Meneroka Keindahan Zamrud, Serpihan Taman Surga di Kota Istana

Meneroka Keindahan Zamrud, Serpihan Taman Surga di Kota Istana
Refleksi bulan penuh saat senja di Taman Nasional Zamrud, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Taman Nasional Zamrud yang masih terjaga apik menjadi surga t

Riauaktual.com - Riak-riak kecil bening kemerahan riang berkejaran di Danau Zamrud, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Alunan ombak berdebur mungil menyatu dalam harmoni kala pawana berhembus pelan menyambut sekelompok manusia yang 'menjamah' syahdunya pagi danau rawa terluas di Indonesia tersebut. 

Aroma khas tanah organik yang ditumbuhi pepohonan menjulang seketika menyeruak segar menyelimuti hidung. Sementara butiran halimun pagi tampak masih membasahi dedaunan seolah enggan beranjak menuju buana ketika derap langkah mulai melambat menyaksikan luasnya goretan alam yang membentang sepanjang mata memandang. 

Beragam jenis unggas yang melepas lelah tidur sepanjang malam pun mulai satu persatu mengepakkan sayap menyapa angkasa. Beberapa dari satwa bertrakea tersebut tampak asing. Bahkan, sejumlah diantaranya kini hanya penghias buku dan pemanis cerita dongeng. 

Ribuan kelelawar tampak terbang di langit Taman Nasional Danau Zamrud, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Taman Nasional Zamrud yang masih terjaga apik menjadi surga tersembunyi dan berpotensi sebagai andalan wisata alam di Bumi Lancang Kuning. (Foto: N.DONI DWI PUTRA)

Zamrud, begitu nama kawasan konservasi termuda di Bumi Lancang Kuning, Provinsi Riau itu dikenal. Goretan indah sang pencipta tersebut memiliki luas 31.484 hektare. Lokasinya tersembunyi, pedalaman Sungai Apit Kabupaten Siak, Riau. 

Sekilas memandang, air danau ini berwarna kehitaman nan elegan. Persis sesuai dengan namanya, Zamrud.

Ada dua akses untuk menuju lokasi tersebut. Pertama, dari Sungai Rawa, Kampung Rawa Mekar Jaya melalui jalur anak-anak sungai. Perahu bermesin atau biasa disebut pompong memecah hening aliran anak sungai yang mengalir harmoni menyatu ke dalam danau. 

Pompong adalah satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan untuk melihat keindahan danau Zamrud yang ditetapkan sebagai kawasan taman nasional itu.

Selain akses sungai, untuk menuju Danau juga bisa melewati jalan perusahaan Badan Operasioan Bersama PT Bumi Siak Pusako atau BOB PT BSP-Pertamina Hulu di Kampung Dayun, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Namun, kita tetap harus menggunakan pompong untuk mengelilingi danau yang masih perawan tersebut.

Lelah akibat perjalanan panjang sejenak sirna kala disuguhkan dengan pemandangan mempesona. Itulah Taman Nasional Zamrud, kawasan konservasi teranyar yang dimiliki Riau. Provinsi di tengah Swarna Dwipa tersebut sebelumnya memiliki Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Taman Nasional Tesso Nilo, selain cagar biosfer Giam Siak Kecil yang tak kalah mempesona itu. 

Zamrud merupakan taman nasional ke-52 yang ada di Indonesia. Penetapan paru-paru dunia ini tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No 350/2016.

Danau indah yang kaya akan keanekaragaman hayati itu terlebih dahulu menyandang status sebagai Suaka Margasatwa (SM) Danau Pulau Besar dan Danau Bawah dan hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap. Kini, Taman Nasional Zamrud menjadi rumah bagi habitat burung serindit melayu (Lariculus galgulus) dan 12 spesies burung lainnya yang dilindungi. 

Wahyudi, salah seorang pengunjung itu mengaku pesona danau rawa itu begitu nyata. Dia begitu takjub hingga tak berhenti membidik setiap sudut area dengan lensa kameranya. 

Beragam foto eksotis terekam rapi. Dia ingin membagikannya kepada dunia, bahwa ada serpihan taman surga di Kota Istana itu. "Yang paling eksotis itu adalah menyaksikan sunset (matahari terbit). Sementara burung-burung bebas berterbangan ke udara menyapa sang surya," kata Yudi. 

Taman nasional Danau Zamrud seolah menjadi permata terpendam yang siap menghipnotis dunia. Menjadi kawasan wisata dengan konsep rawa terbaik dunia. Yang akan menjadi penyelamat dari ancaman para mafia. Yang tak pernah berhenti berpikir menggerogoti indahnya bentangan alam serpihan surga itu. 

Menyapa Dunia

Bupati Siak, Alfedri memiliki harapan besar dengan anugerah Tuhan yang terhampar di wilayahnya itu. Dia mendorong seluruh strategi menghidupkan kawasan tersebut agar memberi manfaat lebih kepada masyarakat. 

Dalam beberapa kesempatan, dia menyanjung Danau Zamrud menjadi kawasan ekowisata terintegrasi. Memberikan manfaat ganda, selain ekonomi juga alam. 

Alfedri bilang, Pemerintah Kabupaten Siak bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau siap untuk membuka akses menuju Zamrud agar lebih mudah dilalui. Selain jalur air, pemerintah juga berencana memanfaatkan jalur darat yang telah ada. Bisa dari Dayun, juga dari Sungai Apit.

"Tentunya kita melakukan kerjasama (MoU) dengan Kepala BBKSDA Riau, untuk pengembangan wisata di Taman Nasional Danau Zamrud di kawasan zona pemanfaatan. Kita akan siapkan kendaraan berupa bus ke tempat lokasi wisata yang dituju, kita siapkan juga pemandu wisata," kata dia beberapa waktu lalu.

Berlandaskan Surat Keputusan Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemkab Siak akan mengelola zona pemanfaatan di kawasan Taman Nasional Zamrud, terdiri dari zona inti, zona transisi, dan zona pemanfaatan. Pada zona pemanfaatan, pemerintah bisa melakukan pengembangan pariwisata. 

Para pengunjung lokal maupun turis, akan disajikan tempat beristirahat, ibadah serta lokasi cenderamata dan kuliner. Warga setempat diberi kesempatan untuk mencari nafkah dengan berjualan di lokasi wisata tersebut.

Pengunjung nantinya juga akan dimanjakan dengan kendaraan Shuttle Bus untuk mengantar mereka masuk ke lokasi dari Dayun.

Alfedri menceritakan, Taman Nasional Zamrud terdapat beberapa pulau kecil. Bahkan, ada pulau yang kerap berpindah karena terapung di atas air danau. Pulau itu masih terlihat asri, belum terjamah.

Sementara itu, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Mahfud menyampaikan konsep wisata alam di kawasan Taman Nasional Zamrud harus menyesuaikan kondisi alam.

Pengembangan pariwisata di Zamrud tetap memprioritaskan aspek-aspek konservasi dengan baik, seperti kelestarian lingkungan dan lainnya. Beragam satwa air dan darat harus dijaga kelestariannya, menjadi keunikan tersendiri di pulau-pulau yang berada di tengah dan pinggiran danau.

Empat pulau menjadi hiasan Danau Zamrud, yaitu Pulau Besar, Pulau Tengah, Pulau Bungsu, dan Pulau Beruk. Empat pulau itu terbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan mengiasi danau yang airnya berwarna kehitaman menyerupai batu permata Zamrud.

"Jadi konsepnya, kita yang harus menyesuaikan kondisi alam, bukan sebaliknya. Karena ini merupakan taman nasional," kata pria berambut putih itu. 

Banjir Dukungan

Sementara itu, Anggota Komisi V DPRD Riau, Ade Hartati, mendukung penuh rencana pembukaan taman nasional Zamrud sebagai kawasan ekowisata. Langkah itu dinilai tepat saat aksi penjarahan dan pembalakan liar kini menghantui beragam kawasan konservasi di Riau.

Dengan dibukanya areal konservasi menjadi kawasan wisata, ia menilai para penjahat hutan tidak akan memiliki keleluasaan lagi. Sebab, kawasan yang selama ini tidak terjangkau telah ramai dan terpantau oleh wisatawan.

"Kita ingat aksi Bapak Kapolda Riau yang mengungkap sindikat penjarahan hutan di Giam Siak Kecil. Lalu, bagaimana kawasan taman nasional Tesso Nilo yang beralih fungsi karena kurangnya pengawasan," kata dia. 

"Dengan dijadikannya Zamrud sebagai kawasan wisata tentu akan lebih banyak perhatian di sana. Pada wisatawan akan menjadi controller di sana. Mereka memantaunya. Ini sangat baik dijadikan contoh," lanjut Ade. 

Dia berharap langkah pembukaan kawasan Zamrud menjadi destinasi ekowisata akan segera terealisasi dan membantu memulihkan ekonomi pasca badai pandemi.

 

 

Berita Lainnya

index