Dasco Apresiasi Langkah BI Perkuat Rupiah, Transaksi RI-China Tak Lagi Bergantung Dolar AS

Senin, 15 Juni 2026 | 05:45:19 WIB
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad (tengah). (Foto: Parlemen TV)

JAKARTA (RA) - Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) dalam memperkuat posisi Rupiah melalui kerja sama strategis dengan Bank Sentral China. 

Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi upaya nyata untuk mengurangi ketergantungan terhadap Dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan internasional.

Apresiasi itu disampaikan Dasco menanggapi penandatanganan kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng yang berlangsung di Shanghai, China, pada 11 Juni 2026.

"Kesepakatan ini memungkinkan transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong menggunakan Rupiah atau Renminbi tanpa harus bergantung pada Dolar Amerika Serikat," kata Dasco dalam keterangannya kepada yang dilansir dari rmol.id, Minggu (14/6/2026).

Selain BCSA, Bank Indonesia, People's Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) juga menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait perluasan implementasi Local Currency Transaction (LCT) yang kini mencakup wilayah Hong Kong.

Penandatanganan MoU tersebut turut dilakukan Chief Executive HKMA, Eddie Yue.

Menurut Dasco, kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan China dan Hong Kong, sekaligus meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara.

Ia juga mengungkapkan bahwa dalam kesepakatan tersebut turut disepakati implementasi QRIS lintas batas antara Indonesia dan China.

"Dengan adanya QRIS lintas negara, transaksi antara pelaku usaha maupun masyarakat Indonesia dan China dapat dilakukan secara lebih mudah dan efisien," ujarnya.

Dasco menyebut sistem pembayaran tersebut saat ini telah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 penyedia layanan di Indonesia yang saling terhubung.

Lebih lanjut, ia menilai kesepakatan antara BI dan PBOC akan memberikan dampak positif terhadap perdagangan kedua negara yang nilainya mencapai 154,5 miliar dolar AS pada 2025.

Melalui skema LCT, transaksi ekspor dan impor antara Indonesia dan China dapat dilakukan menggunakan Rupiah dan Renminbi tanpa harus melalui Dolar AS sebagai mata uang perantara.

"Ini merupakan upaya yang sangat serius untuk mengurangi kebutuhan Dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan. Termasuk dengan diterapkannya QRIS lintas negara antara Indonesia dan China. Langkah ini dilakukan BI untuk memperkuat Rupiah," tegasnya.

Dasco berharap kerja sama tersebut dapat semakin meningkatkan stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus memperkuat kemandirian sistem keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Tags

Terkini

Terpopuler