WHO Khawatir Tsunami Kasus akibat Varian Delta-Omicron

WHO Khawatir Tsunami Kasus akibat Varian Delta-Omicron
Ilustras varian Delta (Int)

Riauaktual.com - Direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kemunculan varian Delta dan dilanjutkan Omicron dari virus corona menciptakan tsunami kasus, Rabu (29/12). Omicron yang dilaporkan bulan lalu di Afrika selatan itu sudah menjadi varian dominan di Amerika Serikat (AS) dan sebagian Eropa.

“Saya sangat prihatin bahwa omicron, yang lebih menular (dan) beredar pada saat yang sama dengan delta, menyebabkan tsunami kasus,” kata Tedros.

Tedros memperingatkan kondisi tersebut akan memberikan tekanan besar pada petugas kesehatan yang kelelahan dan sistem kesehatan di ambang kehancuran. WHO mengatakan dalam laporan epidemiologi mingguan bahwa risiko keseluruhan terkait dengan Omicron tetap sangat tinggi. Hasil itu mengutip bukti yang konsisten bahwa Omicron memiliki keunggulan pertumbuhan dibandingkan varian Delta.

Menurut Tedros, varian Delta dan Omicron sekarang menjadi ancaman kembar yang meningkatkan kasus hingga mencapai angka rekor. Kondisi itu menyebabkan lonjakan rawat inap dan kematian.

Menurut angka WHO, jumlah kasus Covid-19 yang tercatat di seluruh dunia meningkat 11 persen pada pekan lalu dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Hampir 4,99 juta baru dilaporkan dari 20-26 Desember.

Kasus baru di Eropa yang menyumbang lebih dari setengah dari total, naik 3 persen, sementara di AS naik 39 persen dan ada peningkatan 7 persen di Afrika. Kenaikan kasus global mengikuti peningkatan bertahap sejak Oktober.

Tedros pun mengulangi seruannya kepada negara-negara untuk berbagi vaksin secara lebih adil dan memperingatkan bahwa penekanan pada booster di negara-negara kaya dapat membuat negara-negara miskin kekurangan pukulan.

"Mengakhiri ketidakadilan kesehatan tetap menjadi kunci untuk mengakhiri pandemi," kata pemimpin WHO ini.

Menurut Tedros, dunia pun telah kehilangan target untuk mendapatkan 40 persen populasi yang divaksinasi tahun ini. "Bukan hanya memalukan secara moral itu merenggut nyawa dan memberi virus kesempatan untuk beredar tanpa terkendali dan bermutasi," ujarnya.

Negara-negara sebagian besar meleset dari target karena pasokan terbatas ke negara-negara berpenghasilan rendah dalam sepanjang tahun. Kemudian, jika vaksin tiba, ini mendekati tanggal kedaluwarsa dan tanpa hal-hal pendukungnya, seperti jarum suntik.

"Saya masih tetap optimistis bahwa ini bisa menjadi tahun kita tidak hanya dapat mengakhiri tahap akut pandemi, tetapi kita juga memetakan jalan menuju keamanan kesehatan yang lebih kuat," kata Tedros.

Tedros mengatakan WHO berkampanye untuk setiap negara untuk mencapai target cakupan vaksin 70 persen pada pertengahan 2022. Target ini akan membantu mengakhiri fase akut pandemi.

Tapi, WHO tetap berhati-hati dengan perkembangan data dalam musim liburan Natal dan Tahun Baru. Kepala kedaruratan WHO Dr. Michael Ryan mengatakan akan penting dalam beberapa minggu mendatang untuk menekan transmisi kedua varian Omicron seminimal mungkin.

Ryan mengatakan bahwa infeksi omicron sebagian besar dimulai di kalangan anak muda. Hanya saja, peneliti dan pemerintah belum bisa melihat tentang gelombang omicron yang sepenuhnya terbentuk pada populasi yang lebih luas.

"Saya sedikit gugup untuk membuat prediksi positif sampai kita melihat seberapa baik perlindungan vaksin akan bekerja pada populasi yang lebih tua dan lebih rentan," ujar Ryan.

Pejabat WHO itu tidak memberikan komentar spesifik tentang keputusan AS dan negara lain untuk mengurangi periode isolasi diri. Ryan mengatakan itu adalah penilaian yang dibuat oleh masing-masing pemerintahan dengan mempertimbangkan faktor ilmiah, ekonomi, dan lainnya.

Ryan mencatat bahwa masa inkubasi rata-rata hingga saat ini adalah sekitar lima hingga enam hari. "Kami harus berhati-hati dalam mengubah taktik dan strategi segera berdasarkan apa yang kami lihat tentang omicron," ujarnya.

 

 

sumber : AP/Reuters

Berita Lainnya

View All