PEKANBARU (RA) - Kinerja ekspor Provinsi Riau sepanjang Januari–Juli 2026 masih mencatat pertumbuhan positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Riau mencatat nilai ekspor Riau mencapai US$12,40 miliar, naik 1,77 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$12,02 miliar. Nilai tersebut meningkat 4,97 persen dibandingkan Januari–Juli 2025.
Meski demikian, kinerja ekspor pada Juli 2026 mengalami tekanan. Nilai ekspor Riau pada bulan tersebut tercatat US$1,91 miliar, turun 7,03 persen dibandingkan Juli 2025.
“Penurunan terjadi baik pada ekspor migas maupun nonmigas. Ekspor migas Riau pada Juli 2026 hanya mencapai US$36,80 juta atau turun 56,87 persen secara tahunan. Sementara ekspor nonmigas tercatat US$1,87 miliar, turun 4,87 persen dibandingkan Juli 2025,” jelas Asep dalam keterangan resminya, Rabu (2/9/2026).
Di tengah pelemahan ekspor Juli, komoditas berbasis sawit justru menunjukkan kinerja positif. Dari 10 komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar selama Januari–Juli 2026, lemak dan minyak hewan/nabati mencatat peningkatan terbesar.
“Komoditas yang mencakup minyak sawit dan produk turunannya itu meningkat US$345,10 juta atau 5,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” jelasnya.
Sebaliknya, penurunan terbesar terjadi pada komoditas bubur kayu atau pulp. Nilai ekspor komoditas tersebut turun US$166,95 juta atau 14,80 persen.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Riau selama Januari–Juli 2026 dengan nilai US$2,22 miliar. Berikutnya India sebesar US$1,01 miliar dan Malaysia US$944,31 juta.
Ketiga negara tersebut secara kumulatif menyumbang 34,70 persen terhadap total ekspor nonmigas Riau.
Sementara itu, nilai ekspor Riau ke kawasan ASEAN mencapai US$2,11 miliar. Adapun ekspor ke Uni Eropa yang mencakup 27 negara tercatat sebesar US$1,42 miliar.
Jika dilihat berdasarkan sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor sektor industri pengolahan meningkat 5,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berbeda dengan sektor industri pengolahan, ekspor hasil pertanian justru mengalami penurunan sebesar 10,20 persen.
Data tersebut menunjukkan industri pengolahan, termasuk produk turunan kelapa sawit, masih menjadi salah satu penopang penting kinerja ekspor Riau sepanjang tujuh bulan pertama 2026.