KAMPAR (RA) - Polda Riau resmi membuka Pelatihan Tim Riau Anti Geng dan Anarkisme (RAGA) Tahun 2026 Gelombang Pertama di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, Senin (2/2/2026).
Sebanyak 210 personel dipersiapkan untuk memperkuat patroli pencegahan kejahatan jalanan, geng, dan aksi anarkisme di wilayah Riau.
Wakapolda Riau, Brigjen Pol Hengki Haryadi, dalam amanatnya menegaskan bahwa perubahan zaman yang sangat cepat turut memengaruhi pola kejahatan di tengah masyarakat.
"Kita berada di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat. Pola interaksi dan pola konflik ikut berubah. Dampaknya, pola kejahatan pun berubah, baik bentuk maupun caranya," kata Hengki saat membuka pelatihan.
Brigjen Hengki menurutnya, kejahatan jalanan, geng, dan aksi anarkisme kerap muncul secara spontan, dipicu emosi, provokasi, hingga pengaruh media sosial. Karena itu, pendekatan penanganannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama.
"Kita dituntut lebih peka membaca situasi, lebih cepat mendeteksi tanda-tanda di lapangan, dan hadir sejak awal agar persoalan tidak berkembang menjadi lebih besar," ujarnya.
Patroli Jadi Tulang Punggung Pencegahan
Hengki menekankan bahwa Tim RAGA merupakan program unggulan Polda Riau dalam menjawab tantangan keamanan saat ini. Ia menyebut, patroli aktif menjadi kunci utama pencegahan.
"RAGA bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi wujud nyata kehadiran Polri di ruang-ruang rawan. Kita tidak menunggu kejadian terjadi, tetapi hadir lebih awal untuk mencegah dan meredam," tegasnya.
Menurut Hengki, patroli merupakan tulang punggung pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas).
"Dengan patroli yang aktif, konsisten, dan tepat sasaran, kita memperkecil kesempatan orang untuk berbuat kejahatan. Karena kejahatan terjadi ketika ada niat dan kesempatan," ungkap Hengki.
Jenderal berbintang satu itu meminta agar Tim RAGA tampil sebagai patroli yang terlihat kehadirannya dan terasa manfaatnya oleh masyarakat.
Dalam amanatnya, Wakapolda menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi prioritas utama. Penegakan hukum tetap penting, namun menjadi langkah terakhir atau ultimum remedium.
"Mencegah selalu lebih baik daripada menindak. Dengan pencegahan, kita bisa menyelamatkan masyarakat dari konflik dan melindungi generasi muda dari kekerasan," tegasnya.
Jika penegakan hukum harus dilakukan, lanjut Hengki, maka harus dijalankan secara profesional dan bertanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan winning hearts and minds atau memenangkan hati dan pikiran masyarakat.
"Polri yang didengar, dihormati, dan dipercaya akan jauh lebih efektif dibandingkan Polri yang hanya ditakuti," beber Hengki.
Menurut Hengki, seluruh upaya Tim RAGA bermuara pada kepercayaan publik. Setiap tindakan anggota di lapangan akan menjadi cerminan wajah Polri dan kehadiran negara di tengah masyarakat.
Di akhir amanatnya, ia mengingatkan seluruh peserta pelatihan untuk mengikuti kegiatan dengan disiplin, rasa bangga, dan penuh tanggung jawab.
"Bertindaklah tegas, tetapi tetap menjunjung prinsip humanisme sebagai prioritas. Kewenangan yang diberikan harus dimaknai sebagai bentuk profesionalitas Polri dalam menjalankan tugas," pungkasnya.