Pencarian

Podcast Kelupas

BBKSDA Riau: Monyet Liar yang Teror Warga Tembilahan Diduga Jenis Ekor Panjang, Korban Bertambah Jadi 19 Orang

Kamis, 06 Agustus 2026 • 16:50:00 WIB
BBKSDA Riau: Monyet Liar yang Teror Warga Tembilahan Diduga Jenis Ekor Panjang, Korban Bertambah Jadi 19 Orang
Monyet liar di tembilahan serang belasan warga.

PEKANBARU (RA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memastikan penanganan konflik satwa liar jenis monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang meneror warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), terus dilakukan secara terpadu bersama pemerintah daerah, aparat keamanan, dan berbagai pemangku kepentingan.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam penanganan konflik satwa liar. Namun, upaya mitigasi tetap harus mengedepankan prinsip konservasi agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar bagi masyarakat maupun satwa.

"Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik," kata Supartono, Kamis (6/8/2026).

Pada Rabu (5/8), Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau menggelar rapat koordinasi bersama Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota di Kantor Lurah Tembilahan Kota. Pertemuan tersebut bertujuan menyamakan langkah penanganan sekaligus mengevaluasi perkembangan konflik satwa liar di wilayah tersebut.

Berdasarkan hasil koordinasi, serangan monyet terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota. Sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli hingga 5 Agustus 2026, jumlah korban tercatat mencapai 19 orang. Seluruh korban mengalami luka akibat gigitan maupun serangan monyet, yang juga menimbulkan keresahan serta dampak psikologis di tengah masyarakat.

Hasil identifikasi sementara menunjukkan serangan diduga dilakukan oleh seekor monyet ekor panjang dewasa berjenis kelamin jantan. Satwa tersebut memiliki ciri khusus berupa bekas luka pada bagian pipi.

BBKSDA Riau menjelaskan, pola serangan umumnya terjadi ketika korban berada seorang diri atau dalam kondisi lengah. Monyet kemudian menggigit bagian kaki korban sebelum melarikan diri. Hingga kini, satwa tersebut juga belum memberikan respons terhadap umpan berupa pisang yang telah dipasang petugas.

Sebelum Tim WRU diterjunkan, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama Forkopimda telah melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari penyisiran menggunakan jaring dan tangguk hingga melibatkan personel TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, dan masyarakat.

Dari hasil rapat koordinasi disepakati bahwa penanganan konflik akan mengutamakan keselamatan masyarakat tanpa mengabaikan prinsip konservasi. Seluruh pihak diminta tidak melakukan perburuan terhadap satwa tersebut, melainkan memperkuat pemantauan di lapangan serta menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana evakuasi apabila monyet berhasil diidentifikasi dan diamankan.

BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada dengan menghindari aktivitas seorang diri di lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberi makan monyet liar, serta segera melaporkan kepada petugas apabila melihat monyet dengan ciri-ciri yang telah diidentifikasi.

Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi. BBKSDA Riau menegaskan penanganan konflik satwa liar membutuhkan kerja sama semua pihak agar keselamatan masyarakat tetap terjaga, sekaligus memastikan satwa ditangani sesuai prinsip konservasi.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks