KAI Matangkan Uji B50 Jelang Berlaku Nasional, Keselamatan dan Keandalan Jadi Prioritas

Ahad, 31 Mei 2026 | 11:02:11 WIB
Uji coba B50 pada kereta api. (Dok.KAI)

JAKARTA (RA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mematangkan persiapan menjelang penerapan mandatori biodiesel B50 yang akan berlaku secara nasional mulai 1 Juli 2026. 

Sebagai operator transportasi publik berbasis rel, KAI memastikan seluruh sarana kereta api berbahan bakar diesel siap mengadopsi campuran biodiesel 50 persen tanpa mengurangi aspek keselamatan, keandalan operasional, maupun kualitas layanan kepada penumpang.

Diketahui, pemerintah akan mulai menerapkan program B50 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis nabati. Kebijakan ini menjadi kelanjutan dari implementasi biodiesel B35 dan B40 yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perusahaan mendukung penuh langkah pemerintah dalam mempercepat transisi energi di sektor transportasi.

"KAI mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan. Pada setiap tahapan implementasinya, aspek keselamatan, keandalan sarana, dan kualitas layanan tetap menjadi perhatian utama," ujar Anne, dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (31/5/2026).

Menurut Anne, penggunaan biodiesel bukan hal baru bagi KAI. Perseroan telah mengoperasikan berbagai layanan kereta berbasis diesel menggunakan B40 dan kini tengah melakukan serangkaian pengujian untuk memastikan kesiapan penggunaan B50 secara penuh.

Sepanjang 2025, layanan Kereta Api Jarak Jauh yang menggunakan biodiesel B40 menghasilkan total emisi karbon sekitar 127.315.192 kilogram CO?e atau setara 127,3 ribu ton dari total 47,4 juta pelanggan yang dilayani. Sementara pada periode Januari hingga April 2026, layanan KA Jarak Jauh dan KA Lokal telah mengangkut 19,2 juta pelanggan dengan tetap menggunakan bahan bakar biodiesel pada perjalanan kereta diesel.

KAI menilai moda transportasi berbasis rel memiliki keunggulan dari sisi lingkungan. Berbagai studi menunjukkan emisi kereta api berada pada kisaran 15 hingga 40 gram CO? per penumpang-kilometer. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding kendaraan pribadi yang menghasilkan sekitar 120 hingga 250 gram CO? per penumpang-kilometer.

Untuk mendukung implementasi B50, KAI menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta LEMIGAS dalam melakukan pengujian teknis yang dimulai sejak pertengahan April 2026.

Pengujian dilakukan secara bertahap, mulai dari proses pencampuran atau blending bahan bakar, pemeriksaan kondisi sarana, hingga uji operasional pada sejumlah armada. Untuk lokomotif, pengujian dipusatkan di Depo Sidotopo dengan fokus pada performa mesin, karakteristik pembakaran, serta konsumsi bahan bakar selama menggunakan B50.

Sementara itu, pengujian kereta pembangkit dilakukan di Depo Kereta Yogyakarta. Tim teknis memantau konsumsi bahan bakar dan melakukan evaluasi berkala setiap 300 jam operasi. Tahapan pengujian dimulai dengan penggunaan B40 sebagai pembanding sebelum beralih ke B50 untuk melihat respons sarana dalam berbagai kondisi operasional.

Selain pengujian jangka pendek, KAI juga menyiapkan pengujian lanjutan dalam durasi yang lebih panjang guna memastikan daya tahan komponen dan stabilitas performa armada selama beroperasi secara intensif.

Hingga kini, seluruh hasil pengujian masih dalam tahap evaluasi bersama pemerintah dan tim teknis. KAI menegaskan seluruh proses dilakukan secara terukur agar implementasi B50 berjalan aman dan efektif saat diterapkan secara nasional.

"Percepatan implementasi B50 memerlukan kesiapan yang terukur agar tetap selaras dengan standar keselamatan dan kualitas layanan transportasi publik. KAI terus memperkuat koordinasi dan pengujian teknis agar implementasinya dapat berjalan optimal dan berkelanjutan," tutup Anne.

Tags

Terkini

Terpopuler