Menjaga Identitas Melayu di Ruang Digital: Cara Generasi Muda Riau Memaknai Budaya Lokal

Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:46:00 WIB
Tania Dwika Putri, M.I.Kom. Dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Hang Tuah Pekanbaru

RIAUAKTUAL (RA) - Perkembangan media sosial membawa perubahan yang cukup besar terhadap cara generasi muda berkomunikasi. 

Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya tidak lagi hanya menjadi ruang berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi tempat seseorang menunjukkan siapa dirinya, lingkungan sosialnya, bahkan budaya yang melekat dalam kehidupannya.

Bagi masyarakat Riau, perubahan ini menarik untuk dicermati. Budaya Melayu selama ini tumbuh melalui kehidupan sosial masyarakat, bahasa, adat istiadat, kesenian, cara berpakaian, makanan, hingga nilai kesantunan dalam berkomunikasi. 

Namun ketika generasi mudanya semakin dekat dengan media sosial, muncul pertanyaan: apakah identitas Melayu masih mendapat tempat dalam kehidupan mereka?

Pertanyaan inilah yang menjadi perhatian saya dalam penelitian mengenai strategi komunikasi digital generasi muda Melayu Riau dalam mempertahankan identitas budaya lokal melalui media sosial. 

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Hang Tuah Pekanbaru menjadi ruang yang menarik untuk melihat fenomena tersebut karena mereka berada pada persimpangan antara budaya lokal dan perkembangan komunikasi digital yang sangat cepat.

Dari proses penelitian yang dilakukan, saya melihat bahwa media sosial tidak serta-merta membuat generasi muda meninggalkan budaya lokal. Justru yang terjadi adalah perubahan cara mereka menampilkan dan memaknai budaya tersebut.

Identitas Melayu masih ada, tetapi cara menceritakannya mulai berubah.

Budaya Melayu Tidak Hilang, tetapi Berubah Cara Bercerita

Bagi generasi muda, memperlihatkan identitas Melayu tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan adat yang formal. Identitas itu dapat hadir dalam hal-hal yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Bahasa dan ungkapan Melayu, makanan khas daerah, pakaian, musik, kesenian, tempat-tempat yang memiliki nilai budaya, cerita tentang kehidupan masyarakat Riau, hingga dokumentasi kegiatan kampus dapat menjadi bagian dari cara mereka memperlihatkan kedekatan dengan budaya lokal.

Hal yang menarik bagi saya adalah ketika unsur-unsur tersebut masuk ke media sosial, cara penyampaiannya ikut berubah.

Generasi muda tidak selalu menceritakan budaya dengan bahasa yang formal. Mereka lebih nyaman menggunakan video singkat, foto, reels, story, musik yang sedang populer, humor, maupun gaya bercerita yang lebih santai.

Di sinilah saya melihat bahwa pelestarian budaya pada generasi digital tidak selalu berarti mempertahankan seluruh bentuk komunikasi lama. Ada proses penyesuaian. Nilainya dapat tetap lokal, tetapi cara menyampaikannya mengikuti perkembangan zaman.

Sederhananya, *mereka menggunakan bahasa media yang global untuk menceritakan sesuatu yang lokal.*

Temuan seperti ini juga terlihat dalam penelitian Putri dkk. (2025) terhadap mahasiswa Ilmu Komunikasi di Riau. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa TikTok dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenal dan menampilkan unsur budaya lokal, antara lain tarian tradisional, kuliner, dan bahasa daerah. Namun penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa paparan konten global dapat memengaruhi kekuatan identitas budaya mahasiswa.

Bagi saya, kondisi ini justru menunjukkan bahwa persoalan utama kita hari ini bukan lagi sekadar apakah generasi muda mengenal budaya Melayu atau tidak. Persoalannya adalah *bagaimana budaya Melayu dapat tetap memiliki ruang di tengah perhatian generasi muda yang setiap hari diperebutkan oleh begitu banyak konten digital.*

Tidak Semua Anak Muda Harus Membuat Konten Budaya

Ada satu hal yang juga penting untuk dipahami. Kedekatan seseorang dengan budaya tidak selalu dapat diukur dari seberapa sering ia mengunggah konten budaya di media sosial.

Seorang mahasiswa bisa saja memiliki kebanggaan yang kuat terhadap budaya Melayu, memahami nilai kesantunan, menghormati adat, menggunakan ungkapan lokal dalam lingkungan keluarga, dan merasa sebagai bagian dari masyarakat Riau, tetapi hampir tidak pernah membuat konten khusus mengenai budaya Melayu.

Sebaliknya, seseorang dapat mengunggah konten budaya karena sedang mengikuti kegiatan kampus, mengerjakan tugas, mengikuti tren, atau karena konten tersebut menarik secara visual.

Karena itu, dalam melihat hubungan generasi muda dengan budaya lokal, saya tidak ingin berhenti pada pertanyaan: “Seberapa sering Anda mengunggah budaya Melayu?”

Pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting adalah: “Apa arti menjadi bagian dari budaya Melayu bagi Anda ketika hidup di tengah lingkungan digital seperti sekarang?”

Dari sana kita dapat melihat bahwa identitas budaya memiliki lapisan yang lebih dalam daripada sekadar unggahan.

Media sosial adalah tempat identitas itu ditampilkan. Namun di balik unggahan tersebut terdapat proses memilih, menyesuaikan, dan menentukan bagian mana dari budaya yang dianggap dekat dengan kehidupan mereka.

Generasi Muda Sedang Menegosiasikan Identitasnya

Saya melihat generasi muda hari ini hidup dengan dua dunia yang tidak harus selalu dipertentangkan.

Di satu sisi mereka tumbuh dalam lingkungan Riau yang memiliki sejarah dan nilai budaya Melayu. Di sisi lain mereka menjadi bagian dari masyarakat digital yang setiap hari berhadapan dengan musik, bahasa, mode, gaya hidup, humor, dan tren dari berbagai belahan dunia.

Keduanya kemudian bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang mahasiswa dapat mengikuti tren TikTok, menggunakan istilah populer, menikmati budaya Korea atau Barat, tetapi pada saat yang sama tetap bangga menggunakan pakaian Melayu pada kegiatan tertentu, menikmati makanan khas Riau, mengenal kesenian daerah, atau menggunakan ungkapan Melayu ketika berkomunikasi dengan keluarga dan teman.

Saya tidak melihat kondisi tersebut semata-mata sebagai lunturnya identitas budaya. Saya justru melihat adanya *proses negosiasi identitas*.

Generasi muda sedang menentukan sendiri bagaimana menjadi modern tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas lokalnya.

Hal ini penting karena budaya memang tidak hidup dalam ruang yang kosong. Budaya selalu berhadapan dengan perubahan masyarakat. Daherman, Shasrini dan Setiawan (2020), misalnya, telah menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa di media sosial memiliki hubungan dengan eksistensi budaya Melayu Riau. 

Artinya, ruang digital sudah menjadi salah satu arena tempat keberadaan budaya Melayu dinegosiasikan oleh generasi muda.

Tantangannya Justru pada Produksi Konten

Dari pengamatan saya, tantangan yang perlu mendapat perhatian bukan semata-mata tingginya penggunaan media sosial oleh generasi muda. Kita sudah berada pada masa ketika meminta mahasiswa menjauh dari media sosial bukan lagi pilihan yang realistis.

Tantangannya adalah bagaimana mengubah posisi generasi muda dari sekadar *konsumen konten menjadi produsen pesan budaya.*

Media sosial dipenuhi konten yang datang dari berbagai negara dan budaya. Konten tersebut dibuat menarik, singkat, visual, dan sesuai dengan karakter generasi muda.

Jika budaya Melayu ingin hadir di ruang yang sama, maka kita juga perlu berani mengomunikasikannya dengan cara yang kreatif.

Tidak semua konten budaya harus berbentuk dokumentasi acara adat. Cerita tentang istilah Melayu yang mulai jarang digunakan, filosofi makanan tradisional, makna pakaian Melayu, cerita rakyat, musik daerah, nilai kesantunan, tempat bersejarah, hingga kebiasaan masyarakat dapat dikembangkan menjadi konten digital yang menarik.

Di sinilah mahasiswa Ilmu Komunikasi sebenarnya memiliki posisi yang strategis.

Mereka belajar mengenai pesan, media, audiens, komunikasi visual, produksi konten, public relations, jurnalistik, hingga perkembangan media digital. Pengetahuan tersebut seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengikuti perkembangan industri komunikasi, tetapi juga dapat digunakan untuk membantu budaya lokal menemukan cara baru untuk berbicara kepada generasinya sendiri.

Kampus Bisa Menjadi Ruang Pertemuan Budaya dan Teknologi

Penelitian ini akhirnya membawa saya pada pemikiran bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar mengajarkan mahasiswa mengenal budaya lokal.

Kampus dapat menjadi ruang pertemuan antara *budaya, kreativitas, dan teknologi.*

Mahasiswa dapat didorong menghasilkan karya komunikasi yang berangkat dari kekayaan lokal Riau. Tugas produksi konten, fotografi, video, jurnalistik, public relations, kampanye komunikasi, maupun proyek media digital dapat diarahkan untuk mengeksplorasi budaya yang ada di sekitar mereka.

Pendekatan seperti ini menurut saya lebih efektif daripada sekadar meminta generasi muda menghafal unsur-unsur kebudayaan.

Biarkan mereka mengenal budaya dengan cara meneliti, merekam, menceritakan, mengemas, dan menyebarkannya kembali menggunakan bahasa komunikasi yang mereka kuasai.

Dengan begitu, pelestarian budaya tidak berhenti pada slogan.

Budaya menjadi sesuatu yang mereka produksi sendiri.

Menjadi Melayu di Era Digital

Pada akhirnya, perkembangan teknologi memang membawa tantangan bagi keberlangsungan budaya lokal. Arus informasi yang begitu cepat membuat generasi muda memiliki semakin banyak pilihan dalam membentuk gaya hidup dan identitasnya.

Namun saya tidak melihat media sosial semata-mata sebagai ancaman.

Media sosial juga membuka ruang yang sebelumnya tidak pernah kita miliki. Sebuah cerita mengenai budaya Melayu yang dahulu hanya dikenal dalam lingkungan keluarga atau masyarakat tertentu, hari ini dapat disaksikan oleh ribuan orang hanya melalui satu video pendek.

Persoalannya kemudian bukan lagi apakah teknologi akan menghilangkan budaya Melayu.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: *apakah kita mampu membuat budaya Melayu tetap bermakna bagi generasi yang hidup bersama teknologi?*

Generasi muda tidak harus kembali ke masa lalu untuk mempertahankan identitasnya. Mereka hanya perlu memahami akar budayanya dan menemukan cara yang relevan untuk membawanya ke masa depan.

Karena mempertahankan budaya bukan berarti menolak perubahan.

Bagi saya, mempertahankan budaya adalah memastikan bahwa di tengah perubahan tersebut, generasi berikutnya masih mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan nilai apa yang layak dibawa bersamanya.

Dan hari ini, salah satu ruang untuk menceritakan itu adalah media sosial.

Referensi :

Daherman, Y., Shasrini, T. and Setiawan, H. (2020) ‘Peran Cyber Army terhadap Eksistensi Budaya Melayu Riau’, Jurnal Ranah Komunikasi, 4(2), pp. 178–185. doi:10.25077/rk.4.2.178-185.2020.

Putri, Y.M., Afriliyan, R., Ramadhan, S., Setyawan, Z. and Sari, D. (2025) ‘Communication Students Perception of the Impact of TikTok Use in Forming Cultural Identity and Nationalism in the Era of Globalization’, Dharmawangsa: International Journal of the Social Sciences, Education and Humanities, 6(2), pp. 239–247. doi:10.46576/ijsseh.v6i2.7128.

Penulis : Tania Dwika Putri, M.I.Kom.
Dosen Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Terkini

Terpopuler