Pencarian

Podcast Kelupas

Kasus Bunuh Diri di Indonesia Makin Banyak Usia Muda, Inikah Pemicunya?

Ahad, 13 September 2026 • 06:23:18 WIB
Kasus Bunuh Diri di Indonesia Makin Banyak Usia Muda, Inikah Pemicunya?
Ilustrasi bunuh diri.

RIAUAKTUAL (RA) - Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangai klinik kesehatan jiwa.

Layanan konsultasi kesehatan jiwa juga disediakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) di laman resminya yaitu www.pdskji.org. Melalui laman organisasi profesi tersebut disediakan pemeriksaan secara mandiri untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa seseorang.

Kasus bunuh diri di Indonesia menjadi perhatian seiring munculnya tren perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) pada usia yang semakin muda. Data layanan konsultasi kesehatan jiwa bahkan menunjukkan anak usia sekolah dasar sudah mulai mengakses layanan untuk mencari pertolongan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi mengatakan data kasus bunuh diri yang dihimpun dari kepolisian masih perlu diklarifikasi. Sebab, terdapat perbedaan angka dalam proses rekapitulasi.

"Jadi data kasus bunuh diri ini kan kita ngambil dari polisi. Jadi kemarin kami coba rekap ternyata masih ada selisih. Jadi saya harus klarifikasi lagi ke kepolisian apakah angka ini benar," beber Imran, dikutip dari detikcom.

Meski begitu, menurutnya, kasus bunuh diri yang tercatat banyak terjadi pada kelompok usia muda. Sementara itu, secara global, prevalensi bunuh diri justru lebih tinggi pada kelompok lansia.

Imran menyebut sejumlah faktor dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap masalah kesehatan jiwa. Salah satunya adalah loneliness atau kesepian.

"Loneliness itu juga kills. Dan ini sekarang jadi kalau saya bilang wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing," tuturnya.

Psikolog klinis Annelia sari Sani menambahkan, layanan kesehatan mental gratis Healing 119.id kini mulai diakses anak-anak dengan usia yang sangat muda.

"Yang mengakses Healing 119 itu mulai dari umur 8-10 tahun," katanya.

Salah satu keluhan yang banyak ditemukan adalah rasa kesepian. Bahkan, puncak keluhan terkait kesepian disebut terjadi pada anak usia 12-14 tahun atau masa remaja awal.

"Terutama masalahnya kesepian. Biasanya saat ditanya kamu ada sama siapa? Nggak ada. Dia sendirian," ujarnya.

Tingginya akses layanan tersebut juga membuat tenaga psikolog harus melakukan proses triase. Setiap pasien dibatasi waktu konsultasinya agar lebih banyak orang yang membutuhkan pertolongan dapat ditangani.

Dalam satu shift selama tiga jam, disebut ada sekitar 500-600 orang yang mengakses layanan, sementara jumlah psikolog yang bertugas hanya sekitar lima orang.

Karena itu, konsultasi dibatasi maksimal 30 menit. Kasus yang dinilai bukan merupakan krisis psikologis akan dialihkan ke layanan yang lebih sesuai.

Perempuan Banyak Menghubungi Layanan, Laki-laki Lebih Banyak Bunuh Diri

Imran mengatakan terdapat perbedaan antara kelompok yang mencari pertolongan dan kelompok yang meninggal akibat bunuh diri.

Pengakses layanan Healing 119.id disebut lebih banyak perempuan, sekitar 70 persen. Namun, kasus bunuh diri justru lebih banyak terjadi pada laki-laki.

"Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak," katanya.

Hal tersebut sejalan dengan kecenderungan global, di mana laki-laki disebut memiliki risiko kematian akibat bunuh diri lebih tinggi dibandingkan perempuan.

Sementara itu, peneliti di Universitas Kanazawa Jepang Sandersan Onie menyoroti tren self-harm yang kini semakin banyak terjadi pada usia muda, terutama pada anak perempuan.

"Tren yang kita sedang lihat sebenarnya di banyak sekali negara di seluruh dunia adalah yang lakukan self-harm semakin lama semakin muda. Dan terutama kepada kaum perempuan, young girls," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dan diteliti lebih lanjut untuk melihat apakah Indonesia mengikuti tren serupa.

Lantas, apa yang menjadi pemicu seseorang melakukan percobaan bunuh diri?

Imran mengatakan berdasarkan kasus yang ditemui, faktor dukungan keluarga atau support system menjadi salah satu masalah utama. Berikutnya adalah persoalan dalam pertemanan, termasuk bullying.

"Pertama adalah dukungan keluarga, jadi masalah support system-nya. Kemudian dari pertemanan, bullying itu juga ada. Kemudian masalah ekonomi," jelasnya.

Menariknya, persoalan ekonomi bukan menjadi faktor utama yang paling sering ditemukan.

"Kalau kita pikirkan penyebab mereka mau bunuh diri itu karena ekonomi ternyata enggak. Justru malah yang keluarga. Jadi ekonomi itu alasan nomor tiga masalahnya, atau nomor dua. Jadi bukan nomor satu," sambungnya.

Menurut Imran, keluarga memiliki peran penting dalam pencegahan bunuh diri. Terlebih di Indonesia yang memiliki karakter masyarakat komunal.

Oni juga menekankan pentingnya keluarga sebagai sistem pendukung bagi anak dan remaja yang sedang mengalami masalah kesehatan jiwa.

"Kalau kita benar-benar mau mencegah bunuh diri secara serius, kita tidak bisa melupakan faktor keluarga. Terutama di negara yang komunal seperti Indonesia," katanya.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks