Ironi Negeri Penghasil Migas

Ironi Negeri Penghasil Migas
Antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) disalah satu SPBU di Kota Pekanbaru, Selasa (12/10/2021). Rama

Riauaktual.com - Bak tikus mati di lumbung padi. Pepatah tua itu barangkali tepat menggambarkan sengkarut perasaan warga Pekanbaru, Riau, beberapa hari ini. 

Negeri yang konon dikaruniai Tuhan akan melimpahnya sumber daya alam, justru harus mengais-ngais di tanahnya sendiri. Harus rela antre berjam hingga semalaman, hanya untuk beberapa tetes minyak kendaraan. 

Padahal, siapa tak kenal Riau. Sejak negeri ini masih bernama Hindia Belanda, provinsi yang berada di tengah Sumatera itu telah menjadi penyumbang Migas. Kualitas Wahid pula. 

Hingga sekarang, perut bumi Riau masih menjadi salah satu tulang punggung industri migas nasional. Bahkan, ketika perusahaan asing itu telah angkat kaki. Berganti ke tangan-tangan kreatif anak negeri. 

Histeria nasionalisasi itu bahkan masih begitu hangat. Banyak harapan tersemat. Namun apa yang terjadi. BBM malah raib di tanah Melayu sendiri. Padahal, tak hanya perut bumi yang dikuras untuk memenuhi kebutuhan energi. Tanah Riau pun tak luput dari ekploitasi. Lewat tanaman Palma bernama sawit. 

Ah. Sungguh kasihan masyarakat Pekanbaru. Ibu kota Riau. Ikon Riau. Malah harus menanggung malu. Saat antrean kendaraan mengular oleh truk-truk besar di sejumlah titik menjadi pemandangan banyak orang. Sejak pekan lalu. 

Kelangkaan bahan bakar minyak. Yang belakangan menjadi topik utama pemberitaan media massa. Yang belakangan menggerogoti kesabaran Rino, si pengendara Revo. Juga membuat Ujang harus menghela napas panjang. 

Pemandangan itu nyata, fakta. Tapi masih saja si kuda laut berkilah. Justru menyalahkan masyarakat. Yang katanya konsumsi BBM meningkat. Akibat tak lagi disekat. 

Sebaiknya jika merasa tak kompeten untuk mengelola, lebih baik serahkan ke mereka yang lebih berdaya. Jangan membuat alasan tak bermutu untuk menutupi keteledoranmu. Kasihan mereka yang mulai mengais rezeki setelah redanya badai pandemi.

Berita Lainnya

index