JAKARTA (RA) - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad, menegaskan bahwa kepemimpinan baru Bank Indonesia (BI) ke depan memikul tanggung jawab besar.
Kebijakan moneter bank sentral tidak boleh hanya terpaku pada menjaga stabilitas ekonomi semata.
Kebijakan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, menciptakan lapangan kerja, serta mengakselerasi pengentasan kemiskinan di tanah air.
"Pertumbuhan ekonomi itu berkualitas jika diukur dengan berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, serta seberapa besar angka penurunan kemiskinan dan pengangguran yang terjadi di masyarakat," ujar Kamrussamad dalam Dialektika Demokrasi bertema 'Kepemimpinan Baru Bank Indonesia: Menakar Arah Kebijakan Moneter dan Stabilitas Ekonomi Nasional' di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Kamrussamad juga mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang telah mengusulkan tiga nama calon Gubernur BI kepada DPR RI, yaitu Destri Damayanti, Aida S. Budiman, dan Solikin M. Juhro. Menurutnya, keputusan Presiden ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menjaga dan menghormati independensi bank sentral.
"Presiden menjaga dan menghormati independensi Bank Indonesia dengan mengusulkan figur-figur teknokrat yang selama ini berasal dari dalam (internal BI)," jelasnya.
Kamrussamad memaparkan bahwa ketiga kandidat tersebut memiliki rekam jejak dan jam terbang yang sangat mumpuni. Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro tercatat telah mendedikasikan karier mereka di BI selama lebih dari 30 tahun.
Sementara Destri Damayanti telah berkontribusi memperkuat jajaran bank sentral selama sekitar satu dekade terakhir.
Pengalaman panjang ini dinilai menjadi modal krusial bagi kepemimpinan BI yang baru dalam merumuskan eksekusi kebijakan moneter yang presisi.
Khususnya saat Indonesia harus menghadapi volatilitas ekonomi global sekaligus memenuhi kebutuhan domestik yang mendesak.
Komisi XI DPR RI berharap proses seleksi kepemimpinan baru ini dapat berjalan lancar sehingga Bank Indonesia terus menjadi jangkar stabilitas yang andal sekaligus motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
Dalam kesempatan sama, Direktur Eksekutif IPR Iwan Setiawan berpendapat tantangan Bank Indonesia ke depan tak hanya berkaitan dengan menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, tetapi juga kemampuan bank sentral merespons gejolak geopolitik global yang berpotensi menekan perekonomian nasional.
"Karena itu, Gubernur BI yang baru dinilai membutuhkan pengalaman, ketangguhan, dan ruang independensi dalam mengambil kebijakan moneter, " katanya.