Pencarian

Podcast Kelupas

Pertalite Langka di Pulau Bengkalis, Eceran Tembus Rp19.000 per Liter

Kamis, 11 Juni 2026 • 13:04:00 WIB
Pertalite Langka di Pulau Bengkalis, Eceran Tembus Rp19.000 per Liter
Antrian kendaraan membeli bbm jenis pertalite di Pulau Bengkalis, Riau, Kamis (11/6/2026).

BENGKALIS (RA) - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite kembali dikeluhkan masyarakat Pulau Bengkalis, Provinsi Riau.

Dalam dua hari terakhir, sejumlah SPBU dilaporkan tidak melayani penjualan Pertalite sehingga warga terpaksa berburu BBM hingga ke wilayah Kecamatan Bantan.

Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax RON 92 yang semakin membebani masyarakat.

Akibat sulitnya memperoleh Pertalite, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat terlihat mengular di sejumlah SPBU yang masih memiliki stok.

Pantauan Riauaktual.com di lapangan, Kamis (11/6/2026), antrean panjang tampak terjadi di SPBU Jalan Sudirman, Desa Selat Baru, Kecamatan Bantan. Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Desa Teluk Latak, Kecamatan Bengkalis.

Sementara itu, dua SPBU yang berada di Pulau Bengkalis, yakni SPBU Jalan Bantan, Desa Senggoro dan SPBU Nurwati di Jalan Lembaga, tidak melayani penjualan Pertalite karena stok yang tidak tersedia.

Muhammad Natsir, salah seorang pengendara, mengaku sudah dua hari terakhir kesulitan mendapatkan BBM subsidi tersebut.

"Sudah dua hari ini sangat sulit mendapatkan Pertalite. Di tempat penjualan eceran juga susah dicari. Kalau pun ada, kami harus ke SPBU Selat Baru," ujarnya.

Menurutnya, Pertalite merupakan bahan bakar yang paling banyak digunakan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari sehingga kelangkaan yang terjadi sangat dirasakan warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kelangkaan Pertalite diduga dipicu keterlambatan distribusi pasokan BBM ke wilayah Pulau Bengkalis yang selama ini bergantung pada jalur penyeberangan Roro.

Meski demikian, sumber yang mengetahui distribusi BBM di Bengkalis menyebutkan kuota Pertalite untuk daerah tersebut tidak mengalami pengurangan.

"Setiap hari rata-rata pasokan mencapai 15 kiloliter. Tidak ada pengurangan dari Pertamina. Namun karena tidak diperbolehkan dijual ke pengecer, masyarakat harus membeli langsung ke SPBU sehingga antrean menjadi panjang," ungkap sumber tersebut.

Di tengah kelangkaan Pertalite, warga juga mengeluhkan maraknya penjualan BBM non subsidi secara eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi di SPBU.

Iqbal, warga Bengkalis yang ikut mengantre untuk mendapatkan BBM, mengaku kecewa dengan kondisi tersebut.

"Tapi minyaknya tidak ada dijual di semua SPBU di Pulau Bengkalis. Yang aneh, di tingkat pengecer menggunakan Pertamini malah banyak yang menjual, tapi harganya melambung tinggi. Mana mampu kami membeli. Makanya kami rela mengantre cukup panjang," keluhnya.

Berdasarkan pantauan Riauaktual.com, BBM jenis Pertamax biru dijual secara eceran dengan harga mencapai Rp19 ribu per liter. Sementara Pertamax merah dipasarkan hingga Rp24 ribu per liter.

Keluhan serupa juga disampaikan warga yang mengantre di SPBU Jalan Lembaga. Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak Pertamina segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan tersebut.

"Tak ada pilihan. Mau tak mau dan suka tak suka harus ikut antrean yang melelahkan ini. Yang dibutuhkan masyarakat itu kemudahan mendapatkan BBM, bukan justru dipersulit," ujar seorang warga.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks