Napas Ngos-ngosan saat Naik Tangga, Dokter Peringatkan Perokok Tanda Kerusakan Paru-Paru

Jumat, 21 Agustus 2026 | 05:57:52 WIB
Ilustrasi menaiki tangga.

RIAUAKTUAL (RA) - Rasa lelah atau napas terengah-engah setelah melakukan aktivitas fisik ringan, seperti naik tangga atau berjalan cepat, kerap dianggap sebagai tanda tubuh kurang fit. Namun, bagi perokok, kondisi tersebut bisa menjadi alarm awal kerusakan paru-paru yang berlangsung perlahan tanpa disadari.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof Erlina Burhan, menjelaskan asap rokok dapat merusak saluran pernapasan secara bertahap. Kerusakan tersebut bahkan bisa terjadi sebelum seseorang menyadari adanya gangguan pada paru-parunya.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Prof. Erlina memaparkan mekanisme biologis bagaimana asap rokok memengaruhi organ pernapasan.

“Semuanya berawal dari silia, rambut halus di saluran napas yang bertugas menyapu keluar lendir dan kotoran. Asap rokok melumpuhkan silia ini, lendir pun menumpuk dan memicu peradangan, dan di titik inilah batuk mulai lebih sering muncul,” ujar Prof. Erlina, dikutip dari laman iNews.

Kerusakan akibat asap rokok tidak berhenti pada saluran pernapasan. Racun yang terkandung dalam asap rokok juga dapat mencapai alveoli, yakni kantung udara kecil di paru-paru yang berperan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

“Sementara itu, racun rokok terus menyusup sampai ke alveoli, kantung kecil tempat oksigen diserap tubuh. Dinding alveoli perlahan rusak dan kehilangan kelenturannya, sehingga tubuh makin sulit mendapat oksigen yang cukup, terutama saat beraktivitas,” ujar dia.

Jika paparan rokok terus berlangsung, kerusakan pada saluran napas dan alveoli dapat semakin parah. Peradangan dalam jangka panjang berisiko menyebabkan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), kondisi yang membuat saluran napas menyempit secara permanen.

Prof. Erlina mengatakan sesak napas akibat PPOK berbeda dengan rasa lelah atau sesak setelah melakukan aktivitas fisik biasa. Gejalanya dapat terus memburuk seiring waktu.

“Kalau dibiarkan bertahun-tahun, saluran napas yang meradang akan menyempit secara permanen, kondisi yang disebut PPOK. Berbeda dari sesak biasa yang hilang setelah istirahat, sesak akibat PPOK terus memberat dan sulit pulih meski Anda berhenti merokok,” ujar Prof. Erlina.

Pada kondisi yang lebih parah, gangguan pada paru-paru juga dapat disertai komplikasi seperti efusi pleura atau penumpukan cairan di sekitar paru-paru. Kondisi tersebut dapat membuat paru-paru sulit mengembang secara optimal sehingga keluhan sesak semakin berat.

Karena itu, Prof. Erlina mengingatkan masyarakat, terutama perokok aktif yang mulai mengalami keluhan pada pernapasan, agar tidak mengabaikan gejala tersebut dan segera melakukan pemeriksaan.

“Jadi kalau sesak mulai terasa, periksakan diri ke spesialis paru sebelum semuanya terlambat,” ujarnya.

Terkini

Terpopuler