Limbah jadi Energi, Biopelet Jadi Peluang Menggiurkan Bagi UMKM Sawit

Ahad, 17 Mei 2026 | 11:21:18 WIB
Tumpukan tandan buah segar (TBS) di pabrik kelapa sawit (PKS).

JAKARTA (RA) - Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kelapa sawit untuk mulai mengembangkan produk biopelet berbasis biomassa. 

Langkah ini dinilai menjadi peluang baru dalam menciptakan nilai tambah dari limbah sawit sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan Analis Divisi UKMK BPDP, Anwar Sadat, usai kegiatan Pemberdayaan UMKM Kelapa Sawit Melalui Pengolahan Biomassa dan Produksi Biopelet yang digelar DPP APKASINDO di Jambi baru-baru ini.

Anwar mengatakan, potensi biomassa kelapa sawit di Indonesia sangat besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, limbah sawit seperti tandan kosong, pelepah, cangkang hingga batang hasil peremajaan memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah menjadi biopelet.

"Kami melihat peluang besar dari biomassa sawit yang selama ini belum dimaksimalkan. Dengan teknologi yang relatif terjangkau, bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi biopelet yang memiliki nilai tambah," ujar Anwar.

Menurutnya, pengembangan industri biopelet membutuhkan sinergi banyak pihak, mulai dari asosiasi petani, koperasi, UMKM, hingga lembaga riset dan perguruan tinggi. Dukungan teknologi dan riset dianggap penting agar kualitas produk mampu memenuhi standar pasar nasional maupun internasional.

BPDP sendiri, kata dia, terus berkomitmen memperkuat kapasitas pelaku UMKM sawit melalui pelatihan dan workshop pengolahan biomassa. Program tersebut ditujukan untuk mempercepat diseminasi teknologi sekaligus meningkatkan pemahaman pelaku usaha terhadap proses produksi biopelet.

"Diseminasi teknologi masih menjadi tantangan terbesar. Kami perlu memastikan pelaku UMKM memahami proses produksi hingga mampu memenuhi standar yang dibutuhkan pasar," jelasnya.

Anwar menuturkan, salah satu tantangan utama dalam pengembangan biopelet adalah menjaga standar kualitas produk, terutama terkait nilai kalor, kadar air, hingga spesifikasi teknis lainnya. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami formulasi pencampuran bahan baku biomassa agar produk yang dihasilkan sesuai kebutuhan pasar.

Di sisi lain, peluang pasar biopelet dinilai sangat menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan energi terbarukan dunia. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan disebut memiliki permintaan tinggi terhadap biomassa sawit, termasuk cangkang sawit dan biopelet.

Dengan luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai lebih dari 16 juta hektare, ketersediaan bahan baku biomassa dinilai sangat melimpah. Bahkan sekitar 70 persen biomassa sawit disebut masih belum dimanfaatkan secara optimal.

"Dengan potensi tersebut, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dalam industri biopelet dunia," katanya.

Ia menegaskan, pemanfaatan limbah sawit menjadi biopelet tidak hanya memberi keuntungan ekonomi, tetapi juga membantu mengurangi limbah industri sawit yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.

Dikutip dari situs resmi PT Propadu Konair Tarahubun (PT PKT), limbah sawit seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan serat mesocarp dapat diolah menjadi bahan baku biopelet yang ramah lingkungan dan bernilai jual tinggi.

Tahap awal dimulai dari proses pengumpulan dan pemisahan limbah sawit dari pabrik kelapa sawit. Limbah yang masih dapat dimanfaatkan, seperti TKKS dan serat sawit, dipisahkan dari bahan berbahaya atau material yang tidak dapat digunakan dalam proses produksi.

Setelah itu, limbah sawit memasuki tahap pengeringan untuk menurunkan kadar air yang tinggi. Proses pengeringan dapat dilakukan secara alami melalui penjemuran di bawah sinar matahari maupun secara mekanis menggunakan pemanas hasil pembakaran biomassa.

Pengeringan dinilai penting karena kadar air yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kualitas biopelet yang dihasilkan.

Selanjutnya, limbah sawit yang telah kering digiling menjadi ukuran lebih kecil agar lebih mudah diolah. Bahan hasil gilingan kemudian dicampur dengan bahan tambahan seperti perekat atau bahan pengisi untuk meningkatkan kepadatan dan daya tahan biopelet.

Pada tahap pencetakan, campuran bahan dimasukkan ke dalam mesin pellet mill dengan suhu sekitar 150 derajat Celsius dan tekanan mencapai 260 kg/cm³. Tekanan dan panas tinggi tersebut membuat biomassa berubah menjadi pelet padat berbentuk silinder kecil.

Biopelet yang baru keluar dari mesin masih dalam kondisi panas sehingga harus dipanaskan kembali menggunakan oven selama sekitar satu jam pada suhu 100 derajat Celsius untuk menstabilkan kadar air dan memperkuat struktur pelet.

Setelah proses pengeringan selesai, biopelet menjalani pengujian mutu. Pengujian dilakukan terhadap sejumlah parameter penting seperti nilai kalor, kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, serta kadar karbon terikat untuk memastikan kualitas produk sesuai standar pasar.

Tahapan berikutnya adalah proses pendinginan sebelum biopelet dikemas dan didistribusikan ke konsumen. Pendinginan diperlukan karena pelet masih memiliki suhu tinggi dan kandungan air yang cukup besar setelah proses produksi.

Menurut PT PKT, pemanfaatan limbah sawit menjadi biopelet memiliki banyak keuntungan, mulai dari mengurangi limbah perkebunan yang mencemari lingkungan hingga menciptakan produk energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Selain itu, pengolahan biomassa sawit juga membuka peluang ekonomi baru bagi industri sawit, koperasi, hingga pelaku UMKM di daerah sentra perkebunan.

Dengan meningkatnya kebutuhan energi hijau dunia, biopelet berbasis limbah sawit dinilai memiliki prospek pasar yang sangat besar, termasuk untuk kebutuhan ekspor ke sejumlah negara yang tengah mengurangi penggunaan energi fosil.

Tags

Terkini

Terpopuler