Pencarian

Podcast Kelupas

Bagaimana Obat Tahu Bagian Tubuh yang Sakit? Begini Penjelasannya

Sabtu, 26 September 2026 • 06:02:51 WIB
Bagaimana Obat Tahu Bagian Tubuh yang Sakit? Begini Penjelasannya
Ilustrasi minum obat.

RIAUAKTUAL (RA) - Pernah kepikiran bagaimana obat sakit kepala yang ditelan bisa membantu meredakan rasa berdenyut di kepala? Atau bagaimana obat alergi bisa mengurangi gejala seperti bersin dan gatal, bahkan menyembuhkan penyakit?

Sekilas, rasanya seperti obat punya semacam peta atau maps di dalam tubuh. Begitu masuk, obat seolah-olah tahu harus pergi ke bagian yang berkaitan dengan rasa sakit atau gejala penyakit. Sebenarnya bagaimana obat bekerja?

Setelah diminum, obat melewati perjalanan yang cukup panjang di dalam tubuh. Molekul obat diserap, masuk ke aliran darah, kemudian dibawa ke berbagai jaringan. Di sana, molekul tersebut bisa bertemu dengan beragam sel dan molekul lain.

Melansir National Library of Medicine, obat menghasilkan efek dengan berinteraksi dengan target biologis tertentu di dalam tubuh. Target tersebut dapat berupa reseptor, enzim, kanal ion, maupun struktur biologis lainnya. Artinya, obat tidak perlu tahu lokasi penyakit.

Layaknya tubuh seperti kota yang besar. Setelah obat masuk ke aliran darah, molekul obat bisa dibawa ke banyak wilayah. Tetapi, tidak semua wilayah memiliki tempat yang cocok untuk molekul tersebut bekerja.

Ketika obat bertemu dengan target biologis yang sesuai, barulah interaksi terjadi dan respons tertentu muncul.

Karena target biologis itu tersebar di jaringan yang berbeda-beda, efek obat pun bisa lebih terasa pada bagian tubuh tertentu. Konsep ini termasuk dalam farmakodinamika, yakni ilmu yang mempelajari apa yang dilakukan obat terhadap tubuh.

Lalu, ke mana obat pergi setelah ditelan?

Sebelum bisa bekerja, obat harus lebih dulu mencapai jaringan tempat targetnya berada. Di sinilah distribusi obat berperan.

Setelah masuk ke sirkulasi, obat tidak langsung diarahkan ke organ yang sedang bermasalah. Molekul obat dapat tersebar ke berbagai jaringan tubuh, dan seberapa jauh obat bisa masuk ke suatu jaringan dipengaruhi banyak hal.

NCBI Bookshelf menjelaskan bahwa distribusi obat antara lain dipengaruhi oleh aliran darah ke jaringan, sifat kelarutan obat dalam lemak atau air, ukuran dan karakteristik molekul, ikatan dengan protein dalam darah, serta permeabilitas pembuluh darah.

Dengan kata lain, perjalanan obat di dalam tubuh bukan seperti kurir yang mendapat alamat tujuan.

Obat lebih seperti penumpang yang terbawa jaringan transportasi tubuh melalui aliran darah, lalu dapat mencapai dan masuk ke jaringan tertentu bergantung pada sifat obat serta karakteristik jaringan yang dilewatinya.

Kenapa obat bisa bekerja pada target tertentu?

Bagian ini yang membuat mekanisme obat terasa seperti punya kemampuan mengenali sesuatu. Padahal, yang terjadi adalah interaksi pada tingkat molekuler atau tingkat yang sangat kecil.

Salah satu target obat yang paling dikenal adalah reseptor. Reseptor merupakan protein yang dapat menerima sinyal tertentu dan memicu perubahan dalam aktivitas sel.

Ketika obat berikatan dengan reseptor, interaksi tersebut dapat memengaruhi berbagai proses biologis yang berlangsung di dalam tubuh.

Sederhananya, reseptor sering dianalogikan seperti gembok, sedangkan obat seperti kunci yang bentuk dan sifat kimianya memungkinkan keduanya berinteraksi. Analogi ini membantu menggambarkan bagaimana obat dapat bekerja pada target tertentu.

Namun, hubungan antara obat dan reseptor sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar gembok dan kunci. Interaksi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk bentuk dan muatan molekul, jenis ikatan kimia, konsentrasi obat, serta perubahan bentuk reseptor ketika berinteraksi dengan suatu molekul.

Karena itu, satu obat tidak selalu hanya berinteraksi dengan satu target. Sebaliknya, satu obat dapat berinteraksi dengan beberapa target yang berbeda, dan interaksi inilah yang turut menentukan efek obat di dalam tubuh.

Lantaran sebuah obat dapat berinteraksi dengan beberapa target sekaligus, ini menjelaskan kenapa obat memiliki efek samping. Karena itu, obat yang ditujukan untuk mengatasi satu keluhan bukan berarti hanya berada atau bekerja di satu bagian tubuh.

Efek samping bukan berarti obat "salah jalan". Obat memang tidak sedang mencari organ yang sakit, lalu menghindari organ yang sehat.

Setelah masuk ke tubuh, molekul obat mengikuti proses distribusi dan dapat mencapai berbagai jaringan. Di jaringan tersebut, molekul obat dapat berinteraksi dengan target biologis yang sesuai maupun target lain yang tidak diinginkan.

Secara umum, obat masuk ke tubuh, kemudian diserap dan beredar melalui sirkulasi. Ketika mencapai jaringan tertentu dalam jumlah yang memadai, molekul obat dapat berinteraksi dengan target biologis yang berkaitan dengan proses yang ingin dipengaruhi.

Jika interaksi juga terjadi pada target lain, maka efek tambahan serta efek samping dapat muncul.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks