JAKARTA (RA) - Industri kelapa sawit dinilai sebagai salah satu sektor perkebunan yang nyaris tidak menghasilkan limbah. Seluruh bagian tanaman sawit, mulai dari minyak, inti sawit, biomassa hingga limbah cair, dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Dr Tungkot Sipayung mengatakan, selama ini manfaat ekonomi kebun sawit yang dimanfaatkan baru sekitar 30 persen dari total potensi yang tersedia.
“Manfaat ekonomi dari kelapa sawit yang telah dipanen saat ini masih sekitar 30 persen dari potensi ekonomi kebun sawit,” kata Tungkot kepada riauaktual.com, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, istilah limbah sebenarnya tidak lagi relevan digunakan dalam industri sawit modern. Sebab, seluruh produk turunan sawit memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk baru.
“Semua produksi dari sawit memiliki nilai ekonomi saat ini. Jadi sebetulnya tidak relevan kita menggunakan kata limbah untuk produk sampingan selain CPO,” ujarnya.
Ia menjelaskan, produk seperti crude palm oil (CPO), crude palm kernel oil (CPKO), palm kernel cake (PKC), palm kernel meal (PKM), biomassa hingga palm oil mill effluent (POME) lebih tepat disebut sebagai joint product sawit karena semuanya bisa diolah dan diperdagangkan.
Bahkan, kata Tungkot, sekitar 75 persen hasil dari kebun sawit justru berasal dari produk non minyak sawit.
“Produksi biomassa kebun sawit mencapai sekitar 16 ton per hektare per tahun. Sementara minyak sawit yang kita hasilkan hanya sekitar 4 sampai 6 ton minyak per hektare per tahun. Jadi sebenarnya biomassa jauh lebih besar,” jelasnya.
Namun hingga kini, potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sehingga masih kerap dianggap sebagai limbah. Padahal, teknologi pengolahan produk non-CPO terus berkembang dan membuka peluang ekonomi baru yang sangat besar.
Tungkot mencontohkan, PKC dapat diolah menjadi biocoal, sementara PKM dapat dimanfaatkan menjadi biopelet sebagai sumber energi terbarukan.
Selain itu, tandan kosong kelapa sawit atau tankos juga bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti biochar, emulsifier, bioplastik, biohay, bioetanol hingga bahan baku pulp.
“Dari POME selain menghasilkan minyak asam tinggi atau HAPOR, juga bisa menjadi biomethane, pupuk sampai pakan ternak,” katanya.
Ia menilai, pengembangan produk turunan sawit non minyak bukan hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga membuka sumber ekonomi baru yang nilainya berpotensi melampaui industri minyak sawit saat ini.
Dalam sektor energi terbarukan misalnya, minyak sawit saat ini sudah masuk kategori bioenergi generasi pertama atau first generation bioenergy. Pemanfaatannya sudah berjalan melalui program biodiesel dan terus dikembangkan menuju green diesel, bensin sawit hingga bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF).
Sementara itu, bioenergi generasi kedua berasal dari pemanfaatan biomassa sawit menjadi energi alternatif.
“Pemanfaatan produk sawit non minyak bukan hanya sekadar agar limbah minimum, tetapi ada potensi nilai ekonomi yang lebih besar masih tersimpan di sana,” tutup Tungkot.