PEKANBARU (RA) - Fenomena perjumpaan hingga serangan Harimau Sumatra terhadap manusia di Provinsi Riau kembali menjadi perhatian serius.
Maraknya kabar mengenai konflik antara manusia dan satwa predator tersebut tidak hanya memicu keresahan masyarakat, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di habitat alami harimau.
Persoalan itu turut dibahas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau melalui program bincang-bincang podcast KELUPAS (Ngobrol Lepas Usut Tuntas) Riauaktual.com.
Kabid Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisduin, mengatakan manusia maupun satwa sama-sama memiliki peran penting dalam ekosistem. Karena itu, menurutnya, keduanya harus mendapat perhatian dalam upaya menekan konflik satwa liar.
Hal tersebut disampaikannya menyikapi maraknya pemberitaan mengenai konflik Harimau Sumatra sepanjang Juli 2026. Dalam periode tersebut tercatat empat korban jiwa, termasuk insiden di Kabupaten Pelalawan yang menimpa anak berusia 12 tahun dan seorang pria berusia 29 tahun, serta kejadian berulang di Kabupaten Siak.
Namun, data BBKSDA Riau menunjukkan persoalan interaksi negatif harimau dengan manusia memiliki cakupan yang lebih luas.
"Dari pencatatan kami, interaksi negatif pada tahun 2025 tercatat sebanyak 28 kejadian. Sementara dari Januari hingga pertengahan tahun 2026, jumlahnya sudah mencapai 15 kejadian," kata Ujang.
Pada 2026, sebaran kejadian tersebut meliputi Kabupaten Pelalawan sebanyak enam kejadian, Siak tiga kejadian, Rokan Hulu dua kejadian, Bengkalis dua kejadian, Indragiri Hilir satu kejadian, dan Kampar satu kejadian.
Ujang menjelaskan, interaksi negatif tidak selalu berupa serangan fisik terhadap manusia. Kejadian tersebut juga mencakup kemunculan harimau di sekitar permukiman, mendekati kawasan perkemahan atau camp, hingga harimau yang ditemukan terjerat perangkap.
Menurut Ujang, kemunculan harimau di kawasan aktivitas manusia dipengaruhi sejumlah faktor yang kompleks. Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak bisa semata-mata disebabkan oleh kerusakan habitat.
Setidaknya terdapat sejumlah faktor yang dapat mendorong terjadinya interaksi negatif antara Harimau Sumatra dan manusia.
Pertama, pergerakan satwa mangsa. Satwa mangsa harimau, seperti babi hutan, kerap keluar dari kawasan hutan untuk mencari sumber makanan, termasuk tanaman perkebunan yang ditanam masyarakat.
Secara alami, Harimau Sumatra akan mengikuti pergerakan mangsanya untuk berburu. Ketika satwa mangsa bergerak mendekati kawasan perkebunan atau aktivitas manusia, harimau pun berpotensi ikut keluar dari habitat alaminya.
Kedua, perebutan teritori oleh harimau muda. Sebagian besar harimau yang terlibat dalam interaksi negatif teridentifikasi sebagai individu remaja atau muda. Ketika populasi di habitat inti semakin padat, harimau muda harus menjelajah lebih jauh untuk mencari sekaligus menetapkan wilayah teritori baru.
Pergerakan inilah yang kemudian meningkatkan peluang perjumpaan antara satwa dengan manusia.
Ketiga, perubahan perilaku akibat kondisi tertentu. Pada dasarnya, Harimau Sumatra merupakan satwa yang cenderung menghindari manusia. Dalam berbagai riset konservasi, harimau diketahui berupaya menjauh ketika mendengar suara manusia di dalam hutan.
Namun, perilaku tersebut dapat berubah akibat trauma maupun kondisi emosional tertentu. Salah satunya ketika induk harimau kehilangan anaknya, seperti yang pernah terjadi pada kasus harimau "Bonita".
Kehilangan pasangan juga dapat memengaruhi perilaku satwa. Begitu pula harimau yang memiliki riwayat interaksi buruk dengan manusia, seperti pernah dijerat, diburu, atau disakiti.
Keempat, infeksi Canine Distemper Virus (CDV). Virus yang umumnya dapat menular dari anjing atau kucing tersebut berpotensi menyerang sistem saraf harimau. Kondisi itu dapat memengaruhi perilaku alami satwa, termasuk menghilangkan rasa takutnya terhadap manusia.
"Harimau yang terinfeksi akan mengalami disorientasi, kejang, cepat haus atau lapar, dan gagal membedakan antara manusia dan satwa mangsa," jelas Ujang.
Ujang menambahkan, Provinsi Riau memiliki sedikitnya enam lanskap utama habitat Harimau Sumatra. Di antaranya Lanskap Semenanjung Kampar, Kerumutan, Bukit Rimbang Bukit Baling, Bukit 30, Bukit Bungku, Senepis, hingga Mahato.
Persoalannya, kawasan-kawasan tersebut kini memiliki fungsi yang beragam. Wilayah jelajah harimau saling bertumpang tindih atau overlapping dengan hutan produksi, Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan, Areal Penggunaan Lain (APL), hingga kawasan permukiman masyarakat.
Kondisi tersebut membuat peluang perjumpaan antara manusia dan satwa liar semakin terbuka. Karena itu, upaya meredam konflik tidak cukup hanya dengan menjaga habitat, tetapi juga membutuhkan pemahaman masyarakat mengenai pola pergerakan dan perilaku harimau.
Selain persoalan wilayah, kepatuhan terhadap waktu aman saat beraktivitas di sekitar kawasan hutan juga menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko konflik.
Harimau memiliki siklus waktu aktif atau hunting time yang berlangsung sejak menjelang malam hingga menjelang siang. Pada rentang waktu tersebut, aktivitas harimau dalam mencari mangsa cenderung meningkat.
Ujang menyebut sebagian besar insiden penyerangan terjadi ketika manusia masih melakukan aktivitas di kawasan yang menjadi wilayah jelajah harimau pada jam aktif satwa tersebut.
Karena itu, masyarakat yang tinggal maupun bekerja di sekitar kawasan habitat harimau perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan mempertimbangkan waktu dan lokasi aktivitas.
"Ibarat kita hidup di pinggir sungai, kita harus siap dengan risiko banjir. Begitu pula jika kita beraktivitas di sekitar wilayah jelajah satwa," pungkasnya.