotensi mengurangi risiko demensia.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak semata-mata berasal dari menonton film. Aktivitas di luar rumah, interaksi dengan orang lain, dan keterlibatan mental juga dapat menjadi faktor yang berperan.

Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Otak

Penelitian ini memperkuat pentingnya memperhatikan cara seseorang menghabiskan waktu luang, terutama ketika sebagian besar aktivitas sehari-hari dilakukan sambil duduk.

Feter mengatakan bahwa temuan tersebut mendukung rekomendasi kesehatan masyarakat untuk mengurangi durasi menonton televisi yang berkepanjangan jika memungkinkan.

Namun, menurutnya, menjaga kesehatan otak bukan sekadar mengurangi waktu duduk. Hal yang tidak kalah penting adalah memilih aktivitas yang dilakukan selama waktu tersebut.

“Mengganti sebagian waktu menonton televisi dengan aktivitas fisik, interaksi sosial, atau kegiatan yang merangsang kemampuan mental, seperti membaca, mempelajari keterampilan baru, atau menekuni hobi, dapat bermanfaat bagi kesehatan otak,” kata Feter.

“Hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua perilaku sedentari tampaknya memiliki hubungan yang sama dengan proses penuaan otak yang sehat,” lanjutnya.

Dengan demikian, masyarakat dapat mulai membangun kebiasaan yang lebih seimbang, seperti menyelingi waktu menonton dengan berjalan kaki, membaca, berolahraga ringan, atau berinteraksi dengan keluarga dan teman.

Meski penelitian ini tidak membuktikan bahwa menonton televisi secara langsung menyebabkan kerusakan otak, hasilnya memberikan gambaran bahwa pilihan aktivitas sehari-hari dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan kognitif seiring bertambahnya usia.

Terkini

Terpopuler