RIAUAKTUAL (RA) - Pernah membeli pakaian, sepatu, tas, atau barang lainnya meski sebenarnya masih memiliki barang serupa di rumah?
Keinginan untuk membeli sesuatu tidak selalu muncul karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Ada kalanya seseorang membeli barang untuk mendapatkan kesenangan, menunjukkan identitas diri, memperoleh pengakuan sosial, atau merasakan kendali atas kehidupannya.
Dikutip dari Psychology Today, budayawan Lawrence R. Samuel, Ph.D., menjelaskan bahwa sebagian besar barang yang dibeli manusia sebenarnya bukan kebutuhan untuk bertahan hidup.
Dalam kehidupan modern, konsumsi barang dan pengalaman yang tidak esensial bahkan telah menjadi bagian dari keseharian. Lantas, mengapa kita tetap membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan?
1. Mencari Kepuasan dan Kebahagiaan
Salah satu alasannya adalah keinginan untuk mendapatkan kepuasan atau kebahagiaan. Samuel menjelaskan, sebagai konsumen, manusia dapat melihat pasar sebagai tempat untuk mendapatkan pemenuhan dan kebahagiaan.
Membeli sesuatu yang baru memang bisa memberikan perasaan menyenangkan, tetapi kepuasan tersebut tidak selalu bertahan lama. Ketika barang baru sudah dimiliki, seseorang bisa kembali menginginkan sesuatu yang lain. Apalagi, selalu ada produk baru atau versi yang dianggap lebih baik untuk dibeli.
Kondisi ini membuat konsumsi dapat berubah menjadi sebuah siklus. Seseorang bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian menggunakan uang tersebut untuk membeli barang atau pengalaman yang diinginkan, meskipun tidak semuanya merupakan kebutuhan. Karena itu, memiliki lebih banyak barang atau barang yang lebih mahal belum tentu membuat seseorang mendapatkan kepuasan yang bertahan lama.
2. Ingin Mendapatkan Pengakuan Sosial
Barang yang dimiliki seseorang juga dapat menjadi simbol status sosial. Menurut Samuel, cara seseorang dipersepsikan oleh orang lain dapat dipengaruhi oleh apa yang ia sebut sebagai “brand portfolio”, yakni kumpulan simbol berbasis pasar yang dimiliki seseorang.
Barang yang sebenarnya tidak esensial justru sering kali memiliki nilai simbolis yang lebih kuat. Produk bermerek atau barang mewah, misalnya, dapat digunakan untuk menunjukkan status, pencapaian, atau gaya hidup tertentu. Karena itu, seseorang mungkin membeli tas, sepatu, jam tangan, atau kendaraan tertentu meski sudah memiliki barang dengan fungsi yang sama.
Dorongan tersebut juga dapat muncul karena keinginan untuk mengikuti lingkungan sosial. Ketika orang-orang di sekitar memiliki barang tertentu, seseorang dapat merasa terdorong untuk memiliki hal serupa agar tidak tertinggal.
Fenomena semacam ini berkaitan dengan gaya hidup keeping up with the Joneses, yaitu kecenderungan untuk mengikuti atau menyamai standar konsumsi orang lain.
3. Menunjukkan Identitas Diri Alasan lainnya adalah keinginan untuk mengekspresikan identitas diri. Samuel menjelaskan, dunia material dan pengalaman dapat menjadi sarana bagi seseorang untuk menunjukkan kepada orang lain, sekaligus kepada dirinya sendiri, mengenai siapa dirinya dan siapa yang bukan dirinya. Pilihan pakaian, rumah, kendaraan, bahkan makanan dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian dan gaya hidup seseorang.
Misalnya, seseorang memilih pakaian tertentu karena merasa gaya tersebut merepresentasikan dirinya. Begitu pula ketika seseorang memilih merek atau produk tertentu karena nilai dan citranya dianggap sesuai dengan dirinya. Dengan demikian, barang yang dibeli tidak selalu hanya memiliki fungsi praktis.
Barang tersebut juga dapat memiliki makna simbolis dan menjadi bagian dari cara seseorang membangun identitas.
4. Memberikan Perasaan Memiliki Kendali
Membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan juga dapat memberikan perasaan memiliki kendali. Samuel menjelaskan, banyak hal dalam kehidupan berada di luar kendali manusia.
Namun, ketika seseorang membeli dan memiliki suatu barang, ia dapat merasakan bahwa dirinya memiliki kendali atas bagian kecil dari kehidupannya. Proses memilih barang, membayar, kemudian memilikinya dapat memberikan perasaan bahwa seseorang memiliki kuasa untuk menentukan sesuatu bagi dirinya sendiri.
Kepemilikan tersebut juga dapat memberikan rasa aman dan stabilitas, terutama ketika seseorang menghadapi berbagai hal yang tidak pasti dalam kehidupan. Namun, alasan ini tidak berarti setiap orang yang membeli barang yang tidak dibutuhkan sedang mencari kendali atas hidupnya. Dorongan seseorang untuk berbelanja dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi dan pengalaman masing-masing.