Fahri Hamzah : Kemampuan Prabowo Subianto Setara Soekarno

Fahri Hamzah : Kemampuan Prabowo Subianto Setara Soekarno
Fahri Hamzah saat membuka Gelora Talks bertema 'Arah Politik Luar Negeri Prabowo'

Riauaktual.com - Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, Indonesia akan segera memiliki seorang Presiden yang mempunyai kemampuan setara dengan Presiden RI pertama Soekarno. 

Pikiran dan pandangan Soekarno ketika itu, mampu menjelaskan keberadaan negara baru bernama Indonesia dan berani melakukan konfrontasi dengan negara lain.

"Alhamdulillah, kita bersyukur akan punya Presiden yang punya kemampuan menjuru bicarai Indonesia seperti Presiden Soekarno dulu," ujar Fahri saat membuka Gelora Talks  bertema 'Arah Politik Luar Negeri Prabowo: Dari Isu Ukraina Hingga ke GAZA', Rabu (5/5/2024) sore.

Fahri menjelaskan di masa Soeharto sangat slow, karena fokus dalam membangun infrastruktur dasar menuju sebuah negara maju dan modern. Namun Soeharto berhasil menjadikan Indonesia sebagai kekuatan baru di Asia, bukan hanya kemajuan bidang ekonomi, tapi juga politik dan pendidikan.

"Tapi setelah itu, penjuru bicaranya kurang keras. Pak Habibie (BJ Habibie) hanya sebentar, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) juga. Lalu, masuk ke Ibu Mega (Megawati Soekarnoputri), Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang berlatar belakang militer, tapi dikenal soft," katanya. 

"Kemudian kita masuk ke Pak Jokowi (Joko Widodo) yang kira-kira mirip juga dengan Pak Harto yang agak fokus kepada pembangunan," imbuhnya.

Sementara, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih memiliki kemampuan dan sikap  keras seperti Presiden Soekarno, selain kemampuan bahasa asingnya yang cukup baik.

"Mudah-mudahan Pak Prabowo bisa menjuru bicarai kepentingan Indonesia di dunia internasional, tapi tidak dengan konfrontasi. Terpilihnya Pak Prabowo telah menarik perhatian bangsa-bangsa di dunia," katanya.

Smart War

Sementara itu, KSAU 2002-2005 Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim mengatakan, Indonesia saat ini tengah berhadapan dengan situasi geopolitik yang tak menguntungkan. Yakni adanya konflik global dan ancaman smart war (perang yang cerdas), bukan perang konvensional. 

Konflik geopolitik global itu terjadi antara Rusia-Ukraina, Israel-Iran, Amerika Serikat-China. Lalu, adanya ancaman perang di Laut China Selatan, dan ancaman AUKUS Australia. 

"Semua itu adalah konflik geopolitik berupa perang, dan sekarang perang tersebut, sudah mencapai smart war yang memerlukan smart defence system, " kata Chappy Hakim.

Sedangkan Pengamat Politik Timur Tengah & Dunia Islam Hasibullah Satrawi berharap bahwa pemerintahan Prabowo Subianto mampu menjaga harmoni antara agama dan politik.

"Ke depan ini penting rakyat dan militer untuk saling bekerja sama demi kemajuan bersama. Karena itu, Pak Prabowo sebagai tokoh militer dalam demokrasi seperti hubungan antara agama dan negara yang digambarkan Imam Ghazali," kata Hasibullah Satrawi.

#Politik

Ikuti RiauAktual di GoogleNews

Berita Lainnya

Index