RIAUAKTUAL (RA) - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama organ pernapasan. Paparan asap dalam konsentrasi tinggi dan dalam waktu yang cukup lama dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan pada paru-paru, bahkan disebut dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap risiko kanker paru.
Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi, dr Linda Masniari, SpP(K), mengatakan asap akibat kebakaran dapat membawa berbagai zat yang berbahaya apabila terus-menerus terhirup oleh masyarakat.
Menurutnya, paparan asap karhutla dengan konsentrasi tinggi dapat memicu berbagai masalah kesehatan pada paru-paru. Gangguan tersebut dapat muncul mulai dari keluhan pernapasan hingga kondisi yang lebih serius.
"Kebakaran asap itu bisa menyebabkan bronkitis, kemudian misalnya PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), terakhir bisa akut cedera paru," kata dr Linda, seperti dilansir dari detikHealth.
Bronkitis dan PPOK dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan dan membuat penderitanya mengalami kesulitan bernapas. Sementara itu, cedera paru akut dapat terjadi ketika organ pernapasan mengalami kerusakan akibat paparan yang berat.
Tak hanya menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka pendek, paparan asap yang berlangsung dalam waktu lama juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang lebih serius.
"Dan kalau misalnya dia terpapar lama, bisa menyebabkan kanker paru. Karena salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan dan lahan," sambungnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap tidak hanya perlu dilihat dari keluhan yang muncul saat kualitas udara memburuk. Paparan berulang dan berkepanjangan juga menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di wilayah yang kerap terdampak karhutla.
Bukan Hanya Asap Karhutla
Terlepas dari karhutla, dr Linda menjelaskan bahwa paparan asap dari berbagai sumber lain di lingkungan sekitar juga dapat memberikan dampak terhadap kesehatan paru-paru.
Salah satunya adalah kebiasaan membakar sampah. Aktivitas yang terlihat sederhana tersebut ternyata dapat menghasilkan asap yang mengandung berbagai partikel dan zat yang berpotensi mengganggu sistem pernapasan apabila terus-menerus terhirup.
"Misalnya orang-orang di komplek atau di perumahan yang suka bakar sampah, itu juga bisa jadi pencetus terjadinya kanker paru. Jadi semua faktor lingkungan, misalnya asap rokok, asap kendaraan bermotor, kebakaran lahan," katanya.
Dengan demikian, risiko terhadap kesehatan paru-paru tidak hanya berasal dari satu sumber paparan. Asap rokok, asap kendaraan bermotor, pembakaran sampah hingga asap akibat kebakaran hutan dan lahan sama-sama perlu menjadi perhatian.
Di tengah meningkatnya ancaman karhutla di sejumlah wilayah, masyarakat pun perlu lebih waspada terhadap paparan kabut asap, khususnya ketika kondisi udara sedang memburuk. Mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat serta menghindari sumber asap lain menjadi langkah penting untuk membantu mengurangi paparan terhadap saluran pernapasan.
Bagi masyarakat yang mengalami keluhan pernapasan, terutama ketika paparan asap berlangsung cukup lama, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan dan perlu mendapatkan perhatian medis.