Viral di Sosmed, Skin Booster Kolagen Korsel Ini Pakai Jaringan Kuliat Mayat

Kamis, 17 September 2026 | 06:02:24 WIB
Ilustrasi skin booster.

RIAUAKTUAL (RA) - Skin booster yang disebut menggunakan bahan dari tubuh orang yang telah meninggal dunia tengah ramai diperbincangkan. Perawatan tersebut diketahui merujuk pada Elravie Re2O, produk injeksi anti-aging asal Korea Selatan yang menggunakan jaringan kulit manusia dari donor yang telah meninggal dunia.

Dikutip dari laman Metro, secara sederhana, mantan dokter unit gawat darurat yang kini menjadi praktisi estetika, Dr Taylor-Davies menjelaskan bahwa bahan tersebut berasal dari jaringan kulit donor yang telah meninggal dunia dan telah memberikan persetujuan untuk penggunaan jaringannya.

Jaringan tersebut kemudian diproses untuk menghilangkan sel dan materi genetik donor, sementara protein struktural seperti kolagen dan elastin tetap dipertahankan. Setelah itu, jaringan dimurnikan, disterilkan, dan diolah menjadi partikel berukuran sangat kecil yang dapat digunakan melalui injeksi.

Dalam istilah medis, bahan tersebut disebut processed human dermal matrix. Istilah ini dinilai lebih tepat untuk menggambarkan bahan yang digunakan dibandingkan menyebutnya sebagai "kolagen dari tubuh orang yang telah meninggal".

"Yang digunakan hanyalah jaringan kulit yang seluruh selnya telah dihilangkan untuk mencegah terjadinya penolakan oleh sistem imun dan efek samping berupa alergi," kata Kim Han-saem, dokter kulit sekaligus kepala DoD Dermatology Clinic di Seoul, dikutip dari Bloomberg.

Dikutip dari laman Miami Herald, Dr Ben Taylor-Davies, menjelaskan bahwa jaringan dari jenazah tersebut diproses untuk menghilangkan sel dan materi genetik donor. Sementara itu, protein struktural seperti kolagen dan elastin tetap dipertahankan. Jaringan tersebut kemudian dimurnikan, disterilkan, dan diolah menjadi partikel berukuran sangat kecil agar dapat disuntikkan.

"Peneliti melaporkan adanya perbaikan pada kepadatan dan elastisitas kulit, kerutan, pori-pori, serta hidrasi setelah perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mungkin mendapatkan kulit yang lebih halus, kencang, dan terhidrasi dengan tekstur yang secara keseluruhan lebih baik," ujar Dr Taylor-Davies melalui Metro.

Namun, penelitian tersebut masih memiliki sejumlah keterbatasan. Studi hanya berlangsung selama 20 minggu, melibatkan jumlah peserta yang relatif sedikit, dan dilakukan oleh peneliti yang terlibat dalam pengembangan produk.

Terkini

Terpopuler