Pencarian

Podcast Kelupas

Makan Cabai Terlalu Banyak Bisa Tingkatkan Risiko Kanker? Ini Penjelasan Ahli

Kamis, 15 Oktober 2026 • 06:43:42 WIB
Makan Cabai Terlalu Banyak Bisa Tingkatkan Risiko Kanker? Ini Penjelasan Ahli
Ilustrasi cabai.

RIAUAKTUAL (RA) - Cabai menjadi salah satu bahan makanan yang banyak digunakan untuk menambah cita rasa pedas. Namun, konsumsi cabai dalam jumlah berlebihan ternyata pernah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan atau esofagus.

Temuan tersebut berasal dari meta-analisis yang dipublikasikan pada 2022. Penelitian itu menganalisis 14 studi observasional yang meneliti hubungan antara konsumsi cabai dan kanker saluran pencernaan atau gastrointestinal (GI).

Studi tersebut melibatkan data dari 11.310 peserta, dengan lebih dari 5.000 orang di antaranya telah didiagnosis mengalami salah satu jenis kanker saluran pencernaan.

Peneliti mengelompokkan peserta berdasarkan jumlah konsumsi cabai. Hasilnya, kelompok dengan konsumsi cabai tinggi tercatat memiliki kemungkinan hampir tiga kali lebih besar mengalami kanker esofagus dibandingkan kelompok yang mengonsumsi cabai dalam jumlah lebih rendah.

Meski demikian, temuan tersebut belum membuktikan bahwa cabai secara langsung menyebabkan kanker. Para ahli mengingatkan bahwa hasil penelitian perlu ditafsirkan secara hati-hati karena masih terdapat sejumlah faktor yang belum dapat dipastikan.

Joel N. Saltzman, MD, ahli kanker gastrointestinal sekaligus dokter onkologi medis di Taussig Cancer Center, Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa penelitian tersebut menemukan hubungan antara konsumsi cabai yang lebih tinggi dan kejadian kanker esofagus setelah diagnosis ditegakkan.

“Dalam tinjauan tersebut, peneliti melihat bahwa secara retrospektif, atau setelah diagnosis dibuat, pasien dengan konsumsi cabai lebih tinggi memiliki angka kejadian kanker esofagus yang lebih tinggi,” kata Saltzman, melansir Verywell Health.

“Tidak semua penelitian menunjukkan hasil yang sama. Namun, jika seluruh hasil penelitian digabungkan, terlihat kecenderungan adanya hubungan antara keduanya,” lanjutnya.

Kandungan Capsaicin pada Cabai Jadi Perhatian

Cabai mengandung capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi pedas dengan mengaktifkan reseptor yang mendeteksi panas dan rasa nyeri di mulut.

Menurut dugaan para peneliti, konsumsi makanan pedas secara berlebihan dan berulang dapat mengaktifkan reseptor tersebut pada lapisan kerongkongan. Kondisi ini berpotensi memicu iritasi kronis.

Para penulis penelitian bersama sejumlah peneliti lain menduga iritasi yang berlangsung lama dapat memicu perubahan pada sel yang berkontribusi terhadap perkembangan kanker. Perbedaan proses pergantian dan perbaikan sel di kerongkongan juga diduga membuat organ tersebut lebih rentan dibandingkan bagian saluran pencernaan lainnya.

Hipotesis ini menjadi salah satu kemungkinan penjelasan mengapa hubungan konsumsi cabai yang tinggi ditemukan pada kanker esofagus, tetapi tidak ditemukan pada jenis kanker saluran pencernaan lainnya, seperti kanker lambung dan kanker kolorektal.

Meski demikian, mekanisme tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah konsumsi cabai memang berperan dalam meningkatkan risiko kanker.

Belum Ada Batas Konsumsi Cabai yang Dipastikan Meningkatkan Risiko Kanker

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah konsumsi cabai dalam jumlah besar benar-benar meningkatkan risiko kanker esofagus. Hal ini karena meta-analisis tersebut didasarkan pada penelitian observasional yang tidak dapat sepenuhnya mengendalikan berbagai faktor lain yang mungkin memengaruhi risiko kanker.

Faktor gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan faktor genetik juga dapat berperan dalam perkembangan kanker esofagus.

Selain itu, penelitian yang dianalisis tidak menggunakan definisi yang seragam mengenai konsumsi cabai dalam jumlah tinggi.

“Salah satu ketidakpastian terbesar adalah cara konsumsi cabai itu sendiri diukur. Pengukurannya belum memiliki standar yang jelas sehingga hasil penelitian menjadi lebih sulit ditafsirkan,” ujar Saltzman.

Hasil penelitian juga menunjukkan perbedaan berdasarkan wilayah. Studi dari Asia, Amerika Utara, dan Afrika secara umum menemukan hubungan antara konsumsi cabai tinggi dan risiko kanker. Sementara itu, penelitian dari Eropa dan Amerika Selatan menunjukkan tidak adanya hubungan atau bahkan kecenderungan risiko yang lebih rendah.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi cabai dan kanker kemungkinan dipengaruhi berbagai faktor yang masih perlu diteliti lebih lanjut.

Peneliti menduga risiko kanker esofagus mungkin meningkat ketika konsumsi cabai melewati tingkat tertentu. Namun, hingga kini belum ada batas konsumsi yang dapat dipastikan sebagai ambang peningkatan risiko tersebut.

Ahli Sarankan Konsumsi Cabai Tetap dalam Batas Wajar

Meski bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa cabai menyebabkan kanker, konsumsi dalam jumlah berlebihan tetap perlu dihindari, terutama jika menimbulkan keluhan pada saluran pencernaan.

Saltzman menilai konsumsi cabai dalam jumlah tinggi selama periode panjang berpotensi berkaitan dengan peningkatan kejadian kanker esofagus. Namun, ia menekankan bahwa konsumsi dalam jumlah wajar kemungkinan masih dapat diterima.

“Konsumsi cabai dalam jumlah tinggi selama jangka waktu yang panjang dapat berkaitan dengan angka kejadian kanker esofagus yang lebih tinggi. Kesimpulan saya dari artikel ini adalah bahwa mengonsumsi cabai dalam jumlah sedang kemungkinan masih aman,” kata Saltzman.

Tidak ada tanda khusus yang secara pasti menunjukkan seseorang telah mengonsumsi cabai terlalu banyak. Namun, masyarakat perlu memperhatikan keluhan yang muncul setelah mengonsumsi makanan pedas.

Saltzman menyarankan agar seseorang berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan.

“Jika pasien mengalami kesulitan menelan, gangguan lambung seperti rasa asam, atau nyeri dada, mereka sebaiknya mendiskusikan kondisi tersebut dengan dokter,” ujarnya.

Penderita GERD dan Kondisi Esofagus Tertentu Perlu Lebih Berhati-hati

Saltzman juga mengingatkan bahwa orang dengan kondisi kesehatan tertentu perlu lebih berhati-hati dalam mengonsumsi cabai dalam jumlah besar.

“Pasien dengan riwayat esofagus Barrett, konsumsi alkohol berat, dan penyakit refluks gastroesofagus kronis (GERD) harus lebih berhati-hati terhadap konsumsi cabai dalam jumlah besar,” kata Saltzman.

Esofagus Barrett merupakan kondisi ketika lapisan jaringan pada bagian bawah kerongkongan mengalami perubahan, biasanya berkaitan dengan paparan asam lambung dalam jangka panjang. Sementara itu, GERD terjadi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, berulang kali naik ke kerongkongan.

Kedua kondisi tersebut telah dikenal sebagai faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker esofagus. Karena itu, orang dengan kondisi tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis mengenai makanan yang dapat memicu atau memperburuk gejala.

Pada akhirnya, temuan penelitian mengenai cabai dan kanker masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Masyarakat tidak perlu langsung menghindari cabai sepenuhnya, tetapi sebaiknya mengonsumsi makanan pedas secara wajar, memperhatikan respons tubuh, dan tidak mengabaikan gejala yang memerlukan pemeriksaan medis.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks