Kapolda Riau dan Rocky Gerung Turun ke Titik Api di Dumai

Jumat, 27 Maret 2026 | 19:31:51 WIB
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan bersama Rocky Gerung turun mengecek dan padamkan api di Dumai.

DUMAI (RA) - Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan turun langsung meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Jumat (27/3/2026).

Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan penanganan di lapangan berjalan maksimal.

Dalam peninjauan tersebut, Kapolda turut didampingi Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung serta unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, hingga relawan yang terlibat dalam proses pemadaman.

Tak hanya meninjau, Herry Heryawan yang akrab disapa Herimen bersama Rocky Gerung juga sempat turun langsung ke titik api dan ikut dalam proses pemadaman bersama tim gabungan.

Berdasarkan data terkini, masih terdapat 11 titik panas (hotspot) di wilayah Dumai.

Rinciannya, dua titik berada di Dumai Timur dan sembilan titik di Medang Kampai dengan status kategori medium. Sementara itu, total luas lahan terdampak kebakaran mencapai sekitar 87,25 hektare.

Meski begitu, kondisi di lapangan mulai menunjukkan tren positif. Jumlah titik api yang sebelumnya mencapai puluhan kini berangsur menurun secara signifikan.

"Hari ini saya hadir langsung di lokasi di Kecamatan Dumai Timur. Saya didampingi oleh Pak Rocky dari Tumbuh Institute yang sejak beberapa hari terakhir terus bersama kami, mulai dari Rupat, Pelalawan, hingga hari ini di Dumai," ujar Herry, Jumat (27/3/2026).

Ia menegaskan, penurunan jumlah titik api merupakan hasil kerja kolaboratif lintas sektor yang terus dijaga.

"Di Dumai Timur ini ada penurunan yang cukup signifikan. Dari sebelumnya puluhan titik api, alhamdulillah saat ini tinggal delapan titik yang terus kita tangani. Ini adalah hasil kerja bersama seluruh unsur, baik TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Damkar, Manggala Agni, MPA, relawan, hingga dukungan pihak swasta," jelasnya.

Menurutnya, kunci utama dalam penanganan karhutla adalah sinergi seluruh pihak serta respons cepat terhadap kendala di lapangan.

"Kita tidak bisa bekerja parsial. Semua harus gotong royong. Apa yang menjadi kendala di lapangan harus segera kita jembatani, baik dari sisi peralatan, dukungan water bombing, maupun langkah-langkah lain seperti modifikasi cuaca yang sudah kita komunikasikan," tegasnya.

Kapolda juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih cukup berat, terutama menjelang puncak musim kemarau pada pertengahan tahun.

"Menghadapi situasi yang lebih panjang ke depan, terutama Juni sampai Agustus, kerja kolaboratif ini harus terus kita jaga. Ini bukan kerja satu pihak, ini kerja bersama," tambahnya.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai langkah cepat aparat dalam menangani karhutla menjadi faktor penting untuk memutus pola kebakaran yang berulang setiap tahun.

"Seratus hari ke depan ini adalah fase ujung dari El Nino, artinya akan ada panas yang ekstra. Kita tahu ini masalah yang berulang setiap tahun. Tapi saya melihat ada inisiatif yang baik ketika aparat turun lebih awal untuk memulai penanganan," ujar Rocky.

Ia menekankan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi juga membutuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan.

"Kita bisa lakukan water bombing, kita bisa modifikasi cuaca, teknologi bisa membantu. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga hubungan dengan alam. Kalau itu tidak dijaga, masalah ini akan terus berulang," katanya.

Menurut Rocky, persoalan karhutla merupakan refleksi hubungan manusia dengan lingkungan yang harus dijaga bersama.

"Alam punya hukumnya sendiri. Kita bisa padamkan api, tapi kalau relasi kita dengan alam bermasalah, maka kebakaran akan terus terjadi. Karena itu dibutuhkan keterlibatan semua pihak, dari negara, masyarakat, hingga akademisi, untuk memastikan kebakaran tidak meluas," pungkasnya.

Tags

Terkini

Terpopuler