Pencarian

Ponsel Vs Tumbler: Mana yang Lebih Rentan Terkontaminasi di Meja Makan?

Selasa, 20 Januari 2026 • 06:39:42 WIB
Ponsel Vs Tumbler: Mana yang Lebih Rentan Terkontaminasi di Meja Makan?
Ilustrasi tumbler di atas meja makan.

RIAUAKTUAL (RA) - Larangan membawa tumbler di sejumlah restoran kerap memicu perdebatan. Sebagian konsumen menilainya berlebihan, sementara yang lain menganggapnya sebagai upaya menjaga kebersihan dan keamanan pangan. Dari sudut pandang ilmiah, isu ini sebenarnya tidak sesederhana boleh atau tidak membawa wadah minum sendiri. Risiko kontaminasi mikroba sangat dipengaruhi oleh kebiasaan penggunaan, frekuensi pembersihan, serta bagaimana benda-benda personal berinteraksi dengan makanan di ruang makan publik.

Dalam konteks ini, tumbler sering menjadi sorotan. Namun, pertanyaan penting lain muncul: apakah tumbler memang satu-satunya sumber risiko kontaminasi, atau ada benda sehari-hari lain seperti ponsel, yang justru luput dari perhatian, meski sering disentuh dan jarang dibersihkan?

Tumbler: Risiko Kontaminasi Langsung dalam Keamanan Pangan

Dalam konteks keamanan pangan, tumbler atau botol minum isi ulang berpotensi menjadi sumber kontaminasi mikroba karena bersentuhan langsung dengan mulut dan minuman. Risiko ini terutama meningkat bila tumbler jarang dibersihkan.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Food Protection dan Journal of Environmental Health menunjukkan bahwa sekitar 60-80 persen botol minum guna ulang mengandung bakteri, terutama pada tumbler yang jarang dicuci. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus spp. dan Streptococcus spp. dari kulit dan rongga mulut, serta bakteri coliform seperti Escherichia coli pada sekitar 5-20 persen tumbler sebagai indikator kebersihan yang kurang optimal.

Kontaminasi paling banyak ditemukan di bagian tutup, sedotan, dan ulir botol, area yang sulit dijangkau saat mencuci. Kondisi lembap akibat sisa minuman juga dapat mendukung pertumbuhan bakteri bila tumbler tidak dikeringkan dengan baik.

Perbedaan kebiasaan mencuci berpengaruh besar. Tumbler yang dicuci setiap hari menggunakan sabun tercatat memiliki tingkat kontaminasi bakteri lebih rendah hingga 50-70 persen dibandingkan tumbler yang hanya dibilas atau jarang dicuci. Temuan ini menunjukkan bahwa meski tumbler termasuk risiko paparan langsung, potensi tersebut sebenarnya dapat dikendalikan melalui kebiasaan kebersihan yang tepat.

Ponsel dan Barang Sehari-hari: Sumber Mikroba yang Sering Terlupakan

Jika pada tumbler risiko kontaminasi terutama muncul karena kontak langsung dengan mulut dan minuman, situasinya berbeda pada ponsel dan barang pribadi lain yang hampir selalu dibawa ke mana pun. Meski tidak bersentuhan langsung dengan makanan, ponsel kerap berperan sebagai perantara kontaminasi mikroba karena sering disentuh dan jarang dibersihkan.

Berbagai penelitian yang dipublikasikan di Journal of Environmental Health, BMC Infectious Diseases, dan American Journal of Infection Control menunjukkan bahwa sekitar 70-90 persen ponsel yang diperiksa terkontaminasi bakteri. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan meliputi Staphylococcus spp. dan Streptococcus spp. yang berasal dari kulit dan tangan, serta Enterococcus spp. dan Bacillus spp. dari lingkungan. Sejumlah studi juga melaporkan keberadaan bakteri indikator sanitasi seperti Escherichia coli pada sebagian ponsel-dalam kisaran 10-30 persen-yang mengindikasikan kemungkinan paparan dari lingkungan yang kurang higienis.

Temuan ini menegaskan bahwa ponsel berpotensi menjadi sumber kontaminasi silang, terutama ketika digunakan sebelum atau saat makan, lalu diletakkan di meja dan disentuh kembali tanpa cuci tangan. Berbeda dengan tumbler yang umumnya setidaknya pernah dicuci, ponsel justru menjadi benda personal yang paling jarang dibersihkan meski intensitas kontaknya sangat tinggi.

Risiko Berbeda, Jalur Paparan Berbeda

Meski jenis bakteri yang ditemukan pada tumbler dan ponsel kerap mirip, para peneliti menegaskan bahwa perbedaan utama keduanya terletak pada jalur paparannya. Inilah yang membuat risiko kontaminasi dari kedua benda tersebut tidak bisa disamakan, meskipun sama-sama berpotensi membawa mikroba. Dalam kajian keamanan pangan yang dibahas di Journal of Food Protection dan International Journal of Food Microbiology, risiko dibedakan antara paparan langsung melalui makanan atau minuman dan paparan tidak langsung melalui kontaminasi silang.

Pada tumbler, risiko muncul karena kontak langsung dengan mulut dan minuman. Jika tumbler terkontaminasi, bakteri dapat masuk ke tubuh tanpa perantara, sehingga dikategorikan sebagai direct exposure. Meski demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pengguna, dan dapat ditekan secara signifikan dengan mencuci tumbler setiap hari menggunakan sabun, termasuk membersihkan bagian tutup dan sedotan.

Sementara itu, pada ponsel, paparan bersifat tidak langsung. Sejumlah studi yang dipublikasikan di Journal of Environmental Health dan American Journal of Infection Control menjelaskan bahwa ponsel dapat berperan sebagai fomite, yakni benda mati yang memindahkan mikroorganisme melalui tangan ke permukaan lain, termasuk meja makan dan makanan. Penelitian di BMC Infectious Diseases bahkan menyebut ponsel sebagai mobile reservoir of microbes, dengan mekanisme utama perpindahan bakteri melalui jalur tangan-permukaan-mulut (hand-to-surface-to-mouth transmission). Pola penggunaan inilah yang membuat ponsel dipandang sebagai perantara kontaminasi silang, meski tidak bersentuhan langsung dengan makanan atau minuman.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa menilai risiko keamanan pangan tidak cukup hanya dengan melihat ada atau tidaknya bakteri, tetapi juga bagaimana bakteri tersebut berpindah ke tubuh manusia. Tanpa memahami jalur paparan tersebut, fokus pada satu benda saja berpotensi menimbulkan rasa aman semu dalam praktik kebersihan sehari-hari.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Video

Indeks

Berita Terkini

Indeks