RIAUAKTUAL (RA) - Metode memasak kukus dan rebus diperkirakan masih akan menjadi pilihan populer di tahun 2026, terutama bagi mereka yang ingin menurunkan atau menjaga berat badan. Tren ini dinilai sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat dan dampak makanan tinggi lemak terhadap kesehatan.
Spesialis gizi dr Nathania Sheryl Sutisna, SpGK dari RS Abdi Waluyo, menilai masyarakat kini semakin teredukasi dan memahami makanan yang digoreng, terutama gorengan yang dimasak dengan cara deep fried, mengandung kalori jauh lebih tinggi dibandingkan metode memasak lain.
Meski demikian, dr Nathania mengingatkan konsep kukus dan rebus sering disalahartikan. Banyak orang mengira cukup mengonsumsi ubi, singkong, atau kentang rebus saja sudah cukup sehat. Padahal, jenis makanan tersebut hanya menyumbang karbohidrat dan belum memenuhi kebutuhan gizi secara seimbang.
Ia menekankan, makanan kukus dan rebus akan jauh lebih optimal jika dikombinasikan dengan sumber protein.
"Jadi, misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus. Nah, itu jauh lebih bagus. Jadi, bukan sekedar kukus dan rebus. Tapi harus ada protein," ucap dr Nathania dikutip dari detikcom.
Dari sisi pengendalian berat badan, metode kukus dan rebus dinilai lebih menguntungkan dibandingkan menggoreng. Proses penggorengan dapat meningkatkan kalori makanan karena penyerapan minyak, terutama pada makanan yang digoreng dengan cara dicelupkan penuh ke dalam minyak panas.
Hal inilah yang membuat makanan gorengan lebih padat kalori meski porsinya terlihat sama.
"Betul. Itu paling bagus (bagi orang yang ingin menjaga berat badannya) karena kalo digoreng itu kalorinya bisa naik, wah tinggi banget. Bisa naik sampai 40 persen," lanjutnya.
"Karena minyaknya masuk kan ke dalamnya. Apalagi kalau gorengannya itu yang nyemplung semua," lanjutnya.
Senada, spesialis gizi klinik dr Yohannessa Wulandari, MGizi, SpGK dari RS St Carolus Salemba mengatakan makanan kukus bukan sekadar tren sesaat, melainkan alternatif yang relatif mudah dan praktis bagi orang yang menjalani program fat loss. Selain sederhana, metode ini juga fleksibel karena tetap bisa menggunakan bumbu sehingga makanan tidak harus terasa hambar.
Namun, efektivitas makanan kukus dan rebus dalam menjaga berat badan sangat bergantung pada jenis makanan dan porsinya. Kukusan yang hanya berisi karbohidrat tanpa protein dan sayur tetap berisiko membuat asupan gizi tidak seimbang. Karena itu, komposisi makanan tetap menjadi kunci utama.
Dalam satu kali makan, dr Yohannessa mencontohkan kombinasi sederhana seperti ubi atau kentang rebus dalam porsi sesuai kebutuhan kalori harian, ditambah telur rebus atau sumber protein lain seperti kacang kedelai atau edamame, serta sayuran kukus. Pola ini dinilai cukup praktis, mudah diterapkan, dan tetap mendukung pengendalian berat badan.
"Nah kalau misalnya seperti itu sih ya cukup baik ya cukup disarankan gitu," kata dr Yohannessa.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya variasi cara memasak agar pola makan sehat bisa dijalani secara berkelanjutan. Meskipun kukus dan rebus merupakan pilihan yang baik, tidak berarti semua makanan harus selalu diolah dengan cara tersebut.
Mengurangi konsumsi lemak jenuh dan menghindari metode deep fried bisa dilakukan dengan berbagai alternatif memasak agar pola makan tetap seimbang dan tidak membosankan.
Dengan kombinasi yang tepat dan porsi yang sesuai, makanan kukus dan rebus dinilai masih relevan sebagai bagian dari pola makan sehat di 2026, terutama bagi mereka yang ingin menjaga atau menurunkan berat badan secara realistis dan berkelanjutan.
"Tapi dalam kita menjalankan program pola makan yang sehat itu kan atau apalagi kalau targetnya fat loss ya tentunya mungkin variasi dari cara mengolah itu penting. Karena supaya lebih sustained kan maksudnya lebih kayak habit yang tidak bikin bosan gitu," lanjutnya.
"Jadi nggak harus misalnya pagi siang sore setiap hari kukus, enggak, boleh saja alternatif yang lain. Tapi salah satunya mengurangi lemak jenuh dengan cara tidak deep fried gitu cari alternatif yang lain," lanjutnya lagi.
