Membaca Fenomena Gen Z Pakai Tarot dari Perspektif Psikologi

Senin, 04 Mei 2026 | 06:27:07 WIB
Kartu tarot.

RIAUAKTUAL (RA) - GENERASI Z sering dikaitkan dengan ide unik. Banyak kegiatan yang dianggap tidak biasa, namun cukup populer di kalangan generasi ini Tidak heran, saat ini, topik Gen Z tidak henti-hentinya menjadi perbincangan dan bahan diskusi. Salah satu contohnya adalah hal unik dalam mengelola emosi.

Gen Z seringkali dihadapkan dengan situasi yang memicu depresi. Namun, cara yang ditempuh juga tergolong unik, salah satunya dengan penggunaan kartu tarot. Saat ini, banyak di antara kalangan Generasi Z yang memilih kartu tarot sebagai salah satu perspektif dalam mengurai rasa gelisah akan hal yang sudah atau belum terjadi.

Menanggapi fenomena ini, Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair) Dian Kartika Amelia menyampaikan bahwa tarot bukanlah hal baru, melainkan sudah ada dari beberapa generasi sebelumnya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa spesifik pada Gen Z?

Menurut Dian, dari perspektif psikologi, itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak atau tidak berdaya. "Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” kata dia, dilansir dari Tempo.

Lebih lanjut, Dian menggambarkan bahwa pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan individu untuk bisa memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Sehingga, hal tersebut dapat mengurangi kecemasan dan menjadi salah satu coping mechanism pada individu tersebut.

“Misalnya, karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apapun yang bisa dianggap menenangkan,” tuturnya.

Dosen Fakultas Psikologi Unair itu juga menyampaikan dampak dari penggunaan tarot. Menurut dia, ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi peringatan pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat pemecahan masalah. Dengan kata lain, pemikiran yang membuat individu tidak berusaha memperbaiki situasi dirinya karena merasa bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan.

"Dari perspektif psikologi itu disebut self-fulfilling prophecy," katanya menerangkan. Dian menambahkan, “Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi, tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya.”

Dian memberikan tips menghadapi stres secara mandiri, yakni dengan cara belajar untuk mengelola stres dengan beberapa cara. Dia merujuk aktivitas journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan berolahraga secara rutin. "Namun, dalam menghadapi krisis emosional, ketika individu tidak mampu menangani sendiri, maka hal terbaik adalah mendatangi psikolog maupun psikiater untuk mendapatkan penanganan secara profesional," kata dia.

Terkini

Terpopuler