JAKARTA (RA) - Rencana pemberlakuan Pajak Air Permukaan (PAP) sebesar Rp1.700 per pohon kelapa sawit terus menuai sorotan, terutama dari pelaku industri kelapa sawit.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah beban baru bagi industri sawit nasional yang saat ini sudah sarat pajak dan pungutan.
Menurut Eddy, industri sawit saat ini telah menanggung berbagai kewajiban fiskal, baik di tingkat daerah maupun pusat.
Di daerah, terdapat sejumlah retribusi, sementara di tingkat pusat diberlakukan beragam pajak, pungutan ekspor, hingga kebijakan Dana Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan penahanan 50 persen devisa ekspor selama satu tahun.
"Industri sawit sekarang sudah banyak terbebani dengan pajak dan pungutan. Jika masih ditambah Pajak Air Permukaan sebesar Rp1.700 per pohon, ini jelas akan menjadi beban baru," ujar Eddy kepada riauaktual.com, Selasa (3/2/2026).
Eddy mengatakan, penambahan beban tersebut berisiko membuat biaya produksi sawit Indonesia semakin mahal. Kondisi ini, lanjutnya, dapat berdampak langsung pada daya saing sawit nasional di pasar global.
"Akibatnya, sawit Indonesia akan semakin tidak kompetitif karena harganya menjadi lebih tinggi dibanding negara produsen lain," jelasnya.
Lebih jauh, Eddy mengingatkan bahwa dampak kebijakan tersebut tidak berhenti di level industri. Tekanan biaya yang meningkat berpotensi menekan harga Crude Palm Oil (CPO) di tingkat produsen. Pada akhirnya, kondisi tersebut akan berimbas langsung pada harga Tandan Buah Segar (TBS) yang diterima petani.
"Yang sering tidak disadari, beban ini akan menekan harga CPO. Ujung-ujungnya, harga TBS petani juga akan ikut tertekan," ungkapnya.
GAPKI pun berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali rencana penerapan PAP tersebut secara matang, dengan melihat kondisi industri secara menyeluruh serta dampaknya terhadap petani sawit rakyat.
Menurut Eddy, kebijakan fiskal di sektor strategis seperti sawit semestinya diarahkan untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing, bukan justru menambah tekanan di tengah tantangan global yang kian berat.