Petani Sulit Beli Pupuk, Gubernur Riau Surati Menteri Syahrul

Petani Sulit Beli Pupuk, Gubernur Riau Surati Menteri Syahrul
Foto: Gubernur Riau Syamsuar (Dok. Humas Pemprov Riau)

Riauaktual.com - Harga pupuk semakin tinggi di Riau. Para petani sawit memilih untuk tidak memupuk tanaman kebunnya karena harga buah sawit tidak sesuai dengan harga pupuk. Bahkan, kondisi diperparah dengan kelangkaan pupuk di Riau.

Saat ini, harga sawit di tengkulak Rp1.700 pet kilogram. Sedangkan pupuk NPK per karung 50 kilogram harganya mencapai Rp850.000. 

"Harga buah kelapa sawit yang ditetapkan pemerintah berdampak di tengkulak. Kalau Pemprov Riau menetapkan Rp2.100 per kilogram, makan di tengkulak paling tinggi Rp1.700 per kilogram. Sedangkan harga pupuk tidak pernah turun, sekarang Rp850.000, tidak sesuai. Makanya kami tak sanggup membelinya," kata Adil Siregar salah satu petani sawit Pekanbaru, Jumat (12/8).

Selain harga mahal, pupuk juga langka di sejumlah toko. Situasi seperti itu, kata Adil, membuat petani menderita. Petani mengalami dilema, sebab jika pohon sawit tidak dipupuk, maka akan berdampak pada hasil panen yang menurun.

"Kami sangat berharap pemerintah memiliki solusi untuk petani. Karena mata pencarian masyarakat Riau pada umumnya sebagai petani, jika pupuk mahal dan langka, maka kami terancam miskin karena hasil panen pasti jauh merosot," katanya.

Menanggapi hal itu, Gubernur Riau Syamsuar mengaku telah menyurati Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Limpo untuk meninjau harga pupuk perkebunan kelapa sawit.

Surat tersebut disampaikannya melalui surat dengan Nomor: 526/DISBUN/3686, dengan hal peninjauan harga pupuk untuk perkebunan kelapa sawit yang ditandatangani Syamsuar.

Dia mengatakan, tembusan surat tersebut juga disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Investasi dan Kemaritiman RI, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi RI, Menteri Perdagangan RI, dan Menteri Dalam Negeri RI.

Syamsuar menyampaikan kepada Mentan terkait kondisi masih rendahnya harga buah kelapa sawit beberapa bulan terakhir sejak adanya larangan ekspor CPO di Indonesia pada umumnya dan di Provinsi Riau khususnya. 

"Saya sampaikan ke Mentan, bahwa tingginya harga pupuk saat ini menjadi bahan yang cukup berat bagi perkebun kelapa sawit di tengah kondisi masih relatif rendahnya harga jual buah sawit," ujar Syamsuar Jumat.

Syamsuar menyebutkan, perkebunan kelapa sawit dihadapkan pada kondisi tingginya harga pupuk. Sementara pupuk bersubsidi tidak ada lagi bagi petani sawit untuk mendukung peningkatan produksi kelapa sawit di kebun petani. 

"Terbatasnya daya beli pekebun kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pupuk akan berdampak tidak terpenuhinya standar pembukuan pemupukan untuk budidaya kelapa sawit di tingkat perkebunan," kata Syamsuar.

Menurut Syamsuar, saat ini tidak ada lagi kebijakan pemberi pupuk bersubsidi kepada petani sawit. Kondisi tersebut dinilai berbampak bagi tanaman sawit akibat tidak dilakukannya pemupukan.

"Kalau tidak dipupuk, tentunya akan menurunkan produksi buah sawit. Selanjutnya akan berdampak pada penurunan pendapatan pekebun kelapa sawit, pada akhirnya akan menyebabkan naiknya angka kemiskinan," jelas Syamsuar.

Karena itu, Syamsuar menyampaikan permohonan kepada Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk mempertimbangkan upaya-upaya untuk menurunkan harga pupuk di tingkat pekebun kelapa sawit.

"Atau setidaknya ada kebijakan pupuk bersubsidi yang diberikan juga kepada petani sawit," tandasnya.

Berita Lainnya

View All