Harga CPO Menguat Sepanjang 2025, Petani Sawit Belum Sepenuhnya Menikmati Dampak

Harga CPO Menguat Sepanjang 2025, Petani Sawit Belum Sepenuhnya Menikmati Dampak
Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr Gulat ME Manurung, didampingi Sekjen DPP Apkasindo, Dr Rino Afrino.

PEKANBARU (RA) - Harga crude palm oil (CPO) menunjukkan tren penguatan signifikan sepanjang tahun 2025. 

Data yang dihimpun Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP Apkasindo) mencatat rata-rata harga CPO internasional Rotterdam sepanjang 2025 mencapai Rp 20.637 per kilogram. 

Angka ini melonjak 19,65 persen dibandingkan rata-rata harga pada tahun 2024, mencerminkan kuatnya permintaan global serta dinamika pasar minyak nabati dunia.

Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr Gulat ME Manurung, didampingi Sekjen DPP Apkasindo, Dr Rino Afrino, menyebutkan bahwa sepanjang 2025 harga CPO Rotterdam mengalami fluktuasi yang cukup tajam. 

Harga tertinggi tercatat pada Maret 2025 dengan level Rp 22.712 per kilogram, sementara harga terendah terjadi pada Mei 2025 sebesar Rp 17.980 per kilogram. 

Menurutnya, pergerakan harga internasional ini menjadi barometer utama bagi pasar CPO domestik di Indonesia.

"Kenaikan harga CPO Rotterdam tersebut berdampak langsung terhadap harga CPO di dalam negeri, baik yang diperdagangkan melalui tender Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) maupun di Bursa CPO Indonesia atau Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX)," jelas Gulat. 

Sepanjang 2025, harga rata-rata CPO tender KPBN tercatat sebesar Rp 14.261 per kilogram, naik 13,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

Harga tertinggi di KPBN terjadi pada Maret 2025 yang mencapai Rp 14.995 per kilogram, sedangkan harga terendah kembali muncul pada Mei 2025 di level Rp 13.390 per kilogram.

Sementara itu, di Bursa CPO Indonesia ICDX, harga rata-rata CPO sepanjang 2025 berada di angka Rp 14.077 per kilogram atau meningkat 5,72 persen dibandingkan tahun 2024. 

Puncak harga tercatat pada Agustus 2025 sebesar Rp 14.663 per kilogram, sedangkan harga terendah terjadi pada Mei 2025 dengan nilai Rp 13.249 per kilogram. 

Gulat menilai perbedaan pola puncak harga antara KPBN dan ICDX menunjukkan adanya dinamika pasokan dan permintaan domestik yang cukup beragam.

Penguatan harga CPO di berbagai pasar tersebut turut berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) di 25 provinsi penghasil kelapa sawit. 

Secara nasional, rata-rata harga TBS sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp 2.974 per kilogram. Angka ini naik 18,68 persen dibandingkan rata-rata harga TBS pada tahun 2024, seiring dengan membaiknya harga CPO sebagai produk hilir utama.

Data Apkasindo mencatat harga TBS tertinggi sepanjang 2025 terjadi di Provinsi Riau pada Maret 2025 yang mencapai Rp 3.500 per kilogram. Sebaliknya, harga terendah tercatat di Provinsi Banten pada Juli 2025 dengan level Rp 2.264 per kilogram. 

Perbedaan harga antarwilayah ini mencerminkan variasi kebijakan penetapan harga, kualitas TBS, serta jarak dan akses ke pabrik kelapa sawit.

Meski demikian, Gulat menegaskan bahwa kenaikan harga CPO dan TBS secara agregat belum sepenuhnya dirasakan oleh petani sawit di lapangan. 

Apkasindo mencatat lebih dari 90 persen petani sawit masih menerima harga TBS di bawah harga penetapan resmi di tingkat provinsi.

Disparitas harga tersebut cukup signifikan, mencapai sekitar Rp 300 per kilogram bagi petani bermitra, sementara petani swadaya atau nonmitra rata-rata mengalami selisih harga yang lebih besar, yakni sekitar Rp 750 per kilogram di bawah harga penetapan.

"Kondisi ini menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan pembinaan di lapangan, serta sistem kemitraan yang belum berjalan optimal," ujar Dr Gulat. 

Dia menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, pabrik kelapa sawit, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan implementasi harga TBS sesuai regulasi, agar kenaikan harga CPO benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani sawit di seluruh Indonesia.

#Sawit

Follow WhatsApp Channel RiauAktual untuk update berita terbaru setiap hari
Ikuti RiauAktual di GoogleNews

Sawit

Index

Berita Lainnya

Index