RIAUAKTUAL (RA) - Memilih bahan makanan untuk keluarga terkadang membuat orangtua harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk apakah produk organik lebih baik dibandingkan makanan yang ditanam secara konvensional.
Makanan organik sering dikaitkan dengan pola hidup sehat karena proses produksinya memiliki sejumlah aturan khusus. Namun, anggapan bahwa semua makanan organik otomatis lebih sehat ternyata tidak sepenuhnya benar.
Disadur dari Parents, ahli diet terdaftar Alicia Miller mengatakan, bukti mengenai perbedaan kandungan nutrisi antara makanan organik dan konvensional masih belum konsisten.
Menurutnya, sejumlah penelitian memang menemukan beberapa produk organik memiliki kandungan nutrisi sedikit lebih tinggi. Meski demikian, perbedaan tersebut tidak selalu ditemukan pada seluruh jenis makanan.
Secara umum, makanan organik berasal dari proses pertanian yang mengikuti standar tertentu. Produksinya biasanya menghindari pupuk sintetis, organisme hasil rekayasa genetika atau GMO, serta pestisida sintetis tertentu.
Pada produk hewani, ternak organik juga memiliki ketentuan terkait penggunaan antibiotik dan hormon pertumbuhan. Sementara itu, makanan olahan organik memiliki aturan mengenai bahan yang dapat digunakan dalam proses pembuatannya.
Salah satu pendiri Stonyfield Farm, Gary Hirshberg mengatakan konsumen dapat memperhatikan label organik untuk mengetahui apakah suatu produk telah memenuhi standar yang ditetapkan. Namun, makanan organik bukan berarti seluruh kandungannya otomatis lebih bergizi.
Dana Angelo White, ahli gizi terdaftar, mengingatkan bahwa makanan organik tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Ia memberikan gambaran sederhana bahwa kue tetap merupakan makanan tinggi gula dan kalori meskipun dibuat menggunakan bahan-bahan organik.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa beberapa sayuran organik memiliki kandungan mineral dan antioksidan yang lebih tinggi.
Ada pula penelitian yang mengaitkan konsumsi makanan organik dengan sejumlah manfaat kesehatan. Namun, Miller menilai bukti tersebut belum cukup konsisten untuk menyimpulkan bahwa makanan organik secara keseluruhan jauh lebih sehat daripada makanan konvensional.
Menurutnya, makanan yang ditanam secara konvensional tetap aman dan bergizi selama diproduksi sesuai standar keamanan pangan. Paparan pestisida dari makanan konvensional juga berada dalam batas yang dianggap aman.
Dengan demikian, keluarga tidak perlu merasa bersalah apabila belum mampu membeli seluruh bahan makanan dalam versi organik.
Salah satu kendala utama ketika beralih ke makanan organik adalah harganya yang cenderung lebih mahal. Biaya produksi, tenaga kerja, lahan, peralatan, hingga sertifikasi menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi harga.
Karena itu, orangtua dapat menentukan prioritas ketika berbelanja. Miller menyarankan memilih produk organik untuk buah dan sayuran yang bagian kulitnya biasa ikut dimakan, seperti apel dan buah beri.
Sementara itu, makanan yang kulitnya dikupas, seperti pisang, alpukat, dan jeruk, dapat menjadi pilihan konvensional. Cara lain untuk menghemat pengeluaran adalah membeli produk musiman, berbelanja dalam jumlah besar, serta memanfaatkan diskon dan kupon.
Jika makanan organik segar dirasa terlalu mahal, produk beku dapat dipertimbangkan. Makanan yang dibekukan dengan cepat tetap dapat mempertahankan kandungan nutrisinya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa buah dan sayuran beku dapat memiliki nilai gizi yang setara dengan produk segar. Dalam kondisi tertentu, kandungan nutrisinya bahkan bisa lebih tinggi.
Selain itu, keluarga dapat mencari bahan makanan dari petani lokal melalui pasar tani, koperasi pangan, atau program pertanian berbasis komunitas. White mengatakan produk dari petani kecil belum tentu memiliki sertifikasi organik karena biaya sertifikasi bisa cukup besar.
Namun, konsumen dapat bertanya langsung kepada petani mengenai metode yang digunakan dalam proses produksi. Pada akhirnya, ahli menekankan bahwa makanan sehat tidak harus selalu berlabel organik. Yang terpenting adalah memastikan keluarga mendapatkan makanan bergizi seimbang sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.