Pencarian

Podcast Kelupas

Dampak Penurunan Ekspor, GAPKI Prediksi Harga Sawit Naik pada 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 • 22:36:16 WIB
Dampak Penurunan Ekspor, GAPKI Prediksi Harga Sawit Naik pada 2027
TBS kelapa sawit.

JAKARTA (RA) – Harga minyak sawit pada 2027 berpotensi mengalami kenaikan akibat meningkatnya penyerapan untuk kebutuhan biodiesel di dalam negeri. Kondisi ini dikhawatirkan mengurangi pasokan untuk ekspor dan mendorong kenaikan harga minyak sawit di pasar global, yang berpotensi merembet ke harga minyak goreng dan produk turunannya.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Hadi Sugeng Wahyudiono.

Hadi menjelaskan, minyak sawit menyumbang sekitar 35 persen dari pasokan minyak nabati dunia. Karena itu, perubahan pasokan minyak sawit Indonesia ke pasar internasional dapat memengaruhi keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan minyak nabati.

“Minyak sawit bukan satu-satunya minyak nabati di dunia. Kontribusinya sekitar 35 persen, dan berlaku hukum supply and demand. Kita khawatir kalau banyak terserap di dalam negeri dan ekspornya kurang, apalagi ditambah kurang baiknya panen minyak nabati lain di Eropa, harga akan terdongkrak naik,” ujar Hadi, dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, kenaikan harga minyak sawit tidak hanya berdampak pada pasar internasional, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga berbagai produk berbahan baku sawit di dalam negeri, termasuk minyak goreng.

“Kalau terdongkrak naik, efeknya minyak goreng dan sebagainya, akan banyak rentetannya. Itu yang kita jaga. Jadi sekali lagi, sangat rentan antara supply dan demand untuk kelapa sawit ini,” katanya.

Di tengah potensi penurunan produksi pada 2027, GAPKI masih optimistis produksi minyak sawit Indonesia pada 2026 dapat mencapai 58,8 juta ton.

Hadi mengatakan, curah hujan sepanjang tahun lalu tergolong baik dan pemupukan berjalan optimal. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga produksi sehingga dampak El Nino terhadap hasil panen tahun ini belum terlalu signifikan.

“Angka 58,8 juta ton mudah-mudahan bisa kita capai, meskipun Bu Mona tadi bilang agak berat,” ujarnya, merujuk pada pandangan Bendahara Umum GAPKI Mona Surya.

Sebelumnya, Mona menyebut berat janjang rata-rata (BJR) di kebun sawit telah turun 17–20 persen dalam dua bulan terakhir akibat kemarau. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi pencapaian target produksi tahun ini.

Terkait besaran potensi kenaikan harga minyak sawit pada 2027, Hadi belum bersedia menyebutkan angka. Menurutnya, proyeksi harga akan dipaparkan oleh para analis minyak nabati global dalam konferensi IPOC 2026.

Salah satu analis yang akan memberikan pandangan adalah Dorab Mistry dari Godrej International. Para analis masih akan memantau perkembangan pasar sebelum menyampaikan proyeksi harga untuk tahun depan.

“Kalau dari indikasi, kemungkinan naik, iya. Angkanya berapa, nanti biar mereka yang menjawab. Justru itu yang ditunggu-tunggu oleh para peserta, bagaimana harga di tahun 2027,” kata Hadi.

IPOC 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Bali.

Konferensi sawit internasional tersebut mengangkat tema “Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience”, yang membahas tantangan industri sawit di tengah dinamika pasar global, kebutuhan pangan, dan energi.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks