PEKANBARU (RA) - Proyek galian saluran Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dikerjakan beberapa tahun lalu kembali menyisakan persoalan di sejumlah ruas jalan Kota Pekanbaru. Beberapa titik jalan amblas atau mengalami penurunan permukaan aspal setelah pengerjaan proyek tersebut.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berpotensi membahayakan pengendara yang melintas. Penurunan permukaan jalan membuat kondisi sejumlah ruas menjadi tidak rata dan mengganggu kelancaran arus lalu lintas di sekitarnya.
Beberapa titik jalan yang terdampak tersebar di Kecamatan Sukajadi. Salah satunya berada di Jalan Cempaka, yang mengalami amblas setelah pengerjaan main hole IPAL.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru, Edward Riansyah mengatakan, perbaikan Jalan Cempaka saat ini dilakukan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Riau.
Perbaikan dilakukan dengan membongkar kembali bagian jalan yang bermasalah. Langkah tersebut dilakukan agar permukaan jalan tidak kembali amblas setelah nantinya dilakukan pengaspalan.
"Untuk di Jalan Cempaka dibongkar ulang oleh balai," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru, Edward Riansyah, Rabu (2/9/2026).
Namun, persoalan serupa tidak hanya terjadi di Jalan Cempaka. Ia menyebut terdapat ruas jalan lain yang mengalami penurunan permukaan aspal setelah pengerjaan IPAL. Di antaranya berada di Simpang Jalan Melur dan Jalan Semangka.
"Untuk Jalan Cempaka sudah mulai dikerjakan, setelah itu di Jalan Melur," terang Edu, sapaan akrabnya.
Menurut Edu, titik-titik jalan yang amblas akibat galian IPAL akan segera diperbaiki. Perbaikan dilakukan secara bertahap, termasuk pengaspalan kembali pada bagian jalan di sekitar main hole yang mengalami penurunan.
Ia mengakui terdapat sejumlah titik main hole IPAL yang mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat permukaan main hole tidak lagi sejajar dengan badan jalan dan perlu dilakukan penanganan agar tidak semakin mengganggu pengguna jalan.
"Kita akan naikkan main hole, kita cutting sepanjang satu meter. Lalu levelnya berkisar 15 centimeter, ada juga 20 centimeter," terangnya.
Edu menjelaskan, posisi main hole pada awalnya sebagian besar mengikuti permukaan aspal lama. Persoalan muncul setelah ruas jalan kembali dilakukan overlay atau pengaspalan, sehingga terdapat perbedaan level antara main hole dengan permukaan jalan.
"Karena ada selisih, nanti kita overlay kembali selisihnya. Kita mengikuti selisihnya," pungkasnya.
Dengan adanya sejumlah titik jalan yang mengalami penurunan, perbaikan menjadi penting untuk memastikan kondisi jalan kembali aman dan nyaman dilalui. Terlebih, ruas-ruas tersebut merupakan jalur yang digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Jika tidak segera ditangani, permukaan jalan yang tidak rata akibat penurunan tersebut berpotensi terus mengganggu arus lalu lintas dan meningkatkan risiko bagi pengguna jalan yang melintas.